Pages

Contoh Penelitian Tindakan Kelas Sekolah Dasar.

Contoh Penelitian Tindakan Kelas Sekolah Dasar






Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini


Atau Cek FB Kami KLIK DISIN



Belakangan ini Penelitian Tindakan Kelas (PTK) semakin menjadi trend untuk dilakukan oleh para profesional sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan mutu di berbagai bidang. Awal mulanya, PTK, ditujukan untuk mencari solusi terhadap masalah sosial (pengangguran, kenakalan remaja, dan lain-lain) yang berkembang di masyarakat pada saat itu. PTK dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap masalah tersebut secara sistematis. Hal kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi masalah tersebut. Baca lebih lanjut tentang tujuan PTK.
Beberapa cara dan metode membuat penelitian tindakan kelas bisa berbeda-beda tergantung masalah yang sedang diteliti, meskipun begitu didalam membuat laporan PTK tentu masih memiliki etika dan cara-cara dalam pelaporan hasil penelitian tersebut.
Pada garis besarnya proses cara pembuatan laporan PTK sebagai berikut:
  1. Bab pendahuluan yang memuat berbagai latar belakang masalah yang diteliti.
  2. Bab konkrit masalah kemudian tujuan ptk serta manfaat dengan adanya ptk itu nanti.
  3. Bab yang berisikan masalah serta dalam bentuk kerangka secara teoritis.
  4. Bab metode-metode yang dipakai dalam membuat sebuah ptk.
  5. Penutup.
Pada umumnya detail dalam pembuatan laporan PTK berisikan sebagai berikut;
  1. Halaman judul, pengesahan, pernyataan, kata pengantar, abstrak, daftar isi, tabel-tabel, dll disesuiakan dengan kebutuhan anda.
  2. BAB PENDAHULUAN, yang meliputi; latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat PTK.
  3. BAB KAJIAN PUSTAKA,  misalnya; media pembelajaran, alat pembelajaran, model tes, teori-teori, dll
  4. BAB PELAKSANAAN PERBAIKAN,  misalnya; lokasi dan subjek penelitian (seperti tempat penelitian, waktu penelitian, dan subjek penelitian.), rancangan penelitian, alat pengumpul data, teknik analisis data, dll
  5. BAB HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN, misalnya hasil penelitian siklus 1, hasil penelitian siklus 2, dst. dilanjutkan dengan pembahasan.
  6. BAB PENUTUP, yang berisikan kesimpula, saran-saran, dll
  7. Daftar pustaka
  8. Lampiran-lampiran
Berikut ini ada beberapa contoh ptk Pendidikan Agama Islam, IPA, IPS, Matematika, Bahasa Indonesia yang bisa anda download:
  1. CONTOH PTK Penelitian Tindakan Kelas dan Karya Ilmiah
  2. PTK Pendidikan Agama Islam SD Negeri Sumberejo 2 download di sini
  3. PTK IPA – Password: www.adelia.web.id
  4. PTK IPS – Password: www.adelia.web.id
  5. PTK Matematika – Password: www.adelia.web.id
  6. PTK Bahasa Indonesia – Password: www.adelia.web.id
Semoga bermanfaat.

Contoh Proposal UNTUK PTK Pendidikan

Contoh Proposal UNTUK PTK Pendidikan







Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini


Atau Cek FB Kami KLIK DISIN


A. Judul Penelitian
Penggunaan Pendekatan Pragmatik dalam Upaya Meningkatkan Keterampilan Berbicara bagi Siswa SMPN 3 Tarakan Kalimantan Timur
oleh Yones P
B. Bidang Kajian
Penelitian ini meliputi Bidang Kajian sebagai berikut:
1 Keterampilan Berbicara dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP.
2 Pendekatan Pragmatik dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP.
C. Pendahuluan
Salah satu aspek keterampilan berbahasa yang sangat penting peranannya dalam upaya melahirkan generasi masa depan yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya adalah keterampilan berbicara. Dengan menguasai keterampilan berbicara, peserta didik akan mampu mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara cerdas sesuai konteks dan situasi pada saat dia sedang berbicara. Keterampilan berbicara juga akan mampu membentuk generasi masa depan yang kreatif sehingga mampu melahirkan tuturan atau ujaran yang komunikatif, jelas, runtut, dan mudah dipahami. Selain itu, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang kritis karena mereka memiliki kemampuan untuk mengekspresikan gagasan, pikiran, atau perasaan kepada orang lain secara runtut dan sistematis. Bahkan, keterampilan berbicara juga akan mampu melahirkan generasi masa depan yang berbudaya karena sudah terbiasa dan terlatih untuk berkomunikasi dengan pihak lain sesuai dengan konteks dan situasi tutur pada saat dia sedang berbicara.
Namun, harus diakui secara jujur, keterampilan berbicara di kalangan siswa SMP, khususnya keterampilan berbicara, belum seperti yang diharapkan. Kondisi ini tidak lepas dari proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah yang dinilai telah gagal dalam membantu siswa terampil berpikir dan berbahasa sekaligus. Yang lebih memprihatinkan, ada pihak yang sangat ekstrim berani mengatakan bahwa tidak ada mata pelajaran Bahasa Indonesia pun siswa dapat berbahasa Indonesia seperti saat ini, asalkan mereka diajari berbicara, membaca, dan menulis oleh guru (Depdiknas 2004:9).
Sementara itu, hasil observasi empirik di lapangan juga menunjukkan fenomena yang hampir sama. Keterampilan berbicara siswa SMP berada pada tingkat yang rendah; diksi (pilihan kata)-nya payah, kalimatnya tidak efektif, struktur tuturannya rancu, alur tuturannya pun tidak runtut dan kohesif.
Demikian juga keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMPN 3 Tarakan, Kalimantan Timur. Berdasarkan hasil observasi, hanya 20% (8 siswa) dari 40 siswa yang dinilai sudah terampil berbicara dalam situasi formal di depan kelas. Indikator yang digunakan untuk mengukur keterampilan siswa dalam berbicara, di antaranya kelancaran berbicara, ketepatan pilihan kata (diksi), struktur kalimat, kelogisan (penalaran), dan kontak mata.
Paling tidak, ada dua faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat keterampilan siswa dalam berbicara, yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Yang termasuk faktor eksternal, di antaranya pengaruh penggunaan bahasa Indonesia di lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam proses komunikasi sehari-hari, banyak keluarga yang menggunakan bahasa ibu (bahasa daerah) sebagai bahasa percakapan di lingkungan keluarga. Demikian juga halnya dengan penggunaan bahasa Indonesia di tengah-tengah masyarakat. Rata-rata bahasa ibulah yang digunakan sebagai sarana komunikasi. Kalau ada tokoh masyarakat yang menggunakan bahasa Indonesia, pada umumnya belum memperhatikan kaidah-kaidah berbahasa secara baik dan benar. Akibatnya, siswa tidak terbiasa untuk berbahasa Indonesia sesuai dengan konteks dan situasi tutur.
Dari faktor internal, pendekatan pembelajaran, metode, media, atau sumber pembelajaran yang digunakan oleh guru memiliki pengaruh yang cukup signifikan terhadap tingkat keterampilan berbicara bagi siswa SMP. Pada umumnya, guru bahasa Indonesia cenderung menggunakan pendekatan yang konvensional dan miskin inovasi sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara berlangsung monoton dan membosankan. Para peserta tidak diajak untuk belajar berbahasa, tetapi cenderung diajak belajar tentang bahasa. Artinya, apa yang disajikan oleh guru di kelas bukan bagaimana siswa berbicara sesuai konteks dan situasi tutur, melainkan diajak untuk mempelajari teori tentang berbicara. Akibatnya, keterampilan berbicara hanya sekadar melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang rasional dan kognitif belaka, belum manunggal secara emosional dan afektif. Ini artinya, rendahnya keterampilan berbicara bisa menjadi hambatan serius bagi siswa untuk menjadi siswa yang cerdas, kritis, kreatif, dan berbudaya.
Dalam beberapa penelitian ditemukan bahwa pengajaran bahasa Indonesia telah menyimpang jauh dari misi sebenarnya. Guru lebih banyak berbicara tentang bahasa (talk about the language) daripada melatih menggunakan bahasa (using language). Dengan kata lain, yang ditekankan adalah penguasaan tentang bahasa (form-focus). Guru bahasa Indonesia lebih banyak berkutat dengan pengajaran tata bahasa, dibandingkan mengajarkan kemampuan berbahasa Indonesia secara nyata (Nurhadi, 2000).
Jika kondisi pembelajaran semacam itu dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin keterampilan berbicara di kalangan siswa SMP akan terus berada pada aras yang rendah. Para siswa akan terus-menerus mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara lancar, memilih kata (diksi) yang tepat, menyusun struktur kalimat yang efektif, membangun pola penalaran yang masuk akal, dan menjalin kontak mata dengan pihak lain secara komunikatif dan interaktif pada saat berbicara.
Dalam konteks demikian, diperlukan pendekatan pembelajaran keterampilan berbicara yang inovatif dan kreatif, sehingga proses pembelajaran bisa berlangsung aktif, efektif, dan menyenangkan. Siswa tidak hanya diajak untuk belajar tentang bahasa secara rasional dan kognitif, tetapi juga diajak untuk belajar dan berlatih dalam konteks dan situasi tutur yang sesungguhnya dalam suasana yang dialogis, interaktif, menarik, dan menyenangkan. Dengan cara demikian, siswa tidak akan terpasung dalam suasana pembelajaran yang kaku, monoton, dan membosankan. Pembelajaran keterampilan berbicara pun menjadi sajian materi yang selalu dirindukan dan dinantikan oleh siswa.
Penelitian ini akan difokuskan pada upaya untuk mengatasi faktor internal yang diduga menjadi penyebab rendahnya tingkat kemampuan siswa klas VII-A SMPN 3 Tarakan, Kalimantan Timur, dalam berbicara, yaitu kurangnya inovasi dan kreativitas guru dalam menggunakan pendekatan pembelajaran sehingga kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara berlangsung monoton dan
membosankan. Salah satu pendekatan pembelajaran yang diduga mampu mewujudkan situasi pembelajaran yang kondusif; aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan adalah pendekatan pragmatik. Melalui pendekatan pragmatik, siswa diajak untuk berbicara dalam konteks dan situasi tutur yang nyata dengan menerapkan prinsip pemakaian bahasa secara komprehensif.
Dalam pendekatan pragmatik, guru berusaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan berbahasa di dalam konteks nyata dan situasi yang kompleks. Guru juga memberikan pengalaman kepada siswa melalui pembelajaran terpadu dengan menggunakan proses yang saling berkaitan dalam situasi dan konteks komunikasi alamiah senyatanya.
Prinsip-prinsip pemakaian bahasa yang diterapkan dalam pendekatan pragmatik, yaitu (1) penggunaan bahasa dengan memperhatikan aneka aspek situasi ujaran; (2) penggunaan bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip kesantunan; (3) penggunaan bahasa dengan memperhatikan prinsip-prinsip kerja sama; dan (4) penggunaan bahasa dengan memperhatikan faktor-faktor penentu tindak komunikatif.
Melalui prinsip-prinsip pemakaian bahasa semacam itu, pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara diharapkan mampu membawa siswa ke dalam situasi dan konteks berbahasa yang sesungguhnya sehingga keterampilan berbicara mampu melekat pada diri siswa sebagai sesuatu yang rasional, kognitif, emosional, dan afektif.
Melalui penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara, para siswa SMP akan mampu menumbuhkembangkan potensi intelektual, sosial, dan emosional yang ada dalam dirinya, sehingga kelak mereka mampu berkomunikasi dan berinteraksi sosial secara matang, arif, dan dewasa. Selain itu, mereka juga akan terlatih untuk mengemukakan gagasan dan perasaan secara cerdas dan kreatif, serta mampu menemukan dan menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Yang tidak kalah penting, para siswa juga akan mampu berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, mampu menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, serta mampu memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan.
D. Perumusan dan Pemecahan Masalah
1.Perumusan Masalah
1.1 Langkah-langkah apa saja yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi siswa SMP?
1.2 Apakah penggunaan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran bahasa Indonesia dapat meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP?
2. Pemecahan Masalah
3. Tujuan Penelitian
3.1 untuk mengidentifikasi langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara bagi siswa SMP;
  1. untuk memaparkan hasil keterampilan berbicara siswa SMP setelah pendekatan pragmatik digunakan dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia.
4. Manfaat Penelitian
Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
4.1 Para guru bahasa Indonesia dapat mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam menggunakan pendekatan pragmatik dalam pembelajaran keterampilan berbicara, khususnya bagi siswa SMP;
4.2 Keterampilan berbicara siswa kelas VII-A SMPN 3 Tarakan, Kalimantan Timur, yang menjadi subjek penelitian ini mengalami peningkatan yang signifikan;
4..3 Para guru bahasa Indonesia SMP diharapkan menggunakan pendekatan pragmatik dalam menyajikan aspek keterampilan berbicara, bahkan guru bahasa Indonesia di tingkat satuan pendidikan yang lebih rendah, seperti SD/MI, atau yang lebih tinggi, seperti SMA/SMK/MA, diharapkan juga menggunakan hasil penelitian ini dalam upaya melakukan inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia.
E. Kajian Teori dan Pustaka
Untuk mengkaji penggunaan pendekatan pragmatik dalam meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP digunakan teori yang berkaitan dengan keterampilan berbicara dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMP dan teori yang berkaitan dengan pendekatan pragmatik sebagai inovasi tindakan yang dilakukan dalam upaya meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa SMP.
I.1 Keterampilan berbicara dalam Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMP Saat ini, arah pembinaan bahasa Indonesia di sekolah dituangkan dalam tujuan pengajaran bahasa Indonesia yang secara eksplisit dinyatakan dalam kurikulum. Secara garis besar, tujuan utama pengajaran bahasa Indonesia adalah agar anak-anak dapat berbahasa Indonesia dengan baik. Itu berarti agar anak-anak mampu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dengan baik menggunakan media bahasa Indonesia (Samsuri, 1987 dan Sadtono, 1988).
Melalui harapan tersebut, pengajaran bahasa Indonesia dikelola agar anak-anak memiliki keterampilan-keterampilan praktis berbahasa Indonesia, seperti
  1. Menulis laporan ilmiah atau laporan perjalanan
  2. Membuat surat lamaran pekerjaan
  3. Berbicara di depan umum atau berdiskusi
  4. Berpikir kritis dan kreatif dalam membaca
  5. Membuat karangan-karangan bebas untuk majalah, koran, surat-surat pembaca, brosur-brosur, dan sebagainya. Apa pun bahan atau aturan-aturan bahasa yang diberikan kepada anak-anak, dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan praktis semacam itu.
Dalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar Dan Menengah, khususnya tentang standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran Bahasa Indonesia SMP/MTs secara eksplisit dinyatakan bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya.
Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global.
Dengan standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia semacam itu diharapkan:
  1. Peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri;
  2. Guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik
dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar;
  1. Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya;
  2. Orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah;
  3. Sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan
keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia; dan
(6) Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan
kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.
Adapun tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah agar peserta didik memiliki kemampuan:
  1. berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis;
  2. menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara;
  3. memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan;
  4. menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial;
  5. menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi
pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa;
  1. menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Sedangkan, ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakupi komponen- kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek:
(1) mendengarkan;
(2) berbicara;
(3) membaca; dan
(4) menulis.

Proses PTK

Proses PTK





Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini


Atau Cek FB Kami KLIK DISIN


A. Proses PTK: Implementasi

Guru yang melakukan penelitian tindakan kelas adalah dia yang berfungsi sebagai: 
  • Pengamat - mengamati terus menerus apa yang terjadi di ruang kelas, tidak semata-mata mencari informasi baru namun juga berfikir tentang informasi yang telah mereka punyai
  • Penanya - masalah yang terjadi di ruang kelas dapat dijadikan sebagai pertanyaan dan dapat dijadikan bahan untuk diinvestigasi. Apapun yang terjadi di ruang kelas dapat dilihat atau dianggap sebagai data yang haruslah dimengerti. 
  • Pembelajar - selama proses penelitian, fokus menjadi berubah dari apa yang telah diajarkan menjadi apa yang telah dipelajari. Pengajaran menjadi sebuah proses untuk memodelkan pembelajaran. 
  • Guru yang lebih utuh - selama proses penelitian, guru mengkombinasikan antara konsep memahami dan bertindak
Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan kritis yang seharusnya dijawab pada saat akan melakukan PTK: 
  • Apakah hubungan antara perubahan sosial dengan perubahan personal? 
  • Bagaimanakah cara guru menjadi "penantang" tidak hanya asumsi atau anggapan pribadi yang dibangunnya, namun juga menjadi "penantang" lingkungan sosial yang seringkali membingkai dan membentuk pekerjaannnya? 
  • Apa saja faktor-faktor penghambat seorang guru yang sedang mencoba menjadi "penantang"? 
  • Bagaimana cara melakukan kolaborasi? 
  • Bagaimana cara melakukan penyelidikan kolaboratif dengan cara yang demokratis yang bersifat setara atau egaliter dan sedapat mungkin meminimalisi hal-hal yang bersifat partisipatoris? 
  • Apakah hubungan antara refleksi, tindakan, pengajaran, dan penelitian? 
  • Jika hendak melakukan PTK, bagaimana cara memulainya? 
Jika pertanyaan-pertanyaan di atas dapat Anda jawab, maka mari kita lanjutkan ke bagian selanjutnya, yaitu bagaimana cara memulai penelitian tindakan kelas. 

B. Memulai Penelitian Tindakan Kelas (PTK) 

Hal yang sangat fundamental ketika kita akan melakukan hal yang serius, seperti penelitian misalnya, adalah dengan cara memfokuskan diri kita terhadap apa yang akan kita kerjakan. Untuk memperoleh fokus ketika akan melakukan PTK, mulailah dengan bertanya pada diri Anda sendiri hal-hal sebagai berikut:
  • Apa yang sedang terjadi sekarang? 
  • Apakah yang sedang terjadi merupakan permasalahan yang butuh diambil tindakan? 
  • Bagaimana saya menyelesaikan permasalahan tersebut? 
Berikut adalah contoh-contoh pernyataan dimana ia akan membantu Anda dalam memulai PTK:
  • Saya akan memperbaiki dan meningkatkan .......
  • Beberapa murid ternyata tidak antusias dalam ......
  • Apa yang dapat saya lakukan untuk mengubah dan memperbaiki situasi? 
  • Saya kurang faham atau dibingungkan oleh....
  • ....... menurut saya adalah sumber dari gangguan dalam proses pembelajaran. Apa yang mestinya saya lakukan? 
  • Saya mempunyai gagasan tentang ..... yang akan saya terapkan di kelas
  • Saya mempunyai pengalaman yang cukup dalam menerapkan model pembelajaran ... . Dapatkah saya menerapkannya pada kurikulum baru? 
  • Apakah yang saya lakukan sudah sesuai dengan......? 
Contoh-contoh masalah, pertanyaan dan atau perhatian yang dapat dijadikan bahan untuk membuat PTK adalah sebagai berikut:
  • Banyak guru yang saya temui membicarakan model pembelajaran inquiry. Murid-murid saya cenderung lebih menyukai mengerjakan hal-hal dimana jawaban atas hal-hal tersebut belumlah diketahui. Bagaimana cara saya mengubah penekanan pembelajaran ke model inquiry? Bagaimana cara saya membuat pertanyaan-pertanyaan dalam kelas yang lebih berorientasi ke model inquiry. 
  • Murid-murid tampaknya tidak terlalu tertarik untuk mengambil inisiatif atas tugas belajar mereka. Bagaimana cara saya mendorong mereka untuk lebih bertanggung jawab terhadap tugas belajar mereka? 
  • Bagaimana cara saya mempelajarai kelas untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam mengenai bagaimana murid-murid mengkonsep dan menghargai pembelajaran? Bagaimana cara saya mendiskusikan hal tersebut dengan rekan guru yang lain atau kepala sekolah? 
Setelah melakukan penyelidikan awal tentang hal-hal tersebut di atas, langkah berikutnya adalah melakukan refleksi terhadap situasi atau berusaha memperoleh pemahaman tentang sumber permasalahan dan kemudian mengembangkan rencana tindakan yang meliputi gambaran atau deskripsi tentang praktik pengajaran yang harus diubah dan bagaimana cara mengubahnya. Perencanaan tersebut kemudian diimplementasikan dan efek dari tindakan kemudian diobservasi dan direfleksikan.

Refleksi yang merupakan bagian tak terpisahkan dari penelitian tindakan kelas adalah kemampuan untuk menganalisis tindakan dan keputusan dengan berfokus pada apa yang telah, sedang, dan akan dilakukan serta apa yang telah Anda pelajari yang dapat Anda terapkan dalam situasi yang baru.

Begitulah cara sederhana untuk memulai penelitian tindakan kelas atau PTK. Pesan sederhana yang dapat dipetik dari hal-hal di atas adalah memulai dengan ide atau hal-hal yang abstrak sebelum dilanjutkan dengan langkah-langkah yang lebih konkrit. Ide atau gagasan memang sesuatu yang sangat mendasar. Jika ia telah ditemukan, maka tentu saja akan lebih mudah untuk melangkah ke hal-hal selanjutnya yang tentu saja bersifat teknis yang akan dilanjutkan pada sesi selanjutnya.

C. Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) 

Setelah Anda menemukan ide yang hendak Anda implementasikan, maka langkah-langkah berikut ini perlu diperhatikan dalam melakukan PTK:
Langkah pertama tentu saja adalah mengumpulkan dan mengumpulkan ide serta kemudian merefleksikan ide tersebut dalam penelitian seperti yang telah diuraikan di atas. Ia memberikan pandangan awal terhadap situasi yang menjadi perhatian Anda. Ia juga membantu Anda mempersiapkan rancangan rencana tindakan. 
Pada tahap ini, Anda seharusnya mengumpulkan informasi yang dapat membantu Anda memperoleh pemahaman yang jelas terhadap praktik mengajar yang sedang Anda lakukan yang mungkin masih kurang memuaskan dan hendak Anda perbaiki. Daftar pertanyaan berikut dapat membantu Anda dalam memperoleh pemahaman tersebut:
  • Apa saja teori dan prinsip pendidikan yang melatarbelakangi pengajaran Anda selama ini? 
  • Mengapa Anda menggunakan model atau metode pembelajaran yang selama ini Anda terapkan? 
  • Apakah terdapat peraturan yang mengharuskan Anda menerapkan cara mengajar Anda selama ini? 
  • Apakah cara mengajar yang selama ini Anda terapkan sudah sesuai dengan gagasan dan penilaian pribadi Anda mengenai pembelajaran? 
  • Apakah konsekuensi yang akan Anda terima jika Anda meninggalkan praktik pengajaran seperti yang telah Anda terapkan selama ini? 
Tahap ini juga merupakan tahap dimana Anda melihat lebih jauh mengenai bagaimana rekan-rekan guru di sekolah memahami dan menggunakan istilah-istilah kunci pada subjek permasalahan yang sedang Anda investigasi. Sebagai contoh, Anda dapat bertanya kepada rekan sesama guru mengenai cara menjelaskan konsep model pembelajaran, cara mengevaluasi pembelajaran, dan lain sebagainya yang dirasa berkaitan. 

Hasil dari tahap refleksi awal ini adalah sebuah analisis diagnostik terhadap subjek permasalahan. Setelahnya, buatlah pernyataan tertulis mengenai diagnosis situasi subjek permasalahan. Paragraf berikut adalah contohnya: 

"Banyak murid di kelas yang berpikir bahwa ilmu pengetahuan adalah perkara menghafal apa yang tertera dalam buku dan yang dijelaskan guru. Hal tersebut terindikasi dari apa yang dijawab oleh guru ketika menanyakan sesuatu pada mereka. Jawaban para murid masih sangat textbook. Hal ini juga terlihat pada jawaban ulangan harian mereka dimana mereka menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ulangan dengan cara letterlijk. Dari hal tersebut juga disimpulkan bahwa fokus belajar para murid adalah menghafal materi, bukan memahaminya."
Langkah selanjutnya adalah merencanakan tindakan perbaikan. 
Perencanaan tindakan perbaikan seharusnya memperhatikan beberapa aspek sebagai berikut:
  • Deskripsikan apa yang menjadi subjek permasalahan Anda dan uraikan mengapa Anda memilihnya
  • Uraikan anggota kelompok yang akan menjadi sasaran dari tindakan
  • Deskripsikan dan berikan alasan ringkas perubahan yang akan Anda lakukan (perubahan praktik mengajar, bahasa dan wacana, serta hubungan sosial dan organisasi) 
  • Uraikan rencana secara lebih terinci dan jadwalkan aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan dalam penelitian (siapa yang akan melaksanakan, kapan, dimana, dan bagaimana) 
  • Uraikan juga bagaimana Anda akan mengimplementasikan strategi untuk perubahan
  • Deskripsikan bagaimana rencana Anda dalam memonitor perubahan yang akan terjadi dalam praktek, bahasa dan wacana, serta dalam hubungan sosial dan keorganisasian
  • Berikanlah pandangan mengenai bagaimana data yang akan Anda peroleh cukup valid dijadikan sebagai bukti penelitian
Mengeksekusi rencana dan mengobservasi bagaimana rencana berjalan
Tahap ini adalah tahap dimana Anda mengeksekusi alternatif tindakan yang Anda rencanakan dan mengumpulkan data yang relevan secara sistematis dalam rangka mencari tahu bagaimana rencana berjalan dan bagaimana rencana dapat diperbaiki atau disesuaikan dengan lingkungan fisik, sosial, dan politik.

Tahap ini juga merupakan tahap dimana Anda mencurahkan perhatian secara lebih dalam menarasikan apa yang terjadi. Selama melakukan pencatatan narasi atau penarasian tersebut, Anda bisa jadi akan melihat bahwa Anda mengalami kekurangan data untuk membuktikan pernyataan dan klaim yang dirasa perlu untuk dibuktikan. Oleh karena itu, Anda seharusnya mengumpulkan dan mengelola data yang diperlukan untuk memperbaiki praktik, lingkungan sosial yang terlibat yang akan diubah serta perubahan dalam penafsiran dan penggunaan istilah-istilah dan konsep-konsep tertentu.

Berikut adalah teknik-teknik pengumpulan data untuk memonitor aktivitas implementasi PTK:
  • Catatan Anekdotal (Anecdotal Records): Ini adalah catatan tertulis deskriptif mengenai apa yang, misalnya, dilakukan atau dikatakan oleh murid terkait dengan situasi tertentu selama periode tertentu pula. Deskripsi akurat ditekankan sampai dengan gambaran yang jelas terkait dengan penjelasan dan tafsiran dikembangkan. 
  • Catatan Lapangan. Ini mirip dengan catatan anekdotal. Perbedaannya adalah bahwa catatan ini meliputi, sebagai contoh, kesan dan tafsiran sederhana atas apa yang terjadi. Deskripsi dalam catatan ini mencakup debat kecil dan perilaku tak acuh yang diobservasi. 
  • Deskripsi Perilaku Ekologis. Ini adalah jenis catatan yang mencatat pengamatan dan pemahaman tentang urutan lengkap dari perilaku. 
  • Analisis Dokumen. Gambaran dari permasalahan dapat dibangun menggunakan beragam dokumen, seperti surat, memorandum kepada tenaga administratif, surat kepada orang tua atau wali murid, silabus, RPP, publikasi sekolah, aturan dan kebijakan sekolah, kertas ujian, jadwal kelas, dan laporan tahunan atau periodik. 
  • Diari. Ini adalah catatan pribadi yang dilakukan secara reguler mengenai topik atau peminatan tertentu. Catatan yang ada di dalamnya dapat berupa catatan pekerjaan atau monitoring pribadi tentang perubahan pada model atau metode pembelajaran
  • Kartu Sampling Item: Sekitar enam kartu digunakan untuk mencatat kesan pada sejumlah topik, satu kartu untuk satu topik. Sebagai contoh, topik dapat berupa pelajaran, disiplin, kualitas pekerjaan murid, efisiensi penilaian, atau kontak individual dengan para murid. Kartu dikocok dan diari digunakan untuk mencatat tiap topik per harinya. Dengan demikian, usaha ini akan membentuk gambaran tentang lintas permasalahan sebagai sebuah basis refleksi dengan seminimal mungkin mengurangi penekanan yang berlebihan pada dugaan tertentu. 
  • Portofolio. Ini adalah kumpulan dari bahan yang dikompilasi untuk tujuan tertentu. Portofolio dapat berisi hal-hal seperti korespondensi terkait kemajuan dan perilaku murid, kliping koran, dan laporan mengenai permasalahan kritis terkait permasalahan yang sedang diinvestigasi. 
  • Jadwal Interaksi dan Daftar Cek (Checklist). Ini digunakan oleh guru yang sedang melakukan penelitian tindakan kelas untuk mencatat perilaku siswa atau subjek penelitian. Pencatatan dilakukan secara terjadwal, dilakukan dengan menggunakan interval waktu tertentu, atau berdasarkan kejadian tertentu manakala peristiwa tertentu terjadi. Berbagai macam perilaku dicatat dengan basis kategori tertentu guna membangun gambaran mengenai urutan perilaku siswa atau guru. 
Teknik pengumpulan data penelitian tindakan kelas lain yang dapat digunakan adalah angket (kuesioner), wawancara, penggunaan kamera atau video, atau seperangkat alat ukur seperti tes (pretes dan postes). 

Setelah kita mengetahui bagaimana teknik pengumpulan data PTK, maka media yang digunakan untuk mengumpulkan data juga harus diketahui. Berikut adalah media yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian tindakan kelas (PTK)
  • Log: Adalah media pencatatan seperti buku atau laptop (notebook) dimana guru mencatat kejadian harian, refleksi, wawancara, atau data penelitian yang lain. 
  • Catatan Lapangan: Adalah sebuah catatan mengenai observasi dan penafsiran. Setiap catatan hendaknya diberi tanggal dan guru peneliti mendokumentasikan apa yang mereka rencanakan, apa yang mereka lakukan di ruang kelas, dan bagaimana response atau reaksi murid. Catatan lapangan dapat berupa seperti berikut ini: 
  1. Catatan Deskriptif: Catatan cepat yang dilakukan di ruang kelas atau selama istirahat pelajaran, menggunakan singkatan atau kode. 
  2. Catatan Refkektif: Berisi catatan tentang pertanyaan mengenai apa yang terjadi di ruang kelas, sering ditulis setelah membaca kembali catatan deskriptif. 
  • Media selanjutnya adalah pertemuan dengan murid. Media ini sangat cocok untuk melihat cara pandang murid terhadap permasalahan yang terjadi. Ia juga dapat digunakan untuk melibatkan murid dalam penelitian. 
  • Pertemuan dengan anggota tim penelitian. Jika penelitian dilakukan secara kolektif, media ini dapat digunakan sebagai ajang bertukar pikiran antarsesama anggota penelitian. 
  • Sampel tulisan. Ia diperoleh dari berkas tulisan siswa. Ia dapat berupa jawaban angket, hasil tes, atau media lain. Yang perlu diperhatikan adalah etika penelitian yang menyebutkan bahwa data yang diperoleh dari siswa tentu saja atas seijin siswa yang bersangkutan. 
  • Media Digital. Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin canggih, media digital ini sangat bermanfaat dan tentu saja efisien. Anda sebagai peneliti dapat menggunakan ponsel pintar untuk merekam baik suara maupun visual tentang kejadian yang terjadi di ruang kelas. 
  • Data Tes. Data tes merupakan media umum yang digunakan dalam melakukan PTK. Hal yang harus diingat bahwa instrumen tes mestilah valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Valid berarti bahwa item pertanyaan dalam tes haruslah mengukur apa yang hendak diukur. 
  • Triangulasi. Ia berarti usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh sebuah pandangan baru tentang permasalahan dengan cara: 
  1. Meminta rekan guru untuk membantu meneliti di kelas yang sama dengan harapan rekan guru tersebut dapat melihat permasalahan yang mungkin saja tidak teridentifikasi oleh peneliti utama. 
  2. Melihat permasalahan dari berbagai sudut pandang; rekan guru, murid, kepala sekolah, atau bahkan pengawas sekolah. 
  3. Melakukan penelitian dengan mengkombinasi berbagai macam teknik pengumpulan data. 
  • Sintesis. Merupakan media PTK berupa laporan akhir tahun atau akhir semester. Apa yang ada dalam sintesis merupakan data-data penting yang berasal dari catatan lapangan, pertemuan, log, sampel tulisan, data digital, atau data lainnya.