JASA ADMINISTRASI BP BK MURAH HUBUNGI KAMI DI 081222940294 DETAIL HARGA KLIK DISINI

Contoh Proposal Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Contoh Proposal Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK)





Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini

Atau Cek FB Kami KLIK DISINI


 Pendahuluan
1.      Latar Belakang Masalah
Sistem pendidikan di Indonesia ternyata telah mengalami banyak perubahan. Perubahan-perubahan itu terjadi karena telah dilakukan berbagai usaha pembaharuan dalam pendidikan. Akibat pengaruh itu pendidikan nasional semakin mengalami kemajuan, pendidikan di sekolah-sekolah telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan itu terjadi karena terdorong adanya pembaharuan tersebut, sehingga di dalam pengajaranpun guru selalu ingin menemukan metode dan peralatan baru yang dapat memberikan semangat belajar bagi semua siswa. Bahkan secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa pembaharuan dalam sistem pendidikan nasional yang mencakup seluruh komponen yang ada. Pembangunan di bidang pendidikan nasional barulah ada artinya apabila dalam pendidikan dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan bangsa Indonesia yang sedang membangun.
Tujuan pendidikan nasional yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan demikian melalui pendidikan diharapkan dapat meningkatkan kualitas kehidupan pribadi maupun masyarakat, serta mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dan professional.
Untuk tercapainya tujuan Pendidikan Nasional tersebut, telah ditempuh berbagai upaya oleh pemerintah. Upaya-upaya tersebut hampir mencakup seluruh komponen pendidikan seperti pengadaan buku-buku pelajaran, peningkatan kualitas guru, proses pembelajaran, pembaharuan kurikulum, serta usaha lainnya yang berkaitan dengan kualitas pendidikan.
Dewasa, ini telah terjadi pergeseran pola sistem mengajar yaitu dari guru yang mendominasi kelas menjadi guru sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran. Dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran, guru harus menciptakan kondisi belajar yang aktif dan kreatif. Kegiatan pembelajaran harus menantang, mendorong eksplorasi member pengalaman sukses, dan mengembangkan kecakapan berfikir siswa (Dimyati, 2006:116).
Penggunaan media dan metode pembelajaran yang dipilih guru merupakan salah satu cara meningkatkan kualitas pembelajaran. Hamalik (2001:32) juga menyatakan bahwa, “untuk lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran, di sekolah perlu digunakan metode dan teknik pembelajaran yang tepat”.
Berdasarkan pendapat teersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kualitas pembelajaran akan meningkat jika guru mampu menciptakan kondisi belajar yang aktif, kreatif, dan mengefektifkan komunikasi interaksi guru dan siswa menggunakan metode diskusi dengan media pembelajaran yang tepat.
Namun, kenyataan menunjukkan bahwa penerapan metode diskuis dan penggunaan media belum tampak diterapkan secara optimal. Hal ini ditunjukkan oleh tindakan guru pada saat mengajar. Guru hanya menggunakan buku pegangan yang ada dan hanya mengandalkan metode ceramah, tanpa menggunakan media yang sesuai dengan materi. Akibatnya keaktifan, partisipasi, dan hasil belajar siswa menjadi rendah.
Keaktifan dan hasil belajar siswa yang rendah, khususnya pada mata pelajaran IPS merupakan permasalahan yang muncul dalam kegiatan pembelajaran. Permasalahan dalam kegaiatan pembelajaran dapat ditinjau dari beberapa aspek. Ditinjau dari aspek siswa, yang mempengaruhi hasil belajar muncul dari factor internal dan eksternal. Menurut (Dimyati, 2006:200) “faktor internal siswa meliputi sikap terhadap belajar, motivasi berprestasi, konsentrasi belajar, mengolah bahan belajar, menyimpan perolehan hasil belajar, menggali hasil belajar yang tersimpan, kemampuan berprestasi, kebiasaan belajar dan cita-cita siswa, sedangkan faktor eksternal dapat berupa guru, sarana dan prasarana, kebijakan penilaian, lingkungan social, dan kurikulum sekolah”.
Karena rendahnya keaktifan dan hasil belajar siswa kelas V SD khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial , maka dilaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) denga judul: Penerapan Metode Diskusi Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar IPS Pada Siswa SD Kelas V. Metode ini mampu meningkatkan kemungkinan berpikir kritis, partisipasi, demokratis, mengembangkan sikap, motivasi, dan kemampuan berbicara. Dengan menerapkan metode diskusi diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa SD kelas V khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

2.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka penelitian ini difokuskan pada permasalahan pokok sebagai berikut.
a.       Apakah penerapan metode diskusi dapat meningkatkan keaktifan belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada siswa kelas V SD?
b.      Apakah penerapan metode diskusi dapat meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial pada siswa kelas V SD?

3.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a.       Untuk mengetahui peningkatan keaktifan belajar setelah penerapan metode diskusi, dan penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
b.      Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar setelah penerapan metode diskusi, dan penggunaan media yang tepat dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

4.      Manfaat Penelitian
a.       Manfaat Teoretis
Secara teoritis penelitian ini akan mengkaji metode pembelajaran yang sesuai untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar IPS melalui metode diskusi. Dengan demikian temuan penelitian ini akan memperkaya khasanah pengetahuan di bidang metode pembelajaran.
b.      Manfaat Praktis
1)      Bagi Siswa
Dari penelitian ini siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna, sehingga siswa menjadi lebih menguasai dan terampil dalam pembelajaran pemecahan masalah dengan penerapan metode diskusi sehingga hasil belajar lebih meningkat dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
2)      Bagi Guru
Informasi hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi serta masuka berharga bagi para guru dalam melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran dengan penerapan metode diskusi, khususnya dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dan mata pelajaran lain pada umunya.
3)      Bagi Orang Tua Siswa
Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar bahwa betapa pentingnya perhatian orang tua dengan aktivitas dan prestasi belajar putra-putrinya. Dengan demikian, akan menggugah hati para orang tua siswa untuk berpartisipasi aktif dalam rangka menyukseskan pendidikan putra-putrinya.


4)      Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi berharga bagi kepala sekolah untuk mengambil suatu kebijakan yang paling tepat dalam kaitan dengan upaya menyajikan strategi pembelajaran yang efektif dan efesien di sekolah.
 Landasan Teori
1.      Kajian Teoretis
a.      Pengertian Metode Diskusi
Metode diskusi merupakan suatu kegiatan dimana sejumlah orang membicarakan secara bersama-sama melalui tukar pendapat tentang suatu topik atau masalah, atau mencari jawaban dari suatu masalah berdasarkan semua fakta yang memungkinkan untuk itu.
Menurut (Depdikbud, 1999:14) metode diskusi adalah suatu metode untuk memupuk keberanian anak didik untuk mengemukakan pendapat atau memberi kritikan terhadap pendapat orang lain yang dikemukakan dalam suatu forum.
Dari uraian tersebut di atas dapat didefinisikan metode diskusi adalah suatu kegiatan belajar-mengajar yang membahas suatu topic atau masalah yang dilakukan oleh dua orang atau lebih (dapat guru dan siswa atau siswa dan siswa lain).
Dapat disimpulkan metode diskusi adalah suatu kegiatan belajar mengajar dalam bentuk tukar pendapat dari pertanyaan-pertanyaan yang ada baik dari murid secara individual atau secara kelompok maupun dari guru sehingga diperoleh suatu kesepakatan bersama dari permasalahan yang dikaji.
Dalam kegiatan diskusi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dan siswa agar diskusi dapat dilaksanakan dengan efektif, selanjutnya disebut syarat-syarat diskusi yaitu sebagai berikut.
1)      Pembicaraan berlangsung dalam kelompok, dan setiap kelompok ada peserta yang terlibat didalamnya.
2)      Setiap peserta bebas mengeluarkan pendapatnya, dalam komunikasi langsung tatap muka.
3)      Ada aturan main yang disepakati bersama untuk mengatur proses pembicaraan.
4)      Harus ada tujuan dari diskusi tersebut dan tidak boleh ada tekanan dari siapapun termasuk dari guru.
5)      Harus ada pemimpin yang memimpin jalannya diskusi agar tidak menyimpang dari topik yang dibahas.

Tujuan Pemakaian Metode Diskusi      
Secara rinci tujuan pemakaian metode diskusi adalah sebagai berikut.
1)      Mengembangkan keterampilan bertanya, berkomunikasi, menafsirkan, dan menyimpulkan pada diri siswa.
2)      Mengembangkan sikap sportif terhadap sekolah, para guru dan bidang studi yang dipelajari.
3)      Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah dan konsep diri yang lebih positif.
4)      Meningkatkan keberhasilan siswa dalam mengemukakan pendapat.
5)      Mengembangkan sikap terhadap isu-isu controversial.

Kelebihan dan Kelemahan Metode Diskusi
Kelebihan dan kelemahan dari metode diskusi adalah sebagai berikut.
1)      Kelebihan Metode Diskusi
a)      Metode ini memberikan kesempatan kepada para siswa untuk berpartisipasi secara langsung, baik sebagai partisipan, ketua kelompok, atau penyusun pertanyaan diskusi.
b)      Metode ini dapat digunakan secara mudah sebelum, selama, ataupun sesudah metode yang lain.
c)      Metode ini mampu meningkatkan kemungkinan berpikir kritis, partisipasi, demokratis, mengembangkan sikap, motivasi, dan kemmpuan berbicara yang dilakukan tanpa persiapan.
d)     Metode ini memberikan kesempatan kepada para siswa untuk menguji, mengubah dan mengembangkan, pandangan, nilai dan keputusan yang diperlihatkan kesalahannya melalui pengamatan yang cermat dan pertimbangan kelompok.
e)      Metode ini memberikan kesempatan kepada para siswa untuk memahami kebutuhan memberi dan menerima, sehingga siswa dapat mengerti dan mempersiapkan dirinya sebagai warga Negara yang demokratis.
f)       Metode ini menguntungkan para siswa yang lemah dalam pemecahan masalah oleh kelompok, biasanya lebih tepat daripada pemecahan perorangan (Joni, 1984:105).
2)      Kelemahan Metode Diskusi
a)      Metode diskusi sulit diramalkan hasilnya walaupun sudah diatur secara hati-hati.
b)      Metode ini kurang efesien dalam penggunaan waktu dan memerlukan perangkat meja dan kursi yang mudah diatur.
c)      Metode ini tidak menjamin penyelesaian sekalipun kelompok setuju dan membuat kesepakatan pada akhir pertemuan sebab keputusan yang dicapai belum tentu dilaksanakan.
d)     Metode ini seringkali didominasi oleh seorang atau beberapa orang anggota diskusi dan menyebabkan orang yang tak berminat hanya sebagai penonton.
e)      Metode ini membutuhkan kemampuan berdiskusi dari para peserta agar dapat berpartisipasi aktif dalam diskusi. Kemampuan ini hanya dimiliki oleh seseorang bila dipelajari dan dilatih (Joni, 1984:105).

Prosedur Pemakaian Metode Diskusi
Prosedur pemakaian metode diskusi secara umum terbagi menjadi tiga tahapan. Pada tiap-tiap tahapan pemakaian metode diskusi terdapat berbagai kegiatan yang harus dilaksanakan oleh guru dan siswa. Adapun tiga tahapan dalam pemakaian metode diskusi adalah sebagai berikut.
1)      Tahapan Sebelum Pertemuan
a)      Pemilihan topik diskusi, yakni suatu kegiatan yang dimaksudkan untuk menentukan topik diskusi untuk melakukannya, guru dan siswa menggunakan tujuan yang ingin dicapai serta minat dan latar belakang siswa sebagai kriteria.
b)      Membuat rancangan garis besar diskusi yang akan dilaksanakan (jika memungkinkan bagi guru).
c)      Menentukan jenis diskusi yang akan dilaksanakan.
d)     Mengorganisasikan siswa dan formasi kelas sesuai dengan jenis diksusinya.

2)      Tahapan Selama Pertemuan
a)      Guru memberikan penjelasan tentang tujuan dari diskusi, topik diskusi dan kegiatan diskusi yang akan dilakukan.
b)      Siswa dan guru melaksanakan kegiatan disksusi (sesuai jenis diskusi yang digunakan).
c)      Pelaporan dan penyimpulan hasil diskusi oleh siswa bersama guru.
d)     Pencatatan hasil diskusi oleh siswa.

3)      Tahapan Setelah Pertemuan
a)      Membuat catatan tentang gagasan-gagasan yang belum ditanggapi dan kesulitan yang timbul selama disksusi.
b)      Mengevaluasi disksusi dari berbagai dimensi dan mengumpulkan evaluasi dari para siswa serta lembaran komentar.
(Hidayat, 2008:7.20-7.23)

Bentuk-Bentuk Diskusi
1)      Diskusi Kelas, yaitu jenis diskusi yang melibatkan seluruh siswa yang ada dalam kelas sebagai peserta diskusi. Dalam hal ini guru berfungsi sebagai pengatur, pendorong dan pengarah pembicaraan.
2)      Dikusi Kuliah, yaitu terdiri dari seorang pembicara, guru atau seorang anak berbicara dimuka kelas, mengemukakan persoalannya selama 20-30 menit setelah itu dihadirkan pertanyaan-pertanyaan tetapi hanya terbatas pada satu bentuk persoalan.
3)      Diskusi kelompok kecil yaitu terdiri dari 3-7 orang.
4)      Simposium, yaitu hampir sama dengan diskusi kuliah tetapi pada simposium terdapat beberapa orang yang berbicara atau pengarah persoalan dan masalah yang ada ditinjau dari beberapa segi.
5)      Diskusi panel yaitu terdiri dari 4 samapi 5 orang pembicara yang mengemukakan pertanyaan akan ditunjuk langsung.
Dari bentuk-bentuk diskusi tersebut maka yang lebih ditekankan pada pembelajaran IPS di sekolah dasar adalah diskusi kelas. Dengan bentuk diskusi kelas maka diharapkan guru berperan sebagai pemimpin atau pengarah diskusi maka ada hal yang harus dipahami dan harus dimiliki oleh guru yaitu sebagai berikut.
a)      Menyiapkan dan menjelaskan topik diskusi.
b)      Mengatur pembicaraan agar semua peserta terlibat dalam diskusi.
c)      Menjaga agar pembicaraan tetap terfokus pada  topik.
d)     Mencegah distorsi atau penyimpangan pembicaraan dan percakapan yang bertele-tele.
e)      Mendorong siswa agar berani mengeluarkan pendapat.
f)       Membimbing siswa agar dapat menguraikan pendapat rasional.
g)      Memperjelas pendapat siswa agar dimengerti oleh yang lain.
h)      Mencegah dominasi pembicaraan oleh satu atau dua orang peserta.
(Hidayat, 2008:7.22-7.25)
b.      Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
 IPS merupakan bidang studi yang utuh yang tidak terpisah-pisah dalam kotak-kotak disiplin ilmu yang ada. Artinya bahwa bidang IPS tidak lagi mengenal adanya pelajaran geografi, ekonomi, sejarah secara terpisah melainkan semua disiplin tersebut diajarkan secara terpadu (Mujinem, 2008:6).
Agar pelaksanaan pembelajaran IPS tersebut menjadi pembelajaran yang Aktif, Kreatif, dan Menyenangkan (PAKEM), salah satu solusinya adalah pembelajaran dengan metode diskusi.
Di bawah ini beberapa hal penting yang berhubungan dengan IPS di SD, yaitu sebagai berikut.
Tujuan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
1)      Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.
2)      Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin  tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalalm kehidupan sehari-hari.
3)      Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
4)      Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan global.

Ruang Lingkup IPS di Sekolah Dasar
1)      Manusia, tempat dan lingkungannya.
2)      Waktu, keberlanjutan dan perubahan.
3)      Sistem sosial budaya. 
4)      Perilaku ekonomi dan kesejahteraan.

Fungsi Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar
IPS di Sekolah Dasar berfungsi mentransmisikan pengetahuan dan pemahaman tentang masyarakat, berupa fakta-fakta dan ide-ide kepada anak, selain itu juga mengembangkan rasa kontunuitas dan stabilitas, memberikan informasi dan teknik-teknik sehingga mereka dapat ikut memajukan masyarakat sekitar (Hidayat, 2008:24).

Pendekatan dan Metode Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar
Beberapa pendekatan dan metode pembelajaran IPS adalah sebagai berikut.
1)      Lingkungan
Kegiatan pembelajaran yang menggunakan pendekatan ini dapat dimulai dari atau mencakup hal-hal atau petistiwa yang pernah dialami.
2)      Penemuan
Pendekatan ini mendorong dan mengarahkan siswa untuk melibatkan diri secara aktif dalam proses belajar mengajar dengan melakukan kegiatan belajar.
3)      Induktif-Deduktif
Pendekatan induktif, siswa menarik suatu kesimpulan dari sejumlah fakta yang satu sama lainnya ada hubungannya yang diperoleh melalui pengamatan atau cara lain. Sedang deduktif, menghadapkan siswa pada sesuatu yang berlaku umum dan mengumpulkan berbagai fakta yang medukung pernyataan tersebut.
4)      Nilai
Pendekatan ini dapat dikembangkan berbagai nilai seperti nilai moral, nilai estetika, dan sebagainya (Hidayat, 2008:26).

Alat Peraga atau Media IPS
Alat peraga atau media adalah sumber belajar yang harus dikembangkan untuk tercapainya hasil belajar yang optimal. Hal ini seperti yang dikatakan (Hidayat, 2008:123) “Dalam usaha meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil pembelajaran, kita tidak boleh melupakan suatu hal yang sudah pasti kebenarannya yaitu bahwa, pelajar sebanyak-banyaknya berinteraksi dengan sumber belajar. Tanpa sumber belajar yang memadai sulit diharapkan dapat diwujudkan proses pembelajaran mengarah kepada tercapainya hasil belajar yang optimal”.
Atas dasar ini, beberapa alat peraga atau media IPS sangatlah perlu diaplikasikan dalam setiap pelaksanaan pembelajaran IPS di sekolah dasar. Adapun alat peraga atau media IPS dapat digunakan adalah peta, atlas, globe, planetarium, solar sistem, gambar-gambar (pahlawan, rumah adat) lingkungan sekitar, alat peraga buatan siswa atau guru dan sebagainya.

c.       Keaktifan Belajar
Pengertian Keaktifan Belajar
Dalam kemajuan metodologi dewasa ini asas keaktifan lebih ditonjolkan melalui suatu program unit activity, sehingga kegiatan belajar siswa menjadi dasar untuk mencapai tujuan dan hasil belajar yang lebih memadai (Hamalik, 2001:172).
Pendapat lain menyatakan bahwa keaktifan belajar itu beraneka ragam bentuknya, mulai dari kegiatan fisik yang mudah kita amati sampai kegiatan psikis yang susah kita amati. Kegiatan fisik bias berupa membaca, mendengar, menulis, berlatih keterampilan (Dimyati, 2006:45).
Bertolak dari beberapa pendapat tentang keaktifan belajar di atas, maka dapat disimpulkan bahwa keaktifan belajar merupakan bentuk segala kegiatan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran, baik secara fisik maupun mental dan kegiatan yang mudah diamati maupun sulit diamati.

Ciri-Ciri Keaktifan Belajar 
Dimyati, (2006:48) mengemukakan pendapatnya bahwa terdapat lima ciri-ciri dalam keaktifan belajar siswa yaitu sebagai berikut.
1)      Keberanian siswa untuk mewujudkan minat, keinginan, dan dorongan.
2)      Keinginan dan keberanian siswa untuk ikut serta dalam kegiatan belajar.
3)      Adanya usaha dan kreativitas siswa.
4)      Adanya keingin tahuan siswa.
5)      Memiliki rasa lapang dan bebas.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keaktifan Belajar
Menurut pendapat Dimyati, (2006:33) “ada empat hal yang mempengaruhi keaktifan belajar antara lain: 1) bahan belajar, 2) suasana belajar, 3) media dan sumber belajar, 4) guru sebagai subjek pembelajar”. Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keaktifan belajar siswa adalah, ada dari luar siswa maupun dari dalam diri siswa. Faktor internal itu terdiri atas, faktor fisiologis psikologis sedangkan faktor eksternal terdiri atas faktor lingkungan (fisik dan sosial) dan faktor instrumental (kurikulum, sarana prasarana, guru, metode, media, serta manajemen).

d.      Hasil Belajar
Pengertian Hasil Belajar
Di antara para pakar pendidikan dan psikologi tidak memiliki definisi dan perumusan yang sama mengenai pengertian hasil belajar. Namun di antara mereka memiliki pemahaman yang sama mengenai makna hasil belajar sebagaimana yang dikemukakan Dimyati dan Moedjiono, (2006:200) bahwa “hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak mengajar atau tindak belajar”. Demikian pula dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia disebutkan bahwa “Hasil belajar merupakan sesuatu yang diadakan, dibuat, dijadikan oleh suatu atau dapat juga berarti pendapatan atau perolehan”.
Hamalik, (2001:34) menyebutkan ada 3 teori tentang hasil belajar yaitu: 1) Teori disiplin formal yang menyatakan bahwa ingatan, sikap, imajinasi dapat diperkuat melalui latihan akademis. 2) Teori unsur-unsur yang identik yaitu: siswa diberikan respon-respon yang diharapkan diterapkan dalam situasi kehidupan. 3) Teori generalisasi yaitu: menekankan pada pembentukan pengertian yang dihubungkan pada pengalaman-pengalamannya.
Berdasarkan pernyataan di atas, dalam konteks penelitian ini dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengalami interaksi proses pembelajaran. Hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yaitu hasil belajar yang dicapai oleh seseorang setelah mengalami proses pembelajaran mata pelajaran IPS.


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Hamalik (2001:32) menyebutkan “faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar yaitu faktor pengalaman masa lampau, faktor kesiapan belajar, faktor minat dan usaha, faktor fisiologis dan faktor intelegensi”.
Menurut Uno Hamzah (2008:3) menyatakan bahwa “faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor guru, siswa, kurikulum dan lingkungan. Keempat faktor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
1)      Faktor Guru
Setiap guru memiliki pola mengajar sendiri-sendiri, pola mengajar tercermin dalam tingkah laku pada waktu melaksanakan pengajaran. Gaya mengajar yang dilakukan guru mencerminkan bagaimana pelaksanaan pengajaran guru yang bersangkutan, yang dipengaruhi oleh pandangannya sendiri tentang mengajar, konsep, psikologi, dan kurikulum.
2)      Faktor Siswa
Setiap siswa mempunyai keragaman dalam hal kecakapan maupun kepribadian, kecakapan, yang dimiliki masing-masing itu meliputi, kecakapan potensial maupun kecakapan yang diperoleh dari hasil belajar.
3)      Faktor Kurikulum
Bahan-bahan pengajaran sebagai isi kurikulum mengacu kepada tujuan yang hendak dicapai.
4)      Faktor Lingkungan
Lingkungan meliputi keadaan ruangan, tata ruang dan berbagai situasi fisik yang ada disekitar kelas atau sekitar tempat berlangsungnya proses belajar mengajar.
Berdasarkan berbagai pernyataan tersebut, ada beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal tersebut terdiri atas, faktor fisiologis psikologis, sedangkan faktor eksternal terdiri atas faktor lingkungan (fisik dan sosial) dan faktor instrumental (kurikulum, sarana-prasarana, guru, metode, media serta manajemen).

2.      Kajian Hasil-Hasil Penelitian yang Relevan
Berdasarkan hasil pengamatan keaktifan dan hasil belajar siswa kelas V Sd No 5 Bondalem rendah, khusunya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dipengaruhi faktor eksternal. Guru tidak menggunakan metode dan media pembelajaran yang sesuai dengan materi, sehingga sikap belajar, motivasi belajar siswa, konsentrasi belajar, dan perolehan hasil belajar siswa rendah.
Karena rendahnya keaktifan dan hasil belajar siswa kelas V SD No 5 Bondalem, khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, maka dilaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul:  Penerapan Metode Diskusi untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar IPS pada Siswa SD Kelas V SD No 5 Bondalem Tahun Ajaran 2009/2010 Kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng. Metode ini mampu meningkatkan kemungkinan berpikir kritis, partisipasi, demokratis, mengembangkan sikap, motivasi, dan kemampuan berbicara. Dengan menerapkan metode diskusi diharapkan dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa SD No 5 Bondalem khususnya mata pelajaran Ilmu Pengetahaun Sosial. 

3.      Kerangka Berpikir
Penerapan metode diskusi dalam proses pembelajaran merupakan salah satu metode yang tidak terlalu  mahal dan tidak terlalu sulit diterapkan serta cukup efektif untuk mencapai tujuan belajar.
Penerapan metode diskusi merupakan sebuah metode yang dapat menggali potensi siswa untuk dapat berpikir kritis, bebas mengembangkan gagasan-gagasannya serta memberi pengalaman langsung sehingga perolehan belajar tidak bersifat verbal semata, melainkan mampu member pengalaman yang bersifat konkret. Dengan demikian metode tersebut akan dapat menguatkan ingatan siswa terhadap materi yang dipelajarinya. Bertitik tolak dari kerangka berpikir demikian, maka dapat dinyatakan bahwa dengan penerapan metode diskusi secara efektif, cenderung dapat meningkatkan keaktifan belajar siswa dalam mata pelajaran IPS.
Penerapan metode diskusi menyebabkan siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna dan lebih kuat melekat dalam memori (pikiran) mereka, sehingga secara tidak langsung berdampak pula terhadap perolehan atau hasil belajar siswa. Di samping itu dengan diterapkannya metode ini akan membuat perhatian siswa tertarik dalam proses belajar, karena siswa mengalami sendiri, dan terlibat aktif dalam proses belajar sehingga akan mempermudah siswa tersebut memahami materi pelajaran IPS yang dipelajarinya. Diterapkannya metode ini secara efektif dan efesien akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS.
  
4.      Perumusan Hipotesis
Berdasarkan teori-teori dan kerangka berpikir sebagaimana telah diuraikan di atas maka berikut ini dapat dijadikan hipotesis yang dirumuskan sebagai berikut.
Jika penerapan metode diskusi dapat berjalan dengan efektif dan efesien maka keaktifan belajar dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Ilmu PEngetahuan Sosial cenderung meningkat.










D.    Metode Penelitian
1.      Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa Kelas V SD yang berjumlah 35 orang. Siswa di kelas ini dipilih sebagai subjek penelitian karena ditemukan permasalahan-permasalahan yang ditemukan seperti yang telah dipaparkan pada latar belakang.
Obyek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah: a)  keaktifan belajar siswa, dan b)  hasil belajar siswa, dan c) respon siswa terhadap proses pembelajaran IPS dengan penerapan metode diskusi.

2.      Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif. Jumlah soal sebanyak 10 butir dan masing-masing diberi skor 1, esay sebanyak 5 butir, masing-masing diberi skor 2. Selain itu menggunakan lembar observasi siswa untuk mengetahui keaktifannya. Lembar observasi untuk siswa adalah sebagai berikut.
Lembar Observasi Siswa
No
Aspek

Perhatian Siswa
Keberanian berpendapat
Menghargai Pendapat
Pelaksanaan Tugas
Keberanian Menjawab

1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5
1
2
3
4
5

















































































































































































































Keterangan:
Aspek 1           : Perhatian siswa
Aspek 2           : Keberanian berpendapat
Aspek 3           : Menghargai pendapat
Aspek 4           : Pelaksanaan tugas
Aspek 5           : Keberanian menjawab
Skor
Sangat aktif                 : 5
Aktif                           : 4
Cukup aktif                 : 3
Kurang aktif                : 2
Sangat kurang aktif     : 1

3.      Teknik Analisis Data
Untuk mengumpulkan data diperlukan nilai siswa yang diperoleh melalui penilaian proses dan hasil. Setelah data terkumpul, maka data tersebut diolah dengan menggunakan analisis deskriptif yaitu dengan mencari tingkat keaktifan, Mean (M), hasil belajar, dan ketuntasan belajar.
a.       Tingkat keaktifan dapat diperoleh dengan menghitung rata-rata persentase dan membandingkan dengan kriteria PAP skala lima.
M (%) =  
Keterangan:
M (%) = Angka rata-rata persen
M        = Angka rata-rata skor siswa
Smi     = Skor maksimal ideal
(Agung, 1998:8)
PAP Skala 5 Keaktifan Belajar
Persentase
Kriteria Keaktifan Belajar IPS
90 – 100
Sangat aktif
80 – 89
Aktif
65 – 79
Cukup aktif
55 – 64
Kurang aktif
0 – 54
Sangat kurang aktif

b.      Dalam menilai hasil pembelajaran IPS digunakan nilai dengan skala 0 – 100, nilai yang diperoleh siswa berdasarkan lembar observasi dan hasil tes siswa.
Kriteria keberhasilan siswa adalah sebagai berikut.
1)      Menghitung rata-rata skor siswa dengan mencari Mean (M) dengan rumus
         (Nurkancana, 2002:174)
Keterangan:
M            = Mean (rata-rata)
      = Jumlah seluruh nilai
N                        = Jumlah individu

2)      Untuk menentukan tingkat hasil belajar siswa, digunakan rumus sebagai berikut.
Keterangan:
Rh          = Angka rata-rata persen
M            = Angka rata-rata
Smi         = Skor maksimal ideal
Sutrisno Hadi, (dalam Arbawa, 2000:12)

3)      Menghitung ketuntasan belajar mengacu pada buku pedoman pelaksanaan kurikulum Sekolah Dasar (SD).
Ketuntasan Belajar
Keterangan:
KB         = Ketuntasan belajar
n ≥ 65     = Banyak siswa yang memperoleh nilai 65 keatas
(Misal KKM IPS kelas V adalah 65)
N                        = Jumlah siswa
(Departemen Pendidikan Nasional, 2002:15)
Hasil analisis yang diperoleh selanjutnya dikonversikan dengan kriteria Penilaian Acuan Patokan (PAP) skala lima.

Kriteria PAP skala 5
Persentase
Kriteria Hasil Belajar
Kriteria Keaktifan Belajar IPS
90 – 100
Sangat tinggi
Sangat aktif
80 – 89
Tinggi
Aktif
65 – 79
Sedang
Cukup Aktif
55 – 64
Rendah
Kurang aktif
0 – 54
Sangat rendah
Sangat kurang aktif

4.      Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) maka prosedur penelitian ini sesuai dengan prosedur penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam suatu proses berdaur/bersiklus. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Hal ini sesuai dengan pendapat Kemmis S. dan M.C. Tanggrat (dalam Karniti 2002:15) yang menyatakan bahwa PTK adalah siklus refleksi diri yang berbentuk spiral dalam rangka melakukan proses perbaikan terhadap kondisi yang ada mencarikan solusi dalam memecahkan masalah yang dihadapi dan dalam rangka menemukan cara-cara baru yang lebih baik dan lebih efektif untuk mencapai hasil yang lebih optimal.
Berdasarkan analisis terhadap permasalahan yang ada, penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari 2 (dua) siklus, setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan dengan 4 (empat) fase, yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi tindakan dan refleksi terhadap tindakan yang telah dilakukan pada setiap siklus. Namun demikian, keputusan untuk melanjutkan atau menghentikan penelitian pada akhir siklus tertentu sepenuhnya bergantung pada hasil yang dicapai pada siklus terakhir. Bila hasil yang dicapai telah memenuhi kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan, maka penelitian dihentikan dan apabila belum mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan, maka penelitian dilanjutkan ke siklus berikutnya.
Untuk lebih jelasnya prosedur pelaksanaan, perbaikan pembelajaran dapat diilustrasikan pada diagram berikut.



Perencanaan siklus I

Pelaksanaan siklus I

Refleksi siklus I

Perencanaan siklus II

Observasi dan Evaluasi siklus I

Pelaksanaan siklus II

Siklus ke n

Observasi dan Evaluasi siklus II
























Keterangan gambar:
a.      Perencanaan siklus/Rencana tindakan
Berdasarkan temuan yang diperoleh. Disusun perencanaan perbaikan pembelajaran. Pada tahap ini hal-hal yang perlu disiapkan adalah sebagai berikut. 1) Perencanaan perbaikan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), 2) Pengembangan materi, 3) Menyiapkan media pembelajaran, 4) Menyusun instrumen penelitian.

b.      Pelaksanaan siklus/Pelaksanaan tindakan
Kegiatan yang dilakukan dalam tahapan tindakan ini adalah sebagai berikut. 1) Menyiapkan salam dan mengecek kehadiran siswa, 2) Memberikan apersepsi terkait dengan materi pelajaran, 3) Menyampaikan tujuan pembelajaran dan kegiatan yang akan dilaksanakan, 4) Memberi permasalahan yang akan di diskusikan masing-masing kelompok, 5) Memberikan kesempatan kepada setiap kelompok untuk menyampaikan hasil kerja kelompoknya, 6) Memberikan kesempatan bertanya kepada siswa, 7) Memberikan bimbingan kepada siswa, 8) Mengevaluasi proses dan hasil kegiatan diskusi melalui lembar observasi, 9) Melaksanakan evaluasi akhir, 10) Bersama siswa menyimpulkan pembelajaran yang telah dilaksanakan, dan 11) Menutup pelajaran dan memberikan tindak lanjut.

c.       Observasi dan Evaluasi
Observasi dilakukan selama tindakan berlangsung dari awal sampai akhir. Observasi bertujuan mengetahui kekurangan dan kelebihan yang terjadi selama tindakan. Kekurangan dan kelebihan yang ditemukan bias dijadikan sebagai pedoman dalam tindakan berikutnya agar tidak terjadi kesalahan yang sama. Evaluasi dilakukan setelah tindakan berlangsung. Evaluasi bertujuan mengetahui nilai siswa berdasarkan pedoman kriteria penilaian. Hasil yang diperoleh ini dapat dijadikan umpan balik dalam menentukan rencana selanjutnya. Observasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1)      Mengamati keterampilan proses siswa dalam melaksanakan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.
2)      Memberikan tes untuk mengetahui hasil belajar siswa.



d.      Refleksi
Refleksi ini dilakukan untuk merenungkan dan mengkaji hasil tindakan pada siklus I mengenai hasil belajar IPS dan keaktifan belajar IPS. Hasil renungan dan kajian tindakan siklus I ini, selanjutnya dipikirkan untuk dicari dan ditetapkan beberapa alternatif tindakan baru yang diduga lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar IPS dan keaktifan belajar dalam mata pelajaran IPS. Alternatif ini akan ditetapkan menjadi tindakan baru pada rencana tindakan dalam penelitian tindakan siklus II.





DAFTAR PUSTAKA


Agung, A.A Gede. 1998. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Singaraja: STKIP Singaraja.
Depdikbud. 1995. Metodik Khusus Pengajaran IPS di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud, Rineka Cipta.

Hamalik Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.

Hidayat, Mujinem, dkk. 2008. Pengembangan Pendidikan IPS di SD. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Joni. 1984. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdikbud.

Nurkancana, Wayan dan P.P.N Sunartana. 2002. Evaluasi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Uno, Hamzah. 2008. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.


Refleksi siklus II


0 komentar:

Poskan Komentar