JASA ADMINISTRASI BP BK MURAH HUBUNGI KAMI DI 081222940294 DETAIL HARGA KLIK DISINI

Contoh Makalah Pembelajaran Tematik

Contoh Makalah Pembelajaran Tematik

JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini

Atau Cek FB Kami Disini


BAB II
PEMBAHASAN
A.           Implementasi Pembelajaran Tematik 
Pada dasarnya pembelajaran tematik sama halnya dengan model pembelajaran terpadu, hanya menggunakan satu tema untuk mengkaitkan kebeberapa mata pelajaran lainnya. Dalam hal ini anak bisa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih bermakna karena sama halnya dengan mempelajari diri sendiri. Menurut Indrawati (Trianto, 2011 : 149) menyatakan pembelajaran tematik merupakan pembelajaran yang melintasi batas-batas mata pelajaran untuk berfokus pada permasalahan kehidupan yang komperhensif atau dapat disebut dengan studi luas yang mengabungkan berbagai bagian kurikulum ke dalam hubungan yang bermakna. Dapat diketahui dari pernyataan tersebut bahwa pembelajaran tematik sangat terintegrasi dari kehidupannya sendiri namun tetap mengacu pada kurikulum. 
Implementasi pembelajaran tematik, disini melakukan pengumpulan data dengan melakukan observasi di SD Negeri 01 Dangdang pada kelas II berjumlah 53 siswa. Di sekolah ini kurikulum yang digunakan adalah berbasis Kurikulum Tingkat  Satuan Pendidikan (KTSP)  tahun 2006, namun dalam mengimplementasi pembelajaran tematik dalam proses pembelajaran berdasarkan pada satu tema yang dihubungkan dengan mata pelajaran yang lain. Pada tahun 2014-2015 Kurikulum 2013 pernah di aplikasikan dalam SD Negeri 01 Dangdang, hanya di berlakukan selama satu semester di kelas 1, 2, 4, dan 5. Hal yang melatarbelakang tidak diterapkan disemua kelas semata-mata karena mengikuti aturan pemerintah pada saat itu. Namun Kurikulum 2013 tidak diberlakukan kembali di sekolah ini karena pada saat itu masih dalam tahap percobaan. 
Perubahan kurikulum yang terjadi dalam Kemendikbud, kurikulum 2013 telah berjalan selama kurang lebih setengah tahun.  kemudian di SD Negeri 01 Dangdang diganti oleh Kurikulum Tingkat  Satuan Pendidikan (KTSP)  tahun 2006. Dalam Kurikulum 2013 pembelajaran yang telah diterapkan yaitu menggunakan pendekatan pembelajaran tematik integratif. Sedangkan Kurikulum Tingkat  Satuan Pendidikan (KTSP)  tahun 2006 menggunakan pendekatan buku secara terpisah pada tiap mata pelajaran. Dalam pembelajaran kurikulum KTSP tahun 2006 tentunya baik guru ataupun siswa memiliki suatu kendala. Berikut ada beberapa kendala dalam mengimplementasikan pembelajaran tematik di SD Negeri 01 Dangdang yaitu: 
1.    Pengelolaan kelas 
Di kelas II SD Negeri 01 Dangdang dengan jumlah 53 siswa. Menurut Arikanto (2000) menyatakan bahwa pengelolaan kelas merupakan pengadministrasian, pengaturan atau penataan suatu kegiatan secara umum. Jadi dari pernyataan tersebut pengelolaan kelas sangatlah penting untuk menciptakan suatu proses pembelajaran secara kondusif. Kendala ini terjadi karena terlalu banyaknya siswa sehingga guru tidak dapat memperhatikan secara satu persatu, yang terjadi suasana kelas menjadi gaduh dan siswa yang memperhatikan guru hanya anak-anak yang duduk dibangku paling depan saja. 
2.    Penggunaan buku Lembar Kerja Siswa (LKS) atau buku paket yang belum bertema.
Dalam hal ini mengacu pada sumber belajar pokok siswa yaitu buku Lembar Kerja Siswa (LKS), satu mata pelajaran hanya menggunakan satu buku. Penggunaan buku Lembar Kerja Siswa (LKS) seperti ini menjadi kendala bagi guru karena guru sulit menggabungkan kedalam mata pelajaran lain atau sulit mengambil tema. Selain itu hal ini juga membuat siswa menjadi kesulitan dalam proses pembelajaran selama satu hari harus membawa buku lebih dari satu. Namun dampak yang dirasakan ada beberapa siswa yang tidak membawa buku Lembar Kerja Siswa (LKS) sehingga banyak yang mengeluh. Ketika guru mengarahkan siswa untuk ikut bergabung dengan teman yang membawa buku Lembar Kerja Siswa (LKS) yang terjadi mereka akan bermain sehingga tidak memperhatikan guru. 
3.    Kemampuan yang berbeda-beda
Pada saat pengumpulan data materi yang diajarkann mengenai Bahasa Indonesia, ketika dalam proses pembelajaran di SD Negeri 01 Dangdang ada beberapa siswa yang memiliki kesulitan dalam membaca. Hal yang melatarbelakang ini banyak siswa yang masuk ke sekolah tidak mengikuti jenjang PAUD terlebih dahulu, sehingga ketika masuk di sekolah dasar para siswa belum memiliki bekal yang cukup. Dampak yang terjadi ada sebagian siswa yang sudah selesai mengangu siswa lain yang belum selesai sehingga menimbulkan kegaduhan antar siswa. 
4.    Kurang Fasilitas dari pihak sekolah
Kondisi kelas yang terlihat pada saat itu sangatlah sederhana dan banyak barang-barang yang tidak layak untuk dipakai masih disimpan di kelas. Pada dasarnya pembelajaran bertema telah menuntut guru harus berperan aktif dalam proses pembelajaran dengan harus menyediakan alat-alat sebagai media pembelajaran serta dapat membuat siswa agar tidak bosan dalam proses pembelajaran sehingga guru harus terus memiliki ide yang bagus yang dapat diaplikasikan di dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini dari pihak sekolah belum ada tindak lanjut mengenai penyediaan fasilitas yang mengacu pada sarana prasarana. 
5.    Siswa yang terlalu aktif
Kendala seperti ini sering terjadi dimana anak yang aktif akan sulit dikontrol ketika guru menjelaskan sehingga guru harus memiliki keahlian dengan kecakapan yang khusus. Siswa seperti ini cenderung ingin menjadi siswa yang berbeda dari teman yang lainnya dengan tujuan untuk agar menjadi pusat perhatian pada guru. 
Guru dalam melakukan pembelajaran tentunya ketika menemukan kendala, dalam sat itu juga harus bisa mengatasinya. berikut adalah solusi untuk mengatasi kendala-kendala yang sudah tertulis, yaitu:
1.    Pengelolaan kelas 
Dalam hal ini guru harus dapat mengatur kelas secara efektif. Ketika dalam suatu kelas terdapat jumlah siswa yang terlalu banyak maka hal yang dilakukan oleh guru tersebut adalah antara siswa yang aktif dan siswa yg pasif dalam posisi duduk diatur dengan cara dicampur. Dengan tujuan agar para siswa yang aktif bisa lebih tenang ketika teman sejawatnya mengkondisikan untuk tenang. 
2.    Penggunaan buku Lembar Kerja Siswa (LKS) atau buku paket yang belum bertema.
Peran guru disini sebagai organisator dengan kata lain guru dapat mengelompokan materi-materi pembelajaran. Ketika terlalu banyaknya buku Lembar Kerja Siswa (LKS) yang harus dibawa maka guru harus dapat mengelompokkan satu mata pelajaran yang kemudian dihubungkan dengan mata pelajaran yang lain. 
3.    Kemampuan yang berbeda-beda
Solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah mengenai kemmpuan siswa yang berbeda-beda, ialah yang dilakukan oleh guru dengan cara menggabungkan antara teman sejawat. Oleh sebab itu siswa yang  memiliki kemampuan kurang bisa ikut belajar dengan siswa yang sudah mengerti. Pada dasarnya ada sebagian siswa yang mudah mengerti apabila yang menjelaskan itu teman sejawatnya sendiri dibandingkan oleh guru sebagai pengajar.
4.    Kurang Fasilitas dari pihak sekolah
Dalam hal ini dapat mengacu pada sarana dan prasarana yang bisa menunjang proses pembelajaran. Pada dasarnya fasilitas dalam sekolah adalah hal utama yang dapat menunjang keberhasilah dalam pembelajaran. Hal yang dapat dilakukan yaitu  dengan cara memberikan fasilitas sesuai pada kebutuhan siswa misalnya.
5.    Siswa yang terlalu aktif
Dalam hal ini guru harus dapat berperan sebagai fasilitator. Guru harus dapat mengarahkan siswa untuk dapat memperhatikan apa yang telah disampaikan sehingga dapat memahami materi. Solusi  yang dapat dilakukan yaitu dengan cara memberikan stimulasi bagi siswa misalnya tiba-tiba guru menarik perhatian siswa seperti bernyanyi atau sebagai penyemangat lainnya.
B.            Perencanaan Pembelajaran Tematik
Perencanaan pembelajaran tematik di SD Negeri 01 Dangdang ini memiliki perangkat pembelajaran yaitu kurikulum, silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Ibu Yeti Suryati, S.Pd adalah guru kelas II di SD Negeri 01 Dangdang menggunakan  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) hasil dari turunan guru-guru sebelumnya yang mengajar.  Jadi dalam pengajaran yang dilakukan tidak semata-mata mengacu pada Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah ada, melainkan disesuaikan pada kondisi pada saat mengajar. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dalam pembelajaran yang dilakukan dalam proses pembelajaran telah terlampir, berikut adalah uraian singkat mengenai RPP yang telah terlampir. Dalam perencanaan pembelajaran tematik meliputi :
1.    Identitas Mata Pelajaran meliputi:
a.    Tema meliputi tema yang akan dibahas pada mata pelajaran yang terjadi pada hari itu.
b.    Kelas atau semester merupakan penerapan yang akan dilakukan di kelas yang akan mengalami proses pembelajaran tematik.
c.    Alokasi waktu merupakan landasan mengenai waktu yang akan terjadi dalam pembelajaran tematik. 
2.    Standart Kompetensi merupakan standart yang akan menjadi landasan dalam proses pembelajaran. 
3.    Kompetensi dasar merupakan kompetensi yang akan di ajarkan di dalam kelas.
4.    Indikator merupakan sesuatu yang dapat memberikan petunjuk mengenai proses pembelajaran.
5.    Tujuan pembelajaran merupakan berkaitan dengan target apa yang akan dicapai oleh siswa. 
6.    Materi ajar adalah materi yang akan dibawakan di dalam kelas dalam proses pembelajaran. 
7.    Alokasi waktu tertera kembali guna memperjelas mengenai waktu yang akan terjadi dalam pembelajaran tematik. 
8.    Metode Pembelajaran adalah metode yang digunakan dalam proses pembelajaran.
9.    Langkah-langkah pembelajaran dalam hal ini pembelajaran  yang dilakukan  membahas mengenai proses pembelajaran yang terjadi dikelas seperti kegiatan pembuka, kegiatan inti, kegiatan penutup. 
10.  Penilaian meliputi cara pengambilan nilai yang terjadi selama satu semester guna untuk mengetahui siswa dapat memahami materi yang disampiakan selama satu semester.
11.  Alat dan sumber belajar; alat dan sumber belajar meliputi alat yang digunakan saat proses pembelajaran terjadi dan referensi mengenai sumber belajar.
C.           Proses Pembelajaran Tematik
Proses pembelajaran tematik yang menjadi landasan observasi yang dilakukan di SD Negeri 01 Dangdang kelas II yang dilaksanakan hari senin, 07 Maret 2016 dari pukul 07.00 sampai dengan 11.00 WIB. Pada saat dilakukan observasi pembelajaran yang  sedang berlangsung pertama adalah Bahasa Indonesia dan yang kedua Pendidikan Agama Islam. Metode yang digunakan dalam pembelajaran tematik ini adalah metode ceramah dan tanya jawab. Media pembelajaran yang digunakan berupa sebuah wacana yang berisi cerita yang terdapat dalam buku Lembar Kerja Siswa (LKS). Dalam suatu kegiatan pembelajaran tentunya memiliki strategi dalam melakukan proses pembelajaran. Berikut terdapat tiga tahap dalam strategi pembelajaran yaitu: 
a.    Kegiatan Pembuka
Pukul 07.00-08:30 WIB seluruh siswa dan para guru melaksanakan upacara bendera.  Pukul 09:00 proses pembelajaran dimulai dimana kelas II dan guru memasuki ruang kelas. Ketika seluruh siswa telah memasuki ruang kelas guru terlebih dahulu mengarahkan siswa untuk melakukan doa secara bersama-sama. Kemudian dilakukannya presensi secara satu persatu sehingga adanya interkasi antara guru dan siswa disertai dengan menanyakan kabar. Setelah guru selesai menyiapkan peserta didik maka proses pembelajaran mulai dilakukan dengan mengarahkan siswa untuk mempersiapkan alat tulis dalam hal ini untuk membuka materi yang akan disampaikan.  Setekah guru sudah mengkondisikan siswa guru mulai bersiap untuk memulai pembelajaran.
b.    Kegiatan Inti 
Mata pelajaran pertama yang pelajari adalah Bahasa Indonesia. Dalam hal ini guru memulai dengan mengajak siswa untuk secara bersama-sama membaca wacana dengan judul “hujan petir” yang sudah ada dibuku Lembar Kerja Siswa (LKS). Namun ketika pembelajaran dimulai ada beberapa siswa yang tidak membawa Lembar Kerja Siswa (LKS) yang kemudian guru mengatur siswa, yang tidak membawa buku untuk bergabung dengan siswa  yang membawa buku. Setelah siswa selesai membaca secara bersama-sama guru menunjuk dua siswa yang bernama madrifah dan  farah untuk membaca kembali di depan teman-temanya secara satu persatu. Kemudian guru mulai menjelaskan isi dari wacana tersebut dengan di hubungan pada kehidupan sehari-hari siswa. Interaksi yang terjadi disini antara guru dan siswa mulai banyak yang bertanya sehingga suasana kelas menjadi menarik. 
Dalam sewaktu-waktu siswa mulai bosan dengan dengan melakukan kebisinggan dan kegaduhan dikelas seperti ada yang bermain, lari-lari, mengangu teman yang sedang belajar, dan lain-lain. Ketika terjadi hal seperti yang hendak dilakukan oleh guru yaitu memberikan stimulasi dengan menarik perhatian siswa kembali berupa merapikan tempat duduk dengan cara bernyanyi bersama yang berkaitan dengan wacana tersebut yaitu “Tik-tik bunyi hujan”. Ketika ha ini dilakukan siswa mulai fokus  kembali pada pembelajaran dan akan mempermudah dalam memahami. Setelah siswa dapat memahami isi dari wacana guru memberikan tugas  seperti yang terdapat dalam Lembar Kerja Siswa (LKS). Tugas yang telah dikerjakan oleh siswa, guru langsung memberikan penilaian dimana siswa yang sudah selesai menggerjakan di kumpul terlebih dahulu disusul dengan siswa yang lain sampai semua siswa selesai mengerjakan tugas.
c.    Kegiatan Penutup
Proses penutup pembelajaran guru menyimpulkan semua materi yang telah dipelajari dengan diberi penguatan. Pada pertemuan selanjutnya guru memberikan pekerjaan rumah pada siswa. Setelah itu seluruh siswa diharapkan untuk membereskan bukunya dan duduk dengan rapi kemudian berdoa untuk pulang.
D.    Analisis data
Hasil yang di peroleh dari observasi yang penulis lakukanbahwa di sekolah dasar Negeri 01 Dangdang pada kelas II yang berjumlah 53 siswa dengan wali kelas yang bernama Ibu Yeti Suryati, S.Pd. Dalam sekolah ini melakukan implementasi pembelajaran tematik berdasarkan satu tema yang dihubungkan dengan mata pelajaran lainnya. Kurikulum yang digunakan di sekolah ini adalah Kurikulum Tingkat  Satuan Pendidikan (KTSP)  tahun 2006. Namun, Pada tahun 2014-2015 Kurikulum 2013 pernah di aplikasikan dalam SD Negeri 01 Dangdang, hanya di berlakukan selama satu semester di kelas 1, 2, 4, dan 5. Ketika pembelajaran yang dilakukan tentunya memiliki kendala-kendala seperti Pengelolaan kelas, Penggunaan buku Lembar Kerja Siswa (LKS) atau buku paket yang belum bertema, Kemampuan yang berbeda-beda, Kurang Fasilitas dari pihak sekolah, dan Siswa yang terlalu aktif. 
Dalam proses pembelajaran tentunya ada suatu kendala, namun dalam hal ini tentunya disertai dengan solusi untuk mengatasi kendala-kendala yang terjadi. Perencanaan pembelajaran tematik dari kurikulum, silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).  Guru kelas II di SD Negeri 01 Dangdang menggunakan  Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) hasil dari turunan guru-guru sebelumnya. Proses pembelajaran tematik terdapat tiga hal yaitu kegiatan pembuka, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. 
Secara umum pengajaran yang dilakukan dalam SD Negeri 01 Dangdang sudah cukup baik namun hanya ada beberapa yang perlu untuk diperbaiki. Dalam segi perencanaan pembelajaan tematik disini menggunaan perangkat pembelajaran dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Guru yang melaksanakan proses pembelajaran tidak membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sendiri yang disesuaikan dengan karakteristik para siswa melainkan hanya dari turunan guru-guru sebelumnya. Pada dasarnya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sangat diperlukan karena sebagai pegangan ataupun pedoman bagi guru, sehingga dalam perencanaan perlu ada pengembangkan menyesuaikan dengan kondisi siswa. 

Dengan demikian hal yang harus dilakukan guru ialah berpikir secara inovatif dan kreatif yang disesuaikan pada perkembangan zaman yang ada pada lingkungan masyarakat. Dalam segi pengajaran disini guru kurang menanggapi bahwa pentingnya memahami empat kompetensi guru. Apalagi guru-guru yang sudah lanjut usia yang mereka lakukan hanya mengajar sehingga mengenai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan empat kompetensi guru sedikit demi sedikit mulai terabaikan.

0 komentar:

Poskan Komentar