JASA ADMINISTRASI BP BK MURAH HUBUNGI KAMI DI 081222940294 DETAIL HARGA KLIK DISINI

PERAN BIMBINGAN KONSELING DALAM MEMOTIVASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI BAHASA ARAB

PERAN BIMBINGAN KONSELING DALAM MEMOTIVASI BELAJAR SISWA PADA BIDANG STUDI BAHASA ARAB


JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami Disini

A.    Konteks Penelitian
Bimbingan konseling merupakan proses yang menunjang pelaksanaan pendidikan di sekolah, dan yang menjadi subjek bimbingan konseling adalah individu yang bermasalah yang tidak mampu memecahkan masalahnya. Dalam suatu keadaan tertentu bimbingan konseling bisa dijadikan metode untuk mengatasi masalah siswa yang dapat mengganggu belajarnya. Tujuan bimbingan konseling yaitu membantu siswa dalam mengembangkan potensinya secara optimal.
Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah sangat diperlukan karena setiap siswa di sekolah dapat dipastikan memiliki masalah, baik masalah pribadi maupun masalah dalam belajarnya, dan setiap masalah yang dihadapi masing-masing siswa sudah pastilah berbeda.
Menurut Dzaky yang dikutip oleh Tohirin, mengklasifikasikan masalah individu termasuk siswa sebagi berikut:
Pertama, masalah yang berhubungan dengan problematika individu dengan Tuhannya. Kedua, masalah individu dengan dirinya sendiri. Ketiga, individu



dengan lingkungan keluarga. Keempat, individu dengan lingkungan kerja. Kelima, individu dengan lingkungan sosial.[1]
Bimbingan dan konseling sesuai dengan Undang-Undang yang dikutip oleh Prayitno dalam bukunya Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah, yaitu: “PP No. 28 dan 29 tahun 1990 dan PP No. 72 tahun 1991 pada dasarya mengemukakan bahwa bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan”.

Secara lebih spesifik, SK MENDIKBUD No. 025/0/1995 mengemukakan: bahwa bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal, dalam bidang bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melaui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku. [2]

Ada beberapa alasan mengapa bimbingan koseling diperlukan dalam penyelenggaraan program pendidikan di sekolah:
1.      Ada bebrapa masalah dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang tidak dapat ditangani oleh guru sebagai pengajar.
2.      Guru terikat oleh materi, tujuan pengajaran dalam kurikulum yang harus diselesaikan.
3.      Ada beberapa kegiatan dalam rangka mendidik siswa yang harus dilakuan oleh petugas sekolah selain guru (konseling).
4.      Kadang-kadang terjadi konflik antar siswa dan guru yang pemecahannya memerlukan banatuan pihak ketiga.[3]

Sekolah memiliki tanggung jawab yang besar untuk membantu siswa agar berhasil dalam belajar. Ketika siswa memiliki masalah dalam belajarnya, dalam kondisi seperti ini bimbingan konseling diperlukan dan yang bertanggung jawab atas program bimbingan konseling di sekolah adalah guru BK bukan guru (pengajar) karena pengajar terikat oleh materi, tujuan pengajaran dalam kurikulum yang harus diselesaikan.
Tiap-tiap siswa yang mempunyai masalah juga mempunyai dorongan untuk menyelesaikannya, namun karena keterbatasan adakalanya siswa tidak selalu berhasil dan bisa menimbukanl rasa putus asa. Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah harus diarahkan untuk membantu dan memotivasi siswa agar terus berusaha untuk menyelesaikan masalahnya. Motivasi-motivasi yang diberikan kepada siswa dapat menumbuhkan kesadaran atas tugas-tugasnya sebagai siswa dan dapat berkembang secara optimal. Dalam hal ini, guru BK berfungsi sebagai motivator.
Ajaran Islam melalui al-Qur’an dan Hadits berfungsi sebagai pengendali (control) yakni memberikan potensi yang dapat mengarahkan aktivitas setiap hamba agar tetap terjaga dalam pengendalian dan pengawasannya.[4] Dengan fungsi al-Qur’an sebagai pengendali ini perilaku siswa yang sekaligus sebagai hamba Allah SWT tidak menyimpang dari ajaran Agama Islam sehingga tercipta perilaku yang baik, benar dan bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungannya (masyarakat). Melalui pengendalian diri yang baik, cita-cita hidup dan kehidupan akan tercapai dengan baik dan sukses. Dengan demikian juga akan terwujud perkembangan yang positif, terjadinya keselarasan dan keharmonisan dalam kehidupan sosial secara vertikal, lebih-lebih secara horisontal (hablum minallah wa hablum minannas). Untuk memahami sumber ajaran Islam sangat dianjurkan mempelajari bahasa Arab karena kedua sumber ajaran Islam tersebut yaitu al-Qur'an dan Hadits diturunkan dengan menggunakan bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Asy Syura ayat 7:
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لاَرَيْبَ فِيْهِ فَرِيْقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيْقٌ فِي السَّعِيْرِ
Artinya:
Dan demikianlah Kami Wahyukan kepadamu al-Quran dalam bahasa Arab, agar engkau memberi peringatan kepada penduduk ibu kota (Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) di sekelilingnya serta memberi peringatan tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak diragukan adanya. Segolongan masuk surga dan segolongan masuk neraka.[5]

Bahasa Arab sebagai bahasa Al-qur’an dan As-Sunnah memiliki kedudukan yang istimewa bagi kalangan umat islam seluruh dunia termasuk indonesia. Di Indonesia Bahasa Arab merupakan mata pelajaran wajib di lembaga pendidikan yang berada di bawah Departemen Agama mulai dari tingkat Madrasah Ibtidaiyah sampai perguruan tinggi. Mempelajari dan memahami bahasa Arab sangat penting dalam membantu memahami sumber ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan Hadis, serta kitab-kitab berbahasa Arab yang berkenaan dengan Islam bagi peserta didik.

B.     Rumusan masalah
Dari pemaparan pokok pikiran di atas, maka peneliti ingin melakukan penelitian dan pengkajian tentang Peran Bimbingan Konseling dalam Memotivasi belajar Siswa pada Bidang Studi Bahasa Arab Kelas VIII MTsN 3 Mataram Tahun Pelajaran 2011/ 2012. Pada penelitian ini peneliti memfokuskan penelitian pada rumusan masalah penelitian sebagai berikut
1.      Bagaimana peran bimbingan konseling dalam memotivasi belajar Siswa pada bidang studi bahasa Arab kelas VIII MTsN 3 Mataram Tahun Pelajaran 2011/ 2012?
2.      Apa saja kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan bimbingan konseling dan bagaimana cara mengatasinya?

C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.    Tujuan Penelitian
Dari penelitian ini peneliti ingin mengetahui tujuan dan manfaaat penelitian. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu:
a.       Untuk mengetahui bagaimana peran bimbingan konseling dalam memotivasi belajar Siswa pada bidang studi bahasa Arab kelas VIII MTsN 3 Mataram Tahun Pelajaran 2011/ 2012.
b.      Untuk mengetahui apa saja kendala-kendala dalam pelaksanaan bimbingan konseling dan bagaimana cara mengatasinya.





2. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian mengetengahkan hal-hal yang dapat menjadi sumbangan baru dari hasil penelitian yang dilakukan bagi pengembangan keilmuan.[6]Dari tujuan penelitian di atas, hasil penelitian ini diharapkan dapat behrmanfaat baik bagi peneliti sendiri maupun bagi lembaga tempat peneliti melakukan penelitian khususnya para guru yang menjadi guru bimbingan konseling. Manfaat penelitian yang akan peneliti laksanakan dapat dibagi menjadi dua yaitu:
a.       Manfaat Secara Teoritis
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai informasi tambahan bagi para mahasiswa yang akan menyelesaikan tugasnya dibidang pendidikan terutama untuk mengetahui peran bimbingan dan konseling dalam bidang study bahasa Arab.
b.      Manfaat Secara Praktis
1)      Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi guru bimbingan koseling dalam membantu siswa-siswi yang memiliki masalah di MTsN 3 Mataram Tahun Pelajaran 2011/ 2012.
2)      Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi bagi peneliti berikutnya untuk meneliti lebih mendalam mengenai peran bimbingan konseling dalam meningkatkan prestasi siswa pada bidang study bahasa Arab.
D.    Ruang Lingkup dan Setting Penelitian
1.      Ruang Lingkup Penelitian
Agar penelitian ini jelas arah penelitiannya, maka perlu dibatasi ruang lingkupnya. Adapun ruang lingkup penelitian ini yaitu:
a.      Subjek penelitian.
Yang menjadi subjek penelitian ini adalah guru bimbingan koseling yang melaksanakan layanan bimbingan konseling di MTsN 3 Mataram Tahun Pelajaran 2011/ 2012
b.      Objek penelitian
Yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah kelas VIII MTsN 3 Mataram tahun pelajaran 2011/ 2012
2.      Setting Penelitian
Konselor sekolah adalah personal yang langsung bertanggung jawab atas program bimbingan dan konseling di sekolah. Konselor sekolah merupakan personal yang memahami dan mempunyai kompetensi dalam operasional bimbingan dan koseling di sekolah.[7] Jadi konselor merupakan seorang guru yang memiliki peranan penting dalam lembaga pendidikan (sekolah/madrasah). Sebagai konselor harus memiliki keterampilan yang profesional dan berpenglaman dalam menangani masalah siswa. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Arifin dan Kartikawati yang dikutip oleh Tohirin menyatakan: petugas bimbingan koseling di sekolah (termasuk madrasah) dipilih atas dasar kualifikasi: (1) kepribadian, (2) pendidikan, (3) pengalaman, dan (4) kemampuan[8]. Sedangkan yang menjadi kliennya adalah siswa-siswa yang berada di sekolah tersebut.

3.      Lokasi Penelitian
Adapun lokasi penelitian yang peneliti ambil yaitu MTsN 3 Mataram yang letaknya di Jalan Lingkar Jempong Kota Mataram Tahun Pelajaran 2011/ 2012. Sedangkan alasan peneliti mengambil lokasi ini adalah:
1.      Mts tersebut merupakan salah satu madrasah yang berada di Jalan Lingkar Jempong yang baru beberapa tahun dibangun.
2.      Lokasinya mudah dijangkau oleh peneliti.
3.      Masalah yang diteliti belum pernah diangkat oleh peneliti lain walaupun dalam lokasi yang sama.

E.     Telaah Pustaka
Dalam telaah pustaka ini peneliti menemukan hasil penelitian yang berkaitan dengan bimbingan konseling diantaranya:
1.      Oleh Sri Murtini, tentang:
Strategi Pelayanan Bimbingan dan Konseling dalam Membina Sikap Belajar Mandiri Siswa di MAN 1 Mataram Tahun Pelajaran 2007/ 2008
Hasil penelitian ini adalah:
Strategi layanan bimbingan dan konseling dalam membina sikap mandiri siswa di MAN 1 Mataram dalam bentuk bimbingan individual, bimbingan kelompok, bimbingan klasik, alih tangan, kunjungan rumah.
Penelitian ini lebih menitik beratkan pada layanan bimbingan konseling untuk menjadikan siswa tersebut menjadi siswa yang mandiri dalam belajar dengan beberapa layanan bimbingan yang diberikan kepada siswa yaitu bentuk bimbingan individual, bimbingan kelompok, bimbingan klasik, alih tangan, kunjungan rumah.
2.      Oleh: Fathurrahman, tentang:
Usaha-Usaha Guru Bimbingan dan Penyuluhan dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Sisiwa Kelas 1 pada Mata Pelajaran IPS Sejarah di MTs. Negeri Raba Bima.
Hasil penelitian ini adalah:
Dalam usaha mengefektifkan usaha-usaha mengatasi kesulitan belajar sisiwa kelas 1 pada bidang studi  IPS Sejarah, guru bimbingan dan penyuluhan dan guru bidang studi IPS Sejarah melakukan berbagai usaha dengan cara:
a.       Memberikan dan melengkapi sarana dan prasarana yang memadai
b.      Mengadakan kerja sama dengan personil madrasah
c.       Menyelenggarakan bimbingan belajar yang efektif dan efisien.
d.      Menyelengarakan bimbingan kelompok belajar.
e.       Mengadakan pertemuan dengan wali murid.
Penelitian ini lebih menitik beratkan pada bagaiman usaha guru bimbingan dan penyuluhan untuk mengatasi siswa-siswa yang mengalam\i kesulitan dalam belajar pada mata pelajaran IPS Sejarah.
3.      Oleh: Ilmiah, tentang:
Hubungan Layanan Bimbingan dan Konseling Dengan Moral Siswa Pada SMPN 1 Naramada Lombok Barat
Penelitian ini lebih menitik beratkan pada hubungan layanan bimbingan dan konseling dengan moral siswa. Jadi pada penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa bimbingan dan konseling sangat diperlukan di sekolah untuk memperbaiki moral siswa karena itu guru bimbingan konseling harus bekerja secara profesional.
Dari telaah pustaka di atas peneliti melihat ada kesamaan konteks penelitian yaitu bimbingan konseling di sekolah, namun yang menjadi perbedaannya yaitu peneliti meneliti tentang Peran Bimbingan Konseling dalam Memotivasi belajar Siswa pada Bidang Studi Bahasa Arab Kelas VIII MTsN 3 Mataram Tahun Pelajaran 2011/ 2012, karena Bahasa Arab merupakan salah satu mata pelajaran yang wajib dipelajari di madrasah Tsanawiyah karena itu untuk meningkatakan prestasi belajar siswa pada bidang studi bahasa Arab maka peran bimbingan konseling dalam memotivasi belajar siswa sangat diperlukan sesuai dengan fungsi dan tujuanya.



F.     Kerangka Teoretik
1.      Pengertian Bimbingan dan konseling
Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang diberikan kepada seseorang atau sekelompok orang secara terus-menerus dan sistematis oleh pembimbing agar individu atau sekelompok individu menjadi pribadi yang mandiri.[9]
Menurut Willis konseling adalah upaya bantuan yang diberikan seorang pembimbing yang terlatih dan berpengalaman terhadap individu-individu yang membutuhkannya, agar individu tersebut berkembang potensinya secara optimal, maupun dalam mengatasi masalahnya, dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang selalu berubah.[10]

Dari pengertian-pengertian di atas dapat diambil kesimpualan bahwa bimbingan konseling adalah proses pemberian bantuan kepada seseorang atau sekelompok orang oleh konselor yang terlatih dan berpengalaman, agar seseorang tersebut berkembang secara optimal dan mampu menyesuaikan diri baik di sekolah, keluaraga, dan masyarakat.

2.      Fungsi dan tujuan bimbingan dan konseling
Pelayanan bimbingan dan konseling khususnya di sekolah memiliki beberapa fungsi, yaitu:
a.       Fungsi Pemahaman yaitu: membantu peserta didik agar memiliki pemahaman terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama).[11]Sebelum pembimbing atau konselor memberikan bantuan kepada klien, terlebih dahulu konselor harus memahami tentang diri klien baik yang berkenaan dengan latar belakang pribadi, kekuatan dan kelemahannya maupun yang berkenaan dengan kondisi lingkungannya. Pehaman tentang diri klien oleh konselor bisa dijadikan bahan acuan dalam rangka kerja sama dengan pihak-pihak yang ikut membantu klien (siswa). Selain pembimbing, gurupun harus memahami siswa agar dapat melaksanakan pembelajran secara efektif dan efisien. Guru yang memahami siswa secara baik dapat melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan siswa sehinggan siswa dapat mengikuti pelajaran secara efektif dan efisien.
b.      Fungsi Preventif yaitu: upaya konselor untuk mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya supaya tidak dialami oleh konseli.[12] Fungsi preventif ini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya masalah yang dapat mengganggu perkembangan siswa.
c.       Fungsi Pengembangan yaitu: konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kodusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli.[13] Fungsi ini dimasudkan untuk membantu para sisiwa dalam mengembangakan potensinya secara optimal dan terarah. Selain itu hal-hal yang baik pada diri siswa tetap terjaga, dimantapkan dan dikembangkan.
d.      Fungsi penyembuhan yaitu: upaya memberikan bantuan kepada konseli yang telah mengalami masalah.[14] Fungsi ini dimaksudkan agar siswa terbantu dalam menyelesaikan masalahnya.
e.       Fungsi Penyaluran yaitu: membantu konseli dalam memilih kegiatan ekstrakulikuler, jurusan/ program studi.[15] Maksudnya konselor berupaya mengenali masing-masing siswa secara perorangan, selanjutnya memberikan bantuan menyalurkan ke arah kegiatan atau program yang dapat menunjang tercapainya perkembangan secara optimal, karena setiap siswa hendaknya memperoleh kesempatan untuk mengembangakan diri sesuai dengan bakat, minat, cita-cita yang dimiliki.
f.       Fungsi Penyesuaian yaitu: membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.[16] Keberhasilan siswa dalam belajar di sekolah banyak dipengaruhi oleh kemampuan menyesuaikan diri di lingkungan sekolah, karena sekolah memiliki peraturan tersendiri dengan segala tuntunan dan norma-normanya.
g.      Fungsi Perbaikan yaitu: untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berpikir, berperasaan dan bertindak.[17] Setiap orang pasti memiliki masalah apalagi siwa di sekolah, akan tetapi msalah yang dihadapi tiap-tiap indivudu jelaslah berbeda. Meskipun pelayanan bimbingan dan koseling seperti layanan pencegahan sudah diberikan, tetapi masih mungkin individu (siswa) mmemiliki masalah-masalah tertentu, sehingga fungsi perbaikan diperlukan,
Adapun tujuan bimbingan merupakan harapan yang ingin dicapai oleh klien setelah mendapat layanan bimbingan dari konselor. Tujuan bimbingan dan konseling yaitu untuk membantu individu agar memperoleh pencerahan diri, sehingga mampu menyesuaikan diri secara dinamis dan konstruktif, dan mampu mencapai kehidupan yang bermakna baik bagi dirinya maupun orang lain.[18] Sedangkan tujuan konseling yaitu memberikan bantuan dalam mengubah sikap dan prilakunya.[19]

3.      Peran Bimbingan Konseling dalam Pembelajaran
Layanan bimbingan konseling sangat dibutuhkan agar siswa yang memiliki masalah dapat terbantu, sehingga mereka dapat belajar dengan baik. Siswa yang memiliki masalah kadang-kadang tidak mengerti bagaiman cara mengatasinya, ada juga yang tidak tahu kepada siapa ia harus meminta bantuan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Apabila masalah mereka tidak dapat belajar dengan kosentrasi, dalam keadaan seperti ini peran bimbingan konseling dalam pembelajaran sangat diperlukan untuk mengatasi siswa-siswa yang terganggu konsentrasi belajaranya. Menurut Aqib dan Rohmanto layanan bimbinngan konseling dalam pembelajran ada tiga yaitu: Pertama, bimbingan belajar. Kedua, bimbingan sosial. Ketiga, bimbingan dalam mengatasi masalanya.[20]
a.       Bimbingan belajar dimaksudkan untuk mengatasi masalah-masalah yang yang berkaitan dengan kegiatan belajar. Bimbingan yang diberikan seperti: cara belajar, cara merencanakan waktu, cara mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan mata pelajaran tertentu.
b.      Bimbingan sosial dimaksudkan untuk membantu siswa dalam mengatasi masalahnya yang berkaitan dengan kehidupan sosial yang menggangunya dalam belajar. Menurut Ahmadi yang dikutip oleh Aqib dan Rohmanto bimbingan sosial ini dimaksudkan untuk: 1). Memperoleh kelompok belajar dan bermain yang sesuai. 2). Membantu memperoleh persahabatan yang sesuai. 3). Membantu mendapatkan kelompok sosial untuk memecahkan masalah tertentu.[21]
c.       Bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi, bimbingan ini dimaksudkan untuk membantu siswa dalam mengatasi masalah pribadinya agar kosentri belajarnya tidak terganggu dalam proses belajar mengajar.

4.      Pengertian motivasi belajar
Kata “motif”, diartikan sebagai upaya yang mendorong seserang untuk melakukan sesuatu.[22] Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yag ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.[23] Jadi motivasi adalah keadaan dalam diri seseorang yang menimbulkan suatu tindakan atau perbuatan untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Sedangkan belajar menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah berusaha mencari kepandaian atau ilmu.[24] Menurut Fahmi yang dikutip oleh Mustaqim dalam bukunya psikologi pendidikan bahwa:
إنَّ التَّعْلِيْمَ عِبَارَةٌ عَنْ عَمَلِيَّةٍ تَعْبِيْرٌ أوْ تَحْوِيْلٌ فِى السُّلُوْكِ أَو الْخِبْرَةِ
Sesungguhnya belajar adalah (ungkapan yang menunjuk) aktivitas (yang menghasilkan) perubahan-perubahan tingkah laku atau pengalaman.[25]
Belajar merupakan suatu usaha yang dilakukan seseorang untuk mencapai perubahan tingkah laku melalui pengalaman, baik pengalaman itu didapat dari lingkungan sekolah maupun dari lingkungan masyarakat.
Belajar juga bisa kita sebut sebagai suatu preoses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan dan perubahan merupakan hasil yang telah dicapai dari proses belajar. Bila seseorang telah berhasil dalam belajar, maka seseorang tersebut telah mengalami proses tertentu dalam belajar. Oleh karena itu proses belajar yang telah terjadi pada diri seseorang dapat dilihat dari hasil yang telah dicapai seperti dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti. Jadi motivasi belajar merupakan kekuatan mental yang mendorong terjadinya proses belajar. Bila motivasi belajar siswa lemah, guru yang sekaligus berperan sebagai pembimbing untuk membrikan dorongan–dorongan yang positif yang dapat memperkuat motivasi siswa untuk terus belajar, dan hasil atau prestasi siswa pun menjadi baik. Lemahanya motivasi atau tiadanya motivasi belajar akan melemahkan kegiatan belajar, selanjutnya mutu hasil belajar akan rendah.

5.      Jenis-jenis motivasi belajar
Motivasi terbagi menjadi dua yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan, motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar.[26]
Dari dua jenis motivasi di atas dapat dipahami bahwa Motivasi itu bisa terdapat dalam diri kita sendiri dan juga dari luar diri kita sendiri, motivasi dalam diri sendiri timbul karena adanya keinginan untuk mendapatkan sesuatu, jadi motivasi yang ada dalam diri kita sendiri ini murni tanpa pengaruh dari luar. Misalnya seorang siswa belajar dengan tujuan ingin mendapakan pengertian dari suatu ilmu yang dipelajari tersebut. Sedangkan motivasi yang timbul dari luar merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu. Misalkan seseorang siswa belajar karena ingin mendapat nilai bagus atau karena siswa tersebut akan menghadapi ujian. Kedua jenis motivasi ini sangat penting ditumbuhkan pada diri siswa agar menjadi siswa yang berprestasi.

6.      Fungsi motivasi dalam belajar
Hasil belajar akan optimal kalau adanya motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan kepada siswa maka makin berhasil pula pelajaran yang dicapai.Menurut Sadirman ada tiga macam fungsi motivasi yaitu:
1.       Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dar setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2.       Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3.       Menyelesi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujaun tersebut.[27]

Dari beberapa fungsi motivasi di atas motivasi juga berfungsi sebagai pendorong usaha dalam pencapain tujuan. Seseorang dapat melakukan usaha atau kegiatan karena adanya motivasi. Di sekolah adanya motivasi yang baik yang diberiakan oleh para guru kepada para murid dalam belajar akan menunjukan prestasi belajar yang baik pula.
7.      Bentuk-Bentuk Motivasi di Sekolah
Dengan motivasi, pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar. Dalam kaitannya dengan hal ini perlu diketahuai ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar.
Sadirman mengatan"ada beberapa bentuk motivasi di sekolah antara lain” yaitu: PertamaMemberi angkaKedua, hadiah. Ketiga, saingan atau kompetensi. Keempat, ego-involvement. Kelima, memberi ulangan. Keenam, mengetahui hasil. Ketujuh, pujian Kedelapan, hukuman Kesembilan, hasrat untuk belajar Kesepuluh, minat. Kesebelas, tujuan yang diakui.[28]
1.      Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari hasil belajar yang telah dicapai siswa yang berupa nilai. Dengan nilai yang baik yang telah dicapai oleh siswa bisa membuat siswa tambah giat dan semangat dalam belajar.
2.      Hadiah
Karena dengan hadiah yang diberikan kepada siswa yang berprestasi maka siswa akan merasa bangga atas hasil usahanya dan untuk mempertahankan prestasi tersebut siswa akan semakin giat dalam belajar jadi memberikan hadiah kepada siswa merupakan salah satu cara untuk memotivasi siswa untuk lebih giat lagi begitu juga untuk siswa yang tidak berprestasi .
3.      Saingan atau Kompetensi
Saingan atau kompetensi dapat dijadikan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan baik persaingan individual maupun persaingan kelompok dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.[29]
4.      Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting.[30] Maksudnya jika guru memberikan tugas atau PR kepada siswa maka siswa yang sadar akan pentingnya tugas yang diberikan kepadanya tersebut dia akan merasa malu untuk tidak mengerjakn tugas tersebut.
5.      Memberi ulangan
Para siswa akan menjadi giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu memberi ulangan ini juga menjadi sarana motivasi. Tetapi yang harus diingat oleh guru, adalah jangan terlalu sering (misalnya setiap hari) karena bisa membosankan.[31]


6.      Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswauntuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.
7.      Pujian
Apabila ada siswa yang sukses yang berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, perlu diberikan pujian. Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Oleh karena itu, supayapujian ini merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat.Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi gairah belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri
8.      Hukuman
Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi. Oleh karena itu guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman.
9.      Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan dan keinginan untuk belajar. Hal ini akan lebih baik, bila dibandingkan segala sesuatu kegiatan yang tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.
10.  Minat
Minat (interest) adalah kecendrungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.[32] Menurut Slameto (1991:182) minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.[33] Minat merupakan faktor dalam diri siswa yang mendorong siswa untuk melakukan sesuatu karena ada rasa lebih suka. Guru yang sekaligus sebagai pembimbing di kelas harus memperhatikan minat siswa dalam belajar agar tercapai proses bembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran.
11.  Tujuan yang diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa, Akan merupakan alat motivasi yang sangat penting' Sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasa sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.

8.      Unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa motivasi belajar itu terdapat dalam diri siswa, karena itu adapun unsur-unsur yang mempengaruhi motivasi belajar siswa yaitu:
1.      Cita-cita atau aspirasi siswa
Cita-cita akan memperkuat motivasi belajar intrinsik maupun ekstrinsik. Sebab tercapainya suatu cita-cita akan mewujudkan aktualisasi diri.[34]Motivasi belajar sudah tampak pada keinginan anak sejak kecl seperti keinginan berjalan dan sebagainya, untuk mencapi keinginan itu menumbuhkan kemauan yang giat keinginan inilah yang menjadi penguat untuk mencapai cita-cita. Dari segi pembelajaran, penguatan dengan memberikan hadiah atau juga hukuman (bentuk-bentuk motivasi di sekolah) akan mengubah keinginan menjadi kemauan, dan kemudian kemauan menjadi cita-cita.
2.      Kemampuan siswa
Kemampuan akan memprkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.[35] Keinginan seorang anak perlu dibarengi dengan kemampuan atau kecakapan mencapainya. Misalkan seorang anak (siswa) ingin membaca maka keinginan membaca tersebut perlu dibarengi dengan kemampuan mengenal dan mengucapkan bunyi-bunyi huruf.
3.      Kondisi siswa

0 komentar:

Poskan Komentar