JASA ADMINISTRASI BP BK MURAH HUBUNGI KAMI DI 081222940294 DETAIL HARGA KLIK DISINI

Proposal Tentang Pendekatan Guru BK Terhadap Siswa Yang Bermasalah

Proposal  Tentang Pendekatan Guru BK Terhadap Siswa Yang Bermasalah


JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami Disini


 A.  PENDAHULUAN
1.    Latar Belakang Masalah
Matematika sebagai salah satu mata pelajaran dasar pada setiap jenjang pendidikan formal yang memegang peran penting. Matematika merupakan alat yang dapat memperjelas dan menyederhanakan suatu keadaan atau situasi melalui abstrak, idealisasi, atau generalisasi untuk menjadi suatu studi ataupun pemecahan masalah.
Dalam pelaksanaan pembelajaran disekolah usaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswa banyak mengalami kendala dan hambatan. Lebih- lebih pada mata pelajaran matematika yang menuntut begitu banyak pencapaian konsep sehingga mengakibatkan motivasi belajar kurang baik. Motivasi belajar dapat dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu kemampuan yang berasal dari siswa,yang meliputi kecerdasan, bakat, minat, motivasi dan emosi. Sedangkan faktor eksternal berasal dari luar, meliputi lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Diantara ketiga lingkungan itu yang palingberpengaruh adalah lingkungan sekolah seperti guru, sarana belajar dan teman- teman sekelas.
Guru merupakan pihak yang berhubungan langsung dengan siswa. Sehingga dalam memberikan evaluasi diharapkan lebih akurat, objektif, dan mengoptimalkan pembelajaran. Masalah yang dihadapi misalnya masalah  kepribadian guru dan kompetensi, kecakapan mengajar, yang antara  lain mencakup ketepatan pemilihan metode pendekatan, motivasi, improvisasi, serta evaluasi.
Sampai saat ini banyak kesulitan yang dihadapi siswa dalam belajar matematika. Hal ini disebabkan karena banyaknya anggapan bahwa matematika sulit. Dengan anggapan itu akhirnya berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa.
Orang tua juga merupakan pihak yang berperan utama dalam penanganan anak. Sebab interaksi anak dengan orang tua tetap lebih besar porsinya dibanding dengan interaksi guru dengan anak di sekolah. Orang tua harus mampu menciptakan kondisi dan menyediakan sarana yang menunjang proses belajar anak.
Dengan demikian dapat diungkapkan bahwa guru menentukan keberhasilan belajar siswa. Kemampuan guru dalam melaksanakan poses belajar mengajar sangat bepengaruh terhadap tingkat pemahaman siswa. Biasanya guru menggunakan model pembelajaran konvensional dan metode ceramah sebagai cara untuk menyampaikan materi pelajaran. Melalui model pembelajaran konvesioanal dan metode ceramah, siswa akan lebih banyak pengetahuan, namun pengetahuan itu hanya diterima dari informasi guru, akibatnya pembelajaran menjadi kurang bermakna karena ilmu pengetahuan yang didapat oleh siswa mudah terlupakan.
Didalam proses belajar mengajar, guru harus memiki strategi agar siswa dapat belajar secara efektif dan efisien serta mengena pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu, guru harus menguasi teknik- teknik penyajian, atau biasanya disebut metode mengajar. Setiap materi yang akan disampaikan harus menggunakan metode yang tepat, karena dengan metode belajar yang berbeda akan mempengaruhi siswa dalam menerima pelajaran, terutama pelajaran matematika.
Berdasarkan hasil wawancara pada tanggal 20 April 2011 dengan Ibu Endang Wismiyati, S.Pd selaku guru mata pelajaran matematika di kelas VIII A SMP N 2 Kartasura, masih banyak siswa yang mendapat nilai rendah pada ulangan matematika, khususnya pada materi pokok bangun ruang, yaitu hanya sekitar 60 % siswa yang dapat mencapai ketuntasan klasikal. Hal ini terjadi karena beberapa faktor, antara lain: siswa merasa kesulitan dalam memahami konsep matematika, siswa kurang termotivasi untuk belajar matematika, dan siswa cenderung bersifat pasif dan kurang bisa bekerja dalam kelompok.
Dari uraian di atas maka salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi balajar siswa adalah pendekatan kontekstual. Pendekatan kontekstual dalam pembelajaran dikenal dengan sebutan Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep pembelajaran yang membantu guru untuk mengaitkan antara materi ajar denggan situasi dunia nyata siswa, yang mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dipelajari dengan  penerapannya dalam kehidupan para siswa sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dari konsepsi ini diharapkan hasil belajar akan bermakna. Proses pembelajaran akan berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Melalui pendekatan kontekstual tersebut diharapkan siswa mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dan bagaiman mencapai. Diharapkan yang dipelajari siswa berguna bagi hidupnya. Dengan demikian siswa akan memposisikan dirinya sebagai pihak yang memerlukan bekal untuk hidupnya nanti.
2.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut :
       a.       Adakah peningkatan motivasi belajar siswa pada bangun ruang di SMP N 2 Kartasura Kelas VIII Semester II Tahun Ajaran 2011/2012 melalui pendekatan kontekstual?
       b.       Apakah melalui pendekatan kontekstual dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada bangun ruang di SMP N 2 Kartasura Kelas VIII Semester II Tahun Ajaran 2011/2012?
3.    Tujuan Penelitian
Melakukan penelitian perlu adanya tujuan agar penelitian tersebut lebih terarah.  Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
       a.       Ada peningkatan motivasi belajar siswa pada bangun ruang di SMP N 2 Kartasura Kelas VIII Semester II Tahun Ajaran 2011/2012 melalui pendekatan kontekstual.
       b.       Melalui pendekatan kontekstual dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada bangun ruang di SMP N 2 Kartasura Kelas VIII Semester II Tahun Ajaran 2011/2012.
4.    Manfaat penelitian
Review ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik yang bersifat teoritis maupun yang bersifat praktis.
       a.       Manfaat teoritis
Peneltian ini dapat memberikan sumbangan terhadap pembelajar matematika terutama untuk Peningkatan Motivasi Belajar Siswa Melalui Pendekatan Kontekstual Pada Bangun Ruang di SMP N 2 Kartasura Kelas VIII Semester II Tahun Ajaran 2011/2012.
       b.       Manfaat praktis
Dilihat dari segi praktis, penelitian ini memberikan manfaat antara lain:
1)   Memberi sumbangan bagi guru matematika dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran matematika untuk meningkatan Motivasi Belajar Siswa Melalui Pendekatan Kontekstual Pada Bangun Ruang VIII Semester II Tahun.
2)   Memberi masukan bagi siswa bahwa dengan menggunakan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada bangun ruang Kelas  VIII semester II.
3)   Bagi sekolah, penelitian ini diharapkan memberi informasi dan masukan dalam menggunakan model pembelajaran kontekstual yang mampu meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di sekolah.
4)   Bagi peneliti, penelitian ini untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran matematika melalui pendekatan kontekstual sehingga mampu meningkatkan motivasi belajar siswa pada bangun ruang. Selain itu sebagai wahana uji kemampuan terhadap bekal teori yang diterima di bangku kuliah.
5)   Bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai perbandingan atau sebagai referensi untuk penelitian yang relevan.
5.    Definisi Istilah
Definisi masalah judul penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas terhadap objek pilihan penelitian dan untuk menghindari penafsiran yang salah mengenai judul penelitian ini, maka diperlukan gambaran atau batasan – batasan sebagai berikut :
       a.       Motivasi belajar siswa
Motivasi belajar adalah “pendorong” suatu usaha yang didasari untuk mempengaruhi tngkah laku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk belajar sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.
Motivasi bagi seseorang  guru adalah untuk menggerakkan atau memicu para siswanya agar timbul keinginan dan kemajuan untuk meningkatkan prestasi belajarnya sehingga tercapai tujuan pendidikan sesuai dengan yang diharapkan dan ditetapkan  di dalam kurikulum sekolah.
       b.       Pendekatan kontekstual
Pendekatan kontekstual merupakan suatu pendekatan baru dalam belajar pendekatan kontekstual adalah konsep belajar membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Sagala, 2006: 87).
 B.  LANDASAN TEORI
1.    Kajian Teori
a.    Peningkatan Motivasi Belajar Matematika
1)   Hakekat Matematika
Menurut johson dan myklebust dalam Abdurrahman (2003: 252) matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan hubungan-hubungan kuantitatif dan keruangan sedang fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berfikir.
Matematika memiliki sebuah sistem bahasa sendiri yang ditunjukkan dengan bentuk dan simbol. Hal ini secara esensial berkaitan dengan representasi hubungan di dalam dunia dan memanipulasi mereka. Pentingnya matematika tidak terlepas dari perannya dalam segala jenis dimensi kehidupan (Craft, 2003: 120).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian matematika adalah alat yang dapat membantu memecahkan permasalahan (perdagangan, industri, teknologi).
2)   Hakekat Belajar
Belajar adalah sesuatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2010: 2).
Belajar adalah suatu perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan itu dapat mengarah kepada tingkah laku yang lebih baik, tetapi juga ada kemungkinan mengarah kepada tingkah laku yang lebih buruk. Perubahan terjadi melalui latihan atau pengalaman dalam periode waktu cukup panjang. Perubahan ini disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman perhatian, biasanya hanya berlangsung sementara. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian baik fisik maupun psikis seperti perubahan dalam pengertian pemecahan masalah, keterampilan, kecakapan, atau kebiasaan ataupun sikap  (Purwanto, 2006:85).
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan pada diri seseorang melalui beberapa tahap untuk menjadi yang lebih baik.
3)   Konsep Motivasi Belajar Siswa
Motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya (Uno, 2008: 1).
Menurut Mc. Donald dalam Hamalik (2008; 158) motivasi adalah perubahan energi dalam diri pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian motivasi adalah dorongan pada diri seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
b.   Strategi Pembelajaran Kontekstual
1)   Hakikat pembelajaran
Akhmad Sudrajat (2008:1) pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
Pembelajaran atau pengajaran menurut Daeng (Uno, 2006: 134- 135) adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Secara implisit dalam pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, dan mengembangkan metode untuk mencapa hasil pembelajaran yang memliki hakikat perencanaan atau perancangan sebagai upaya untuk membelajarkan siswa.
Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpilan bahwa pembelajaran merupakan suatu interaksi peserta didik dengan pendidik dengan menggunakan media pembelajaran.
2)   Hakikat Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual (Contekstual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Nurhadi, 2002: 1).
Penerapan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar langkahnya adalah berikut ini:
a)    Konstruktivisme (constructivism)
b)   Menemukan ( inkuiry )
c)    Bertanya ( questioning )
d)   Masyarakat belajar ( learning community)
e)    Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran
f)    Refleksi ( reflection )
g)   Penilaian yang sebenarnya ( authentic assessment )
c.    Penerapan Strategi Pembelajaran Kontekstual dalam Pembelajaran Bangun Ruang
Langkah- langkah pendekatan kontekstual pada bangun ruang, yaitu:
1)   Peserta didik memberikan contoh benda- benda di sekitarnya yang berbentuk tabung dan kerucut.
a)    Contoh yang berbentuk tabung adalah drum minyak, celengan.
b)   Contoh yang berbentuk kerucut nasi tumpeng, topi ulang tahun.
2)   Peserta didik menyimpulkan pengertian tabung dan kerucut dari contoh yang disebutkan.
a)    Tabung adalah bangun ruang yang dibatasi oleh dua lingkaran kongruen yang berhadapan sejajar, dan titik pada kedua lingkaran yang bersesuaian saling dihubungkan dengan garis lurus. Terdiri dari sisi bawah (alas), sisi atas (tutup), selimut. Alas dan tutup berbentuk lingkaran yang kongruen, sedangkan selimut berbentuk persegi panjang.
b)    Kerucut adalah bangun ruang yang dibatasi oleh bidang lengkung dan bidang dasar yang berbentuk lingkaran.
3)   Peserta didik secara berkelompok membahas konsep bangun ruang sisi lengkung (Luas Permukaan Kerucut dan Tabung)
a)    Tabung
panjang selimut tabung              = keliling lingkaran
 = 2π r
lebar selimut tabung                    = tinggi tabung
luas selimut tabung                     = luas persegi panjang
 = p x l
 = (2π )× t
                                                                         = 2π rt
Luas lingkaran = π 2
Jadi Luas seluruh permukaan tabung dapat di peroleh
= Luas sisi alas + luas sisi atas + luas selimut
=π 2    + π 2  + 2π rt
= 2 (π 2    ) + 2π rt
= 2 π ( r + t )
b)   Kerucut
Luas Permukaan Kerucut
Luas sisi kerucut            = Luas Selimut + Luas Alas
= π 2 + π rs
= π )
4)   Peserta didik  mempresentasikan hasil diskusi.
5)   Peserta didik diberi evaluasi pada pertemuan terakhir oleh guru.
6)   Peserta didik diberi penilaian oleh guru selama proses pembelajaran berlangsung.
2.    Kajian Pustaka
Hasil penelitian yang relevan merupakan uraian sistematis tentang hasil- hasil penelitian yang telah dikemukakan sebelumnya yang berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan. Sebagai perbandingan dalam penelitian ini, peneliti akan menguraikan hasil- hasil penelitian terdahulu.
Juter ( 2005) menyatakan bahwa hasil penelitiannya untuk sebagian besar siswa, matematika dianggap pelajaran yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah, mengingat rumusnya, dan menimbulkan ide- ide baru. Kepercayaan diri siswa dapat menimbulkan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika.
Widiastuti (2006) menyatakan bahwa proses pembelajaran dapat dipengaruhi pemahaman konsep siswa dalam menerima materi ajar. Kecenderungan proses pembelajaran yang masih rendah dikarenakan masih diterapkannya pembelajaran konvensional. Oleh karena itu, untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa dalam menerima materi ajar dapat dilakukan melalui pendekatan kontekstual.
Berdasar pada hasil-hasil penelitian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa proses pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dapat dilakukan dengan beberapa tindakan dan metode yang berbeda sesuai dengan kondisi dan situasi siswa. Melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran matematika dan mengkaitkan persoalan matematika dengan hal-hal yang konkret sangat penting karena kita tahu bahwa konsep dalam matematika itu abstrak, sedangkan siswa pada umumnya berfikir dari ha-hal yang konkret menuju hal-hal yang abstrak.
3.    Kerangka Berpikir
Pada kondisi awal siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Kartasura mempunyai motivasi belajar metematika yang rendah. Hal ini dikarenakan guru masih kurang optimal memanfaatkan strategi pembelajaran. Pemilihan strategi yang tepat dapat meningkatkan motivasi belajar matematika.
Salah satu pembelajaran aktif yang dapat meningkatkan motivasi belajar matematika adalah strategi pembelajaran kontekstual. Prosedur strategi pembelajaran kontekstual adalah 1) Konstruktivisme (constructivism), 2) Menemukan (inquiry), 3) Bertanya (questioning), 4) Masyarakat belajar (learning community) 5) menghadirkan ‘model sebagai contoh pembelajaran. 6) Refleksi (reflection), 7) Penilaian yang sebenarnya (authentic assesment).
Kondisi akhir yang diharapkan dengan penggunaan strategi pembelajaran kontekstual dalam proses belajar mengajar dapat meningkatkan motivasi belajar matematika, sehingga siswa akan memenuhi prestasi belajar yang memuaskan.
4.    Hipotesis Tindakan
Berdasarkan hasil penelitian yang relevan dan kerangka pemikiran tersebut di atas dapat dirumuskan hipotesis tindakan “Melalui strategi pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan motivasi belajar matematika bagi siswa kelas VIII semester II SMP Negeri 2 Kartasura tahun 2011/2012.
 C.  METODE PENELITIAN
1.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). PTK adalah suatu penelitian yang dilakukan oleh guru kelas di sekolah tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praktis pembelajaran (Arikunto Suharsimi, 2006 : 96).
Penelitian ini dilakukan melalui proses kolaborasi antara guru matematika, kepala sekolah dan peneliti. PTK merupakan kegiatan pemecahan masalah yang bercirikan siklik dan reflektif yang dimulai dari 1) perencanaan (planning), 2) pelaksanaan tindakan (action), 3) mengumpulkan data (observing), dan 4) menganalisis data atau informasi untuk memusatkan sejauh mana kelebihan atau kelemahan tindakan tersebut.

0 komentar:

Poskan Komentar