JASA ADMINISTRASI BP BK MURAH HUBUNGI KAMI DI 081222940294 DETAIL HARGA KLIK DISINI

Bimbingan Konseling Belajar Berilmu

Bimbingan Konseling Belajar Berilmu


JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami Disini

PENDAHULUAN
Konseling merupakan proses bantuan untuk mengentaskan masalah yang terbangun dalam suatu hubungan tatap muka antara dua orang individu (klien yang mengahadapi masalah dengan konselor yang memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan). Bantuan dimaksud diarahkan agar klien mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu tumbuh kembang ke arah yang dipilihnya, sehingga klien mampu mengembangkan dirinya ke arah peningkatan kualitas kehidupan sehari-hari yang efektif (effektive daily living). Hubungan dalam proses konseling terjadi dalam suasana profesional dengan menyediakan kondisi yang kondusif bagi perubahan dan pengembangan diri klien.

Konseling profesional merupakan layanan terhadap klien yang dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan dapat dipertanggungjawabkan dasar keilmuan dan teknologinya. Penyelenggaraan konseling profesional bertitik tolak dari pendekatan-pendekatan yang dijadikan sebagai dasar acuannya. Secara umum, pendekatan konseling hakikatnya merupakan sistem konseling yang dirancang dan didesain berdasarkan teori-teori dan terapan-terapannya sehingga muwujudkan suatu struktur performansi konseling. Bagi konselor, penggunaan pendekatan konseling merupakan pertanggung jawaban ilmiah dan teknologis dalam menyelenggaraan konseling.

Persoalannya adalah, dalam kondisi riil, kebanyakan praktik konseling, baik dalam setting sekolah maupun di berbagai lembaga/instansi yang ada di masyarakat,  belum dilaksanaan secara profesional, dalam arti belum bertitik tolak dari pendekatan-pendekatan yang secara ilmiah dan teknologis dapat dipertanggungjawabkan. Prayitno menyatakan bahwa dalam praktiknya di masyarakat, tampak ada lima tingkatan keprofesionalan konseling, yaitu tingkat pragmatik, dogmatik, sinkretik, eklektik, dan mempribadi. Tingkat konseling pragmatik adalah penyelenggaraan konseling yang menggunakan cara-cara yang menurut pengalaman konselor pada waktu  terdahulu dianggap memberikan hasil yang optimal, meskipun cara-cara tersebut sama sekali tidak berdasarkan pada teori tertentu. Dalam praktik konseling dogmatik konselor telah menggunakan pendekatan tertentu, bahkan pendekatan tersebut dijadikan dogma untuk segenap permasalahan dari semua klien. Dalam penyelenggarakaan konseling sinkretik konselor telah menggunakan sejumlah pendekatan konseling, namun penggunaan pendekatan tersebut bercampur aduk tanpa sistematika ataupun pertimbangan yang matang.A.     PENDEKATAN, METODE DAN TEKNIK BIMBINGAN DAN KONSELING
1.   Pendekatan
Ada  tiga model pendekatan  konseling yang sudah banyak dikenal, yakni konseling direktif, konseling non direktif, dan pendekatan eklektik.  Artikel dibawah ini akan mencoba membahas pendekatan ini satu persatu.
a.   konseling direktif
Pendekatan ini bertolak dari asumsi bahwa manusia merupakan makhluk rasional  dan memiliki potensi-potensi yang bisa dikembangkan ke arah positif atau negatif. Manusia dipandang tidak akan bisa berkembang secara otonom, melainkan butuh pertolongan orang lain agar dapat mencapai batas kemampuannya secara penuh. Setiap orang merupakan pribadi yang unik yang memiliki aneka bakat dan kemampuan dan yang berusaha menata serta mengembangkan hidupnya dengan menggunakan potensi-potensinya yang unik itu.
·  Hakikat kecemasan seseorang adalah ketidak-pastian tentang cara menggunakan potensi-potensinya itu.
·  Tujuan konseling adalah menolong sang individu untuk secara bertahap dan pelan-pelan semakin memahami dan semakin terampil mengatur dirinya sendiri.
·  Teknik-teknik penting yang digunakan meliputi: mencoba menekan agara patuh, mengubah lingkungan, memilih lingkungan, mengajarkan aneka keterampilan yang diperlukan, dan mengubah sikap.
·  Tes-tes dan alat ukur lain juga banyak dipakai. Riwayat hidup konseli perlu diungkap agar konseling dapat dilaksanakan. Diagnosis dan prognosis merupakan keharusan. Klien harus dinasehati apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya.
·  Pendekatan direktif ini biasanya cocok dipakai terhadap klien-klien ‘normal’ yang butuh ditolong agar merasa siap menghadapi aneka tuntutan penyesuaian sebelum berkembang konflik-konflik di dalam dirinya. Dalam pendekatan ini si konelor berperan aktif.
b.  konseling non direktif
Pendekatan ini semula dikembangkan oleh Carl Rogers. Dewasa ini, pendekatan ini disebut sebagaikonseling yang berpusat pada klien.
Asumsi dasar yang melandasi pendekatan ini adalah bahwa manusia pada dasarnya rasional, baik, dapat dipercaya, bergerak ke arah aktualisasi diri atau ke arah pertumbuhan, keadaan sehat, realisasi diri, kebebasan, dan otonomi. Konsep diri atau cara sang pribadi mempersepsikan dirinya sendiri merupakan pengatur tingkah laku. Agar bisa mengatur dan menata tingkah laku sesuai dengan konsep dirinya, nmaka sang pribadi harus memiliki kontak yang baik dengan realitas.
·  Konseli merasa cemas sebab terjadi ketidakseimbangan antara konsep dirinya dan pengalamannya, karena kondisi-kondisi bagi rasa harga dirinya diperkosa, dan karena kebutuhannya akan penghargaan diri dikecewakan.
·  Tujuan konseling adalah menolong konseli agar kembali mampu mengarahkan dirinya sendiri serta mampu berfungsi secara penuh sebagai pribadi yang kongruen, masak, dan membuka diri terhadap pengalaman.
·  Teknik-teknik konseling yang digunakan meliputi bertanya, memberikan pengukuhan, bombongan dan sugesti. Semua ini dilakukan secara terbatas. Peran utama sang konselor adalah mengkomunikasikan penerimaan, penghargaan dan pemahaman.
Sikap dasar yang dianut adalah bahwa seorang individu memiliki kemampuan untuk berkembang dan berubah, sehingga ia pun mampu memecahkan sendiri masalah-masalhnya. Seorang konseli mendatangi seorang konselor tidak seperti seorang pasien mendatangi dokter agar didiagnosis dan diberi obat-obat untuk menghilangkan penyakitnya. Diagnosis dan prognosis dipandang berlawanan dengan proses konseling sendiri. Yang dilakukan oleh konselor adalah masuk ke dalam suasana permisif bersama si konseli, dan dengan begitu konseli diharapkan mampu menyalurkan energinya dan memanfaatkan sumber-sumber yang terdapat di dalam dirinya secara penuh.
Teknik konselingnya dipusatkan pada si konseli, bukan pada masalahnya. Konselor memudahkan berlangsungnya proses konseling dengan cara sepenuhnya menerima konseli apa adanya, menciptakan suasana hangat penuh pemahaman, sehingga dalam suasana rasa aman semacam itu diharapkan konseli mampu menjadi dirinya sendiri dan mengungkapkan aneka perasaan serta sikapnya yang lebih dalam. Konselor tidak memberikan penilaian moral apapun, serta tidak menunjukkan rasa terkejut atau muak terhadap apa saja  yang  diungkapkan oleh konseli. Ia menyelami perasaan konseli sehingga akan mampu melihat dunia ini sebagaimana dilihat oleh konseli, dan selanjutnya memantulkan perasaan-perasaan kembali kepada si konseli. Konseli tidak memberikan nasehat, atau penafsiran serba intelek atas perilaku dan perasaan konseli. Jadi, kualitas-kualitas yang dituntut dari para konselor yang berpusat pada klien adalah sikap-sikap kongruensi, empati, dan ketulusan tanpa syarat.
Seorang konselor non direktif bertindak sebagai sejenis katalisator. Ia berbicara sangat sedikit, sebaliknya menggunakan sebagian besar waktunya untuk mendengarkan dan menunggu. Dari waktu ke waktu ia berusaha memberikan komentar-tanggapan yang netral, mengucapkan ungkapan-ungkapan pendek berisi bombongan seperti “ya”, “saya mengerti”, atau “tolong, dijelaskan lebih lanjut”, dan harus mengulangi kalimat terakhir atau isis pernyataan yang dikemukakan konseli.
Jadi peran konselor adalah sebagai fasilitator dan reflektor. Tugasnya adalah menolong konseli memahami dirinya, menjernihkan serta merefleksikan  kembali perasaan-perasaan dan sikap-sikap yang dinyatakan konseli. Konselor berusaha menciptakan iklim di mana konseli mampu melakukan perubahan di dalam dirinya. Penggunaan tes dan alat-alat ukur lainnya sangat dibatasi. Menyelidiki sejarah hidup konseli, membuat diagnosis dan prognosis dipandang bertentangan dengan hakikat proses konselingnya sendiri.
Dewasa ini jenis klien yang dilayani dengan pendekatan nondirektif ini tidak lagi dibatasi.
c.   konseling eklektik
Kata eklektik berarti menyeleksi atau memilih menggunakan teori-teori atau metode-metode yang cocok dari aneka sumber atau sistem.
Asumsi yang mendasari pendekatan eklektik ini ialah bahwa individu secara berkala membutuhkan pertolongan professional untuk memahami dirinya sendiri serta situasi-situasinya, dan mengatasi aneka masalahnya. Pertolongan istimewa ini harus bersifat mendidik. Seorang konselor eklektik berpendapat bahwa penggunaan sebuah pendekatan tunggal hanya akan membatasi gerak, di samping itu aneka sumber yang tersedia haruslah dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk memberikan pelayanan terbaik kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongan. Dalam melaksanakan tugasnya, konselor eklektik mengikuti sebuah filsafat dan arah yang konsisten, sedangkan teknik-teknik yang digunakannya pun dipilih karena sudah teruji bukan berdasarkan coba-coba belaka. Dengan bekal pengetahuannya tentang persepsi, prinsip-prinsip pengembangan, prinsip-prinsip belajar dan kepribadian, sang konselor eklektik mengembangkan sejenis bank metode, lalu memilih yang paling cocok untuk menangani suatu masalah tertentu.
Dalam konseling eklektik, konselor memiliki kebebasan metodologis untuk menggunakan aneka ktrampilan khusus yang dimilikinya serta memilih cara-cara demi memberikan pertolongan terbaik bagi konseli. Konseling eklektik menekankan pentingnya diagnosis dalam memahami seseorang. Para konselor yang mengikuti model ini haruslah mengenal indikasi-indikasi dari aneka metode yang sudah dikenal luas serta harus mampu menggunakannya tanpa bias. Sifatnya yang komprehensif menjadikan model ini popular, sedangkan cakupannya yang luas cocok dengan cita-cita demokratis untuk menolong memenuhi kebutuhan individual semua (maha) siswa.
Untuk menerapkan model eklektik ini maka para konselor harus diberi bekal persiapan yang lebih luas dan harus ada jalinan yang lebih baik antara apa yang dikerjakan oleh guru, konselor dan tenaga-tenaga ahli lainnya.
Konselor eklektik sering dipandang sebagai jalan tengah untuk menjembatani polarisasi antara konseling direktif dan konseling non direktif
2.   Metode
Metode bimbingan dan konseling yang dimaksud disini adalah cara-cara tertentu yang digunakan dalam proses bimbingan dan konseling. Implementasi dari cara-cara tertentu biasanya terkait dengan pendekatan-pendekatan yang digunakan oleh pengguna metode. Dalam kaitan ini, secara umum ada dua metode dalam pelayanan bimbingan dan konseling, yaitu metode bimbingan kelompok dan metode bimbingan individual. Metode bimbingan kelompok juga dikenal dengan bimbingan kelompok (group guidance), sedangkan metode bimbingan individual dikenal dengan individual konseling.
Metode Bimbingan Kelompok (Group Guidance)
Cara ini dilakukan untuk membantu siswa (klien) memecahkan masalah melalui kegiatan kelompok.  Segala masalah yang bisa dipecahkan bersifat kelompok, yaitu yang dirasakan bersama oleh kelompok atau bersifat perorangan yaitu masalah yang dirasakan oleh individu (seorang siswa) sebagai anggota kelompok.
Dalam penyelenggaraan bimbingan kelompok antara lain dimaksudkan untuk membantu mengatasi masalah bersama atau membantu seorang individu (anggota kelompok) yang mengalami masalah dengan menempatkannya dalam kehidupan suatu kelompok. Beberapa jenis metode bimbingan kelompok yang bisa diterapkan dalam pelayanan bimbingan kelompok adalah program home room, karyawisata, diskusi kelompok, kegiatan kelompok, organisasi siswa, sosio drama, psikodrama, dan pengajaran remedial.

1.    Program Home Room
Program home room dilakukan di sekolah dan madrasah (di dalam kelas) di luar jam pelajaran untuk membicarakan hal-hal yang dianggap penting dan perlu. Program ini dilakukan dengan menciptakan suatu kondisi sekolah atau kelas seperti di rumah. Guru dan siswa dapat berkomunikasi seperti di rumah sehingga terjalin keakraban.
Program ini bertujuan agar guru dapat mengenal lebih dekat siswanya sehingga dapat membantu secara efisien. Dalam praktiknya, guru mengadakan Tanya jawab dengan para siswa, menampung pendapat, dan merencanakan suatu kegiatan.

2.    Karyawisata
Dalam karyawisata para siswa dibagi dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok tergantung dari jumlah siswa dan kebijaksanaan guru. Namun, dalam membentuk kelompok jangan terlalu banyak dan sedikit. Setelah itu siswa dapat mengunjungi tempat-tempat atau objek-objek tertentu yang menarik dan mereka dapat memperoleh informasi yang lebih baik tentang suatu objek. Dalam hal ini misalnya siswa mengunjungi objek wisata Candi Borobudur. Mungkin siswa tidak mendapat informasi yang utuh tentang suatu objek hanya dengan diterangkan oleh gurunya.
Kemudian siswa mengerjakan tugasnya dan setelah selesai siswa dapat melakukan diskusi baik antar anggota kelompok maupun antar kelompok lain. Melalui kegiatan seperti ini, para siswa akan memperoleh penyesuaian dalam berkelompok misalnya dalam hal berorganisasi, kerja sama, rasa tanggung jawab, dan percaya pada diri sendiri. Bekerja sama dalam kelompok juga diharapkan dapat mengatasi masalah siswa yang mengalami kesulitan dalam bekerja sama.
3.    Diskusi Kelompok

3.   Teknik Bimbingan dan Konseling
Subjek sasaran bimbingan dan konseling adalah individu sebagai pribadi dengan karakteristiknya yang unik. Artinya tidak ada dua orang individu yang memiliki karekteristik yang sama. Atas dasar karakteristik pribadinya, guru pembimbing memberikan bantuan agar individu dapat berkembang optimal melalui proses pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri dan aktualisasi diri.. Untuk itu seyogyanya Guru Pembimbing memahami pribadi setiap individu yang dibimbing sehingga dapat melakukan tugasnya membantu siswa ke arah perkembangan yang optimal. Untuk hal ini, maka menurut Moh Surya( 1998: 4.1), Guru Pembimbing dituntut paling tidak memiliki dua kemampuan dan keterampilan yaitu : (1) Kemampuan dan keterampilan memahami individu yang dibimbing dan (2) Kemampuan dan keterampilan berupa teknik membantu individu. Dengan demikian teknik-teknik bimbingan dan konseling, mencakup teknik memahami individu dan teknik-teknik membantu individu.
 Langkah-Langkah Konseling :
a. Analisa : Pengumpulan data, fakta dan informasi tentang diri klien
b. Sintesa : Merangkum dan menyusun data untuk memperoleh ganbaran diri siswa
c. Diagnosa : Perumusan kesimpulan sementara tentang hakekat atau sebab yang dihadapi
d. Prognosa : Ramalan tentang hasil yang dicapai dalam proses konseling
e. Treatment : Proses konseling
f. Tindak lanjut/Follow up:mengevaluasi hasil konseling yang telah dilakukan dan mengambil langkah selanjutnya
Tahap-Tahapan Dalam Konseling Perorangan
a.    Tahap Awal
Pada tahap ini dilakukan pembinaan hubungan baik dengan siswa yang dibantu. Kontak awal antara pembimbing dengan siterbimbing akan sangat mempengaruhi wawancara konseling. Pada tahap awal ini yang perlu dilakukan adalah :
1. Penataan ruangan/fisik/mencari tempat yang kondusif
2. Sambutan dan perhatian terhadap kehadiran klien
3. Penjelasan maksud dan tujuan konseling
4. Penjelasan peranan dan tanggung jawab masing-masing
b.    Tahap Kegiatan
Pada tahap ini si pembimbing dengan beragam ketrampilan wawancara konselingnya berupaya untuk mendorong siswa ke arah pemahaman diri dan lingkungannya dalam kaitannya denga masalah yang sedang dihadapinya.
c.    Tahap Akhir
Tujuan tahap ini adalah agar siterbantu mampu menciptakan tindakan dan merencanakan, melakukan sesuatu tindakan sesuai dengan kesepakatan dan pemahaman selama proses wawancara konseling berlangsung. Pada tahap ini perlu pula digali kesan siswa/klien selama proses wawancara berlangsung.
B.     PENGELOLAAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING
1.  Organisasi Pelayanan Bimbingan
Organisasi pelayanan bimbingan meliputi segenap unsur dengan organisasi berikut:

a.   Kepala Sekolah
:
Adalah penanggung jawab pelaksanaan teknis bimbingan dan konseling di sekolahnya
b.  Koordinator BK / Guru Pembimbing
:
Adalah pelaksana utama yang mengkoordinasi semua kegiatan yang terkait dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah
c.   Guru Mata Pelajaran/ Pelatih
:
Adalah pelaksana pengajaran dan pelatih serta bertanggung jawab memberikan informasi tentang siswa untuk kepentingan bimbingan dan konseling
d.  Wali Kelas / Guru Pembina
:
Ada guru yang diberi tugas khusus disamping mengajar untuk mengelola satu kelas siswa tertentu dan bertanggung jawab membantu kegiatan bimbingan dan konseling di kelasnya
e.   Siswa
:
Adalah peserta didik yang berhak menerima pengajaran, latihan dan pelayanan bimbingan dan konseling
f.   Tata Usaha
:
Adalah pembantu kepala sekolah dalam menyelenggarakan administrasi, ketata-usahaan sekolah dan pelaksanaan administrasi bimbingan dan konseling
g.  BP3/POMG
:
Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan / Persatuan Orang Tua Murid dan Guru adalah organisasi orang tua siswa yang berkewajiban membantu penyeleng-garaan pendidikan termasuk pelaksanaan bimbingan dan konseling

2.  Personel Pelaksana Pelayanan Bimbingan
Personel pelaksana layanan bimbingan adalah segenap unsur yang terkait di dalam organigram pelayanan bimbingan, dengan koordinator dan guru pembimbing / konselor sebagai pelaksana utamanya. Uraian tugas masing-masing personel tersebut adalah sebagai berikut :

a.  Kepala Sekolah
1) Mengkoordinasikan segenap kegiatan yang diprogramkan di sekolah, sehingga kegiatan pengajaran, pelatihan dan bimbingan merupakan suatu kesatuan yang terpadu, harmonis dan dinamis
2) Menyediakan prasarana, tenaga, sarana dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan yang efektif dan efisien
3) Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program, penilaian dan upaya tindak lanjut pelayanan bimbingan
4) Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan di sekolah kepada Kanwil / Kandep yang menjadi atasannya

b. Wakil Kepala Sekolah
Wakil kepala sekolah membantu kepala sekolah dalam melaksanakan tugas-tugas kepala sekolah termasuk pelaksanaan bimbingan dan konseling

c. Koordinator Bimbingan
Koordinator bimbingan bertugas mengkoordinasi para guru pembimbing dalam :
1) Memasyarakatkan pelayanan bimbingan kepada segenap warga sekolah, orang tua siswa dan masyarakat
2) Menyusun program bimbingan
3) Melaksanakan program bimbingan
4) Mengadministrasikan pelayanan bimbingan
5) Menilai program dan pelaksanaan bimbingan
6) Memberikan tindak lanjut terhadap hasil perilaku bimbingan

d. Guru Pembimbing / Konselor
Sebagai pelaksana utama, tenaga inti dan ahli, guru pembimbing / konselor bertugas :
1) Memasyarakatkan pelayanan bimbingan
2) Merencanakan program bimbingan
3) Melaksanakan segenap layanan bimbingan
4) Melaksanakan kegiatan pendukung bimbingan
5) Menilai proses dan hasil pelayanan bimbingan kegiatan pendukungnya
6) Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian
7) Mengadministrasikan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan yang dilaksanakannya
8) Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan dalam pelayanan bimbingan kepada koordinator bimbingan

e. Guru Mata Pelajaran dan Pelatih
1) Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan kepada siswa
2) Membantu guru pembimbing mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan
3) Mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan kepada guru pembimbing
4) Menerima siswa alih tangan dari pembimbing
5) Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru – siswa dan siswa–siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan bimbingan
6) Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan bimbingan
7) Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa
8) Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian bimbingan dan upaya tindak lanjutnya.

f. Wali Kelas
1) Membantu guru pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya di kelas yang menjadi tanggungjawab
2) Membantu guru mata pelajaran / pelatih melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan
3) Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa untuk mengikuti / menjalankan kegiatan bimbingan

3. Mekanisme kerja
a. Guru mata pelajaran
Membantu memberikan informasi tentang data siswa, meliputi :
 Daftar nilai siswa
 Observasi
 Catatan anekdot
b. Wali Kelas
Disamping sebagai orang tua kedua di sekolah, juga membantu mengkoordinasi informasi dan kelengkapan data, meliputi :
 Daftar nilai
 Angket siswa
 Angket orang tua
 Catatan anekdot
 Laporan observasi siswa
 Catatan home visit
 Catatan wawancara
c. Guru pembimbing
Disamping memberikan layanan informasi kepada siswa juga sebagai sumber data yang meliputi :
 Kartu akademis
 Catatan konseling
 Data psikotes
 Catatan konferensi kasus
d. Kepala sekolah
Kegiatan guru pembimbing yang perlu diketahui oleh kepala sekolah, adalah :
       Melaporkan kegiatan bimbingan dan konseling sebulan sekali
       Laporan tentang kelengkapan data
Pola penanganan siswa bermasalah
Pembinaan siswa dilakukan oleh seluruh unsur pendidikan di sekolah, orang tua, masyarakat, pemerintah. Pola tindakan terhadap siswa bermasalah di sekolah adalah sebagai berikut : seorang siswa yang melanggar tata tertib dapat ditindak oleh kepala sekolah. Tindakan tersebut diinformasikan kepada wali kelas yang bersangkutan.  Sementara itu guru pembimbing berperan dalam mengetahui sebab-sebab yang melatarbelakangi sikap dan tindakan siswa tersebut.  Guru pembimbing bertugas membantu menangani masalah siswa tersebut dengan meneliti latar belakang tindakan siswa melalui serangkaian wawancara dan informasi dari sejumlah sumber data, setelah wali kelas merekomendasikannya.

4.  Beban Tugas Guru Pembimbing / Konselor
Sesuai dengan keputusan surat keputusan bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Nomor : 043/P/1993 dan Nomor 25 tahun 1991 diharapkan pada setiap sekolah ada petugas yang melaksanakan layanan bimbingan yaitu guru pembimbing / konselor dengan rasio satu orang guru pembimbing untuk 150 orang siswa, dan beban tugas / penghargaan jam kerja guru pembimbing ditetapkan 36 jam / minggu, yang meliputi :
1) Kegiatan penyusunan program layanan dihargai sebanyak 12 jam
2) Kegiatan melaksanakan pelayanan dihargai sebanyak 18 jam
3) Kegiatan evaluasi pelaksanaan pelayanan dihargai sebanyak 6 jam
4) Sebagaimana guru meta pelajaran, guru pembimbing yang membimbing dihargai sebanyak 18 jam.

5.  Hambatan dan Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah
1. Para pengelola sekolah masih beranggapan bahwa tugas sekolah adalah mengajar, oleh karena itu semua dana dan usaha dipusatkan untuk meluluskan sebanyak mungkin siswa agar mereka mendapat ijazah untuk melanjutkan sekolah.  Mutu sekolah diukur berdasarkan jumlah siswa yang lulus dengan nilai ijazah yang baik. Sekolah yang seperti ini kurang menghargai dan memperhatikan pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah. Kehadiran konselor di sekolah dipandang sebagai pemborosan biaya. Penanganan di serahkan pada wali kelas / guru. Tetapi di pihak lain wali kelas dan guru tidak mempunyai cukup waktu dan keahlian untuk memberikan bimbingan pada siswanya
2.  Kepala sekolah dan guru masih belum memiliki pengetahuan yang benar mengenai peranan dan kedudukan program bimbingan dalam kesatuannya dengan program pendidikan di sekolah.  Di pihak lain kepala sekolah memberikan tugas kepada petugas bimbingan yang bukan tugasnya, misalnya para konselor ikut menangani disiplin sekolah
3.  Banyak lembaga pendidikan konselor, seperti IKIP, kurang memberikan bekal praktek bimbingan kepada para calon petugas bimbingan. Akibatnya setelah lulus dan bertugas di lapangan, para petugas bimbingan kurang memahami tugas pokoknya.  Mereka sibuk daftar pribadi dan membantu tugas kepala sekolah dalam bidang administrasi sekolah, termasuk melakukan tugas disiplin sekolah.  Para siswa menangkap bahwa sifat BP sebagai pusat pengadilan, sehingga mereka takut terhadap pembimbing.
4.  Nama staf bimbingan memberikan kesan kepada guru bahwa fungsi bimbingan telah memiliki spesifikasi.  Oleh karena itu mereka bebas dari tugas membimbing siswa, jika menemukan siswa yang nakal, mereka menyerahkan / menyusun siswa yang nakal tersebut menghadap guru pembimbing

Banyak petugas bimbingan bukan lulusan studi psikologi pendidikan dan bimbingan banyak sarjana pendidikan non BP diberi tugas sebagai konselor sekolah.  Mereka umumnya guru yang berhasil mencapai gelar sarjana pendidikan. Akibatnya banyak program bimbingan tidak terlaksana dengan baik, bahkan banyak yang melanggar prinsip-prinsip bimbingan, misalnya seorang konselor menghukum siswa yang melanggar peraturan sekolah. Sehingga kesan siswa terhadap staff bimbingan sema















KESIMPULAN
Penyelenggaraan konseling profesioanal bertitik tolak dari pendekatan-pendekatan yang dijadikan sebagai dasar acuannya. Secara umum, pendekatan berdasarkan teori-teori dan terapan-terapannya sehingga mewujudkan ssuatu struktur performansi konseling. Bagi konselor,  penggunaan pendekatan konseling, yaitu pendekatan konseling Gestalat, Pendekatan konseling Behavioral, dan pendekatan Konseling rasional-Emotif. Masing-masing pendekatan akan ditelaah dari komponen : (1) konsep dasar, (2) asumsi tingkah laku bermasalah, (3) tujuan konseling, (4) deskripsi proses konseling, dan (5) teknik-teknik konseling.
Asumsi tingkah laku bermasalah menurut pendekatan konseling Behavioral adalah tingkah laku atau kebiasaan-kebiasaan negatif atau tingkah laku yang tidak tetap, yitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tuntutan lingkungan. Sehubungan dengan asumsi tersebut maka tujuan konseling Behavioral adalah penghapus/menghilangkan tingkah laku adaptif (masalah) untuk digantikan dengan tingkah laku baru yaitu tingkah laku adaptif yang diinginkan klien.
Hubungan personal antara konselor dengan klien merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses konseling. Dalam kaitan itu, teknik-teknik yang dilaksanakan selama proses konseling berlangsung adalah merupakan alat yang penting untuk membantu klien memperoleh kesadaran secara penuh.
Fungsi layanan Bimbingan dan Konseling
·  fungsi pemahaman
Memahami Karakteristik/Potensi/Tugas-tugas perkembangan Peserta didik dan membantu mereka untuk memahaminya secara objektif/realistik

·  fungsi preventif
Memberikan Layanan orien-tasi dan informasi mengenai berbagai aspek kehidupan yg patut dipahami peserta didik agar mereka tercegah dari masalah

·  fungsi pengembangan
Memberikan Layanan Bimbingan untuk Membantu Peserta didik Mampu Mengembangkan potensi dirinya/Tugas-tugas perkembagannya

·  fungsi kuratif
Membantu para Peserta didik agar mereka dapat memecahkan masalah yang dihadapinya (pribadi,sosial, belajar,atau karir)
DAFTAR PUSTAKA
Corey, Gerald.2004. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. Monterey, California : Brooks/Cole Publishing Company
May Rollo. 2003. The Art of Counseling. New Jersey : Prentice Hall, Inc
Prayitno. 2005. Konseling Pancawaskita. Padang : FIP Universitas Negeri Padang
Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Layanan Konseling Perorangan, Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Jakarta, 1998
Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Layanan Bimbingan Kelompok dan Layanan Konseling Kelompok, Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Jakarta, 1998
Departemen Pendidikan Nasional.2004. Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta. Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan Menengah.
Sukardi.D. Ketut. 1983. Dasar-dasar Bimbingan dan Penyuluhan Di Sekolah, Surabaya. Usaha Nasional.
Surya,H.M. 1998. Buku Materi Pokok Bimbingan dan Konseling. Yakarta. Universitas Terbuka.

0 komentar:

Poskan Komentar