JASA ADMINISTRASI BP BK MURAH HUBUNGI KAMI DI 081222940294 DETAIL HARGA KLIK DISINI

TEKNIK-TEHNIK DASAR PSIKOLOGI KONSELING DALAM WAWANCARA

TEKNIK-TEHNIK DASAR PSIKOLOGI KONSELING DALAM WAWANCARA


JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami Disini

Konseling merupakan suatu proses komunikasi antara konselor dan klien.sebagai suatu proses komunikasi, konseling akan mengakibatkan konselor sebagai pemberi informasi masalah yang dihadapi klien.
Wawancara merupakan suatu teknik bagaimana kita dapat  mengetahui dan memahami diri klien, juga dapat memberikan kesempatan kepada klien untuk mengenal kembali dirinya dan membagi jenis jenis kebutuhanya. wawancara sebagai alat komunikasi untuk mengetahui suatu permasalahan klien.dalam wawancra trsebut akan berhasil jika ada suatu cara atau teknik yang digunakan dengan tepat pada sasaranya.
Teknik yang digunakan dalam wawancara diantaranya:
Secara verbal :merupakan ungkapan, pikiran, keinginan yang dituangkan dengan kata2 atau berupa tanggapan verbal dari konselor untuk mewujudkan secara konkrit maksud dari pikiran ,perasaan, dan suasana batin klien.
Scara non verbal: yaitu bagaimana sikap konselor dalam berhadapan atau memberi tanggapan selama jalanya konseling seperti gerak badan dan pandangan mata,atau mimik wajah yang menunjukan ketidaksetujuan dan setuju terhadap pernyataan dan pembicaraan klien.
Teknik teknik non verbal dapat di tunjukan dalam bentuk sbb:
1.       Senyuman
2.       Cara duduk
3.       Anggukan kepala
4.       Gerak gerik lengan dan jari
5.       Berdiam diri
6.       Mimic (ekspresi wajah, romsn muka, air muka,raut muka)
7.       Kontak mata
8.       Variasi dalam nada suatra dan kecepatan bicara
9.       Sentuhan
Teknik ini dapat dikelompokn sebagai berikut:
A.      Memulai Konseling
Untuk melakukan opening atau membuka konseling perlu memperhatikan beberapa hal antara ain;
A.1. Penyambutan
Dalam menyambut kedatangan klien kita dapat menggunakan cara :             
1.       Verbal:
Yaitu konselor member slam atau menjawab salam, dengan disertai menyebut nama klien (jika sudah mengenalnya), jika belum dan memberikan isyarat untuk menanyakan namanya, dan mempersilahkan duduk,dll.
2.       Non –verbal yaitu konselor segera membuka pintu ruang konseling jabatan tangan, senyum dengan ceria, mendampingi atau mengiringi klien saat menuju tempat duduk, menempatkan klien pada tempat duduk yang lebih baik.
A.2. Pembicaraan Topik Netral
Setelah penyambutan selesai, kemudian klien merasa telah diterima, maka konselor dapat melanjutkan pembicaraan dengan topic netral lebih dahulu. Yaitu sifatnya umum dan tidak menyinggung perasaan klien dan belum masuk ke permasalahan yang di hadapi klien.
A.3. Pemindahan Topik Netral ke Konseling                                                                                                                        
Yaitu dengan memberikan atau menjembatani antara topic netral kepada masalah yang akan di bicarakan.
B.      Penerimaan dan Pengertian
Keberlangsungan konseling sangat ditentukan dari penerimaan dan pengertian dari diri klien itu sendiri dan juga pada diri konselor. Dengan penerimaan dan pengertian dapat menciptakan hubungan antara konselor dank lien menjadi harmonis.
Agar penerimaan dapat berlangsung dengan baik, maka konselor bisa juga menggunakan bentuk-bentuk yang tepat dan sesuai dengan situasi klien, diantaranya:
1.       Bentuk Verbal
Bagaimana konselor menangapi pembicaraan klien dengan penerimaan secara verbal dengan bentuk :
a.       Bentuk verbal pendek ; teruskan/terus, oh….ya, lalu/kemudian……yai…ya….ya..,hem dll
b.      Bentuk verbal panjang; saya memahami…,saya mengerti……..,saya merasakan………….,saya mengikuti, dll.
2.       Bentuk non-verbal
Pada bentuk ini dapat dengan anggukan kepala,posisi duduk condong ke depan, perubahan mimic, memelihara kontak mata, dll
C.      Mengulangi pernyataan
Pada teknik ini konselor berusaha mengulangi atau menyatakan kembali suatu pernyataan klien yang kiranya itu penting untuk diperjelas.
Dalam mengulami pernyataan ini harus diperhatikan:
1.       Pengulangan harus persis sama dengan pernyataan klien, tidak boleh menambah atau menguranginya.
2.       Intonasi konselor hendaknya variatif dengan memperhatikan pernyataan klien.

D.      Memaantulkan perasaaan
Merupakan suatu teknik dasar konseling untuk mengungkap sesuatu yang terdapat pada diri klien, sehingga klien lebih siap dan leluaa untuk menyampaikan perasaan dan pikiranya.atau bagaimana konselor mengorek atau meminta kepada klien untuk menuangkan perasaan dan pikiranya.menggunakan teknik ini dengan cara konselor merespon setiap penyataan dan gagasan klien, yaitu dengan mengembalikan, menanyakan kembali atau merumuskan setiap perasaan dan pikiran klien.
Memberikan respon untuk memantulkan perasaan harus menghindari kata kata atau sikap.,
1.       Kata kata atau pernyataan yang stereotip
2.       Pilih waktu yang tepat untuk merespon pernyataan klien
3.       Gunakan kata kata perasaan yang melambangkan perasaan? Sika[[p klien secaratepat
4.       Sesuaaikan bahasa yang digunakan kondisi klien
Contohnya:
Klien                      : saya sudah berusaha mengadakan pendekatan denganya secara baik-baik, tetapi ia tetap saja selalu menghindari saya.
Konselor              : sepertiny kamu kecewa denganya.
Beberapa pemantulan perassaan dengan merumuskan dan penjelasan dan pikiran dan gagasan dari klien itu sendiri, antara lain:
1.       Merumuskan pikiran dari gagasan klien(memantulkan isi
Yang dibutuhkan adalah suatu pernyataan atau ungkapan dalam bentuk refrentasi mental: yaitu meminta klien untuk dapat menceritakan suatu peristiwa, kejadian, atau pengalaman klien sendiri terhadap apa yang pernah dalami yang menjadi pengalaman baginya, baik itu menyenangkan ataupun tidak menyenangkan.
Bila terungkap secara eksplisit komponen refleksinya, maka konselor dapat merumuskan kembali dalam bentuk:
a.       Kata kata sendiri(konselor seperti;
Klien: saya berharap dengan pendekatan ini ia akan menerima saya;
Konnselor; anda yakin bahwa ia akan menerima anda!
b.      Menggunakan kata kata klien: sepertinya anda berharap pendekatan anda diterima
2.       Merumuskan perasaan
Yaitu memantulkan persaan klien tentang kejadian atau pengenalan yang dialami perasaanya lebih terarah pada komponen avektif.pemantulan perasaan ini dapat secara verbal maupun non verbal, tetapi harus jelas dan ekplisit.
Contoh:
Klien: ‘’saya sangat kecewa dengn cara ia menyampaikan berita itu!’’
Konselor:’’anda sangat jengkel ketika berita itu anda terima.’’
3.       Penjelasan pikiran dan gagasan
Sebelum merumuskan atau mengungkap kembali pesan klien, konnselor hendak mengecek(meminta penjelasan) apakah penangkapan(konselor)isi dan makna pesan klien benar benar tepat.
4.       Penjelasan perasaan; yaitu dapat menangkap isi perasaan yang terungkap.sifat dari penjelasan perasaan ini adalah tentative(bersifat dugaan atau rabaan)


E.       Klarifikasi
Klarifikasi adalah suatu teknik yang digunakan untuk mengungkapkn kembali isi pernyataan klien dengan menggunakan kata-kata baru dan segar. Dalam klarifikasi konselor perlu mendahului respon dengan kata-kata: pada dasarnya, pada pokoknya, pada intinya, singkat kata, dengan kata lain, dan seterusnya.
F.       Pembatasan
Teknik pembatasan ini terdiri dari beberapa batasan di antaranya:
1.       Pembatasan waktu
a. pembatasan yang datangnya dari klien
b. pembatasan yng datangnya dari konselor
                2. pembatasn peran
                3. pembatasan masalah
                Pada pembatasan masalah ini, konselor menawarkan klien untuk membahas masalah yang lebih di utamakan.
4. pembatasan tindakan
Kedatangan klien yang kadang kala terbawa emosi, sehingga saat konseling berlangsung dengan sendiriny, ia melakukan tindakan yang sulit dihindari. Oleh karena itu Konselor memberikan pesan kepada klien untuk tidak bertindak yang tidak wajar.

G.     Pengarahan
Pengarahan merupakan bentuk konseling dalam wawancara yang sangat berperan untuk tercapai tujuan konseling. Dalam pengarahan konselor dapat berbentuk pertanyaan, yang di ssampaikan secara langsung dan jelas pada sasaranya. Oleh karena itu dalam pengarahan banyak digunakan kalimat-kalimat Tanya, teknik ini digunaan selama proses konseling. Dalam teknik ini ada dua jenis pengarahan, yaitu pengarahan secara umum dan pengarahan secara khusus
G,1. Jenis pengarahan umum.
Dalam pengarahan secaara umum terarah pada klien untuk dapat mengungkapkan apa yang berada dalam perasaan dan pikiranya. Dengan pengaraahan ini konselor memberikan kesempatan kepada klien untuk mengelaborasi mengeksplorasi atau memberikan kesempatan pada klien untuk bereaksi atau menjawab berbagai  kemungkinan pertanyaan konselor yang diinginkan klien.misalnya
Klien                      : kemarin saya baru ketemu dengan ibu
Konselor              :bisa anda ceritakan pertemuan anda dengan ibu.

G.2. Jenis pengarahan khusus
Dalam arahan atau pertanyaan yang ditujukan kepada klien, dengan menanyakan kepadanya sesuatu yang khusus, seperti perasaaan, tingkah laku dan pikiran klien, terhadap masalahnya.
Misanya:
Klien               : saya telah melakukan motivasi untuk menghilangkan perasaan dan pikiran saya                    yang salah itu
Konselor       : bagaimana perasaan dan pikiran anda?

H.      Berdiam
Teknik berdiam digunakan pada pertengahan proses konseling berlangsung. Dalam diam suasana konseling menjadi hening  tidak ada interaksi verbal antara konselor dan klien. Dalam teknik ini tujuanya adalah memberikan kesempatan klien untuk istirahat atau mereorganisasi pikiran dan perasaan atau mereorganisasi kalimat yang akan dikemmukakanya. Teknik diam dapat dibagi dua, yaitu diam yang datangnya dari konselor dan yang datangnya dari klien.

H.1. Diam dari konselor
Teknik diam yang dari konselor, dimana konseling dan wawancra terpusat pada konselor dan pada saat yang tepat konselor dapat merespon dengan teknik dam. Misssanya, konselor merasa dirinya aktif berebicara, kemudian berusaha memutuskan untuk mengurangi keaktifan tersebut memberikan kesempatan kepada klien untuk lebih aktif dan bertanggung jawab.misalnya: klien
Sedang mengungkapkan emosinya, atau sedang menyampaikan pikiranya.
Klien                                    :“perasaan  saya ini menginginkan untuk melakukanya dan apkah saya  mampu untuk melakukanya
Konselor                             : :……………..(diam untuk memberikan kesempatan kepada klien istirahat sejenak untuk mereo
H.2. Diam dari klien
Pada teknik diam disini terjadi apabila wawancara atu konseling terjadi pada klien, maka pada kesempatan itu konselor memberikan teknik diam, karena klien telah mengungkapkan masalahnya dan telah menerima tanggung jawab atas perbuatanya. Setelah mengungkapakan masalahnya dank lien merasa lega atas ungkapanya, kemudian klien berhenti berbicara, Karena klien mau beristirahat setelah menuangkan masalahnya dan konfliknya. Maka saat diam itu klien itu dapat meneorganisasi pikiran dan perasaanya, serta dapat memadukan pengalaman-pengalamanya atau isu-isu baru kedalam dirinya.misalnya:
Klien                                :’’ ya, itulah saya selalu menggunakan kebiasaan kebiasaan orang tua saya sebagai menilau ukuraan tingkah laku isti saya sehingga ia selalu marah kepada saya. Kalau mengingat itu semua saya sedih sekali………………(klien diam)
Konselor                       : “……….(diam beberapa saat, untuk memberikan kepada klien untuk mengalami perasaan-perasaan secara mendalam.

Perlu diperhatikan saat memberikan kesempatan klien untuk diam jangan terlalu lama, yang memungkinkan klien akan berubah pandangan dan pikiranya, maka kita harus melihat kesempatan untuk membicarakan hal lain yang lebih cermat.

I. Penguatan
Maksud dari diberikannaya penguatan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan keyakinan klien, atas keraguan peryataan positif klien. Teknik ini dapat juga digunakan untuk memotivasi diri dan semangat klien supaya tabah dalam menghadapi masalh yang tidak menyenangkan bagi diri klien. Dalam teknik ini ada jenis-jenis yang sangat perlu diperhatikan, yaitu
1.      Prediksi Penguatan
Rencana klien yang semula dalam angan-angan yang kemudian diungkapkan dalam sebuah pernyataan yang positif, maka konselor memberikan peguatan terhadap apa-apa yang akan dilakukan atau rencan positif yang akan dilakukan klien. Misalnya :
Klien   : “Baru saya sadari bahwa selama ini saya kurang perhatian terhadap keluarga, dan mulai sekarang dan seterusnya saya akan lebih memperhatikan waktu untuk mereka.”
konselor
Konselor : “Itulah yang dibutuhkan dari keluargamu, apa bila anda melakukannya, pasti keluarga anda akan menerima keberadaanmu.”
2.      Posdiksi Penguatan
Konselor berusaha memberikan penguatan terhadap tingkah laku yang pernah dilakukan klien dan terlihat hasilnya. Maksudnya klien yang memberikan pernyataan tentang hasil yang telah dilakukannya berupa tingkah laku positif. Misalnya :
Klien   : “ setelah saya meninggalkan perbuatan itu, dorongan untuk melakukan itu muncul kembali dan saya berusaha memotivasi diri untuk tidak melakukannya dan sampai  saat ini saya tidak melakukan perbuatan tersebut.”
Konselor : “Baik sekali, dengan berusaha keras melakukan motivasi anda berhasil meninggalkan perbuatan negative tersebut.”
3.      Penguatan Faktual
Dalam menggunakan penguatan ini,perlu diperhatikan bahwa dalam memberikan penguatan factual jangan sampai salah arti atau maksud dari apa yang dinyatakan klien, karena hal itu hanya akan menghambat proses konseling. Misalnya :
Klien   : Saya baru saja dikhiati oleh teman saya, selama ini saya telah memberikan apa yang diinginkannya dan selalu memperhatikan dia dengan penuh perhatian dan kasih saying. Tiba-tiba sekarang saya ditinggal begitu saja tanpa sebab dan alas an yang dapat saya terima.
Konselor : “ Memang berat mengalami masalah seperti ini, dan merupakan suatu resiko dalam persahabatab antara lawan jenis. Tapi itu kenyataan yang diterima. Lebih baik saat ini ia meninggalkan daripada nanti, apabila telah terjalin suatu ikatan.”

J. Penolakan
Dalam teknik ini, konselor berusaha mengadakan penolakan, sewaktu klien mempunyai rencana atau keinginan untuk melakukan suatu perbuatan yang akan membahayakan atau merugikan dirinya dan orang lain. Bila dalam memberikan penolakan sebaiknya berdasarkan pertimbangan yang obyektif, agar tisak mengganggu hubungan yang telah terjalin dengan konselor. Misalnya :
Klien   : jika persoalan yang

K. Saran / Nasehat
Konselor memberikan saran/ nasehat kepada klien, dengan tujuan agar klien menjadi lebih jelas / lebih pasti mengenai rencana yang akan dilakukan. Dalam memberikan nasehat ini bisa diberikan dengan berbagai cara, yaitu :
1.      Nasehat secara Langsung
Saran dan nasehat ini diberikan konselor karena ketidaktahuan klien terhadap apa yang akan dikerjakan, maka konselor dapat memberikan secara langsung.
2.      Nasehat secara Persuasif
Saran dan nasehat ini diberikan konselor secara persuasive, yaitu memberikan kesempatan klien untuk mengerti apa yamg dikerjakan dan dirasakan karena klien mengemukakan alasan-alasan yang logis dari rencana yang dilakukan.
3.      Nasehat secara Alternatif
Saran dan nasehat ini diberikan konselor dengan mengemukakan kelebihan dan kelemahan yang akan dilakukan.

L. Kesimpulan
Kesimpulan merupakan suatu teknik yang sigunakan oleh konselor untuk menyimpullan segala sesuatu yang dikemukakan dalam proses wawancara konseling.
Apabila konselor harus member kesimpulan maka berusaha membuat kesimpulan dengan meminta jawaban dari klien, misalnya : “Demikian?” atau “Begitu?”.dalam memberikan kesimpulan ada dua cara, yaitu :
1.      Kesimpulan dengan bagian-bagian
Berdasarkan beberapa pembicaraan klien dengan konselor yang dipandang/ dianggap penting.
2.      Kesimpulan keseluruhan atau akhir
Merupakan kesimpulan yang dibuat konselor pada akhir wawancara konseling sebagai kesimpulan keseluruhan pembicaraan

M. Pengakhiran
Pengakhiran dalam konseling merupakan suatu teknik yang digunakan konselor untuk mengakhiri suatu konseling, baik mengakhiri untuk sementara atau dilanjutkan pada pertemuan berikutnya maupun memang mengakhiri karena konseling benar-benar telah selesai. Cara untuk mengakhiri konseling ini adalah :
1.      Berpedoman pada batasn waktu.
2.      Gunakan kesimpulan akhir.
3.      Mengingatkan klien terhadap tugas-tugas yang hendaknya dilaksanakan sebelum pertemuan yang akan datang.
4.      Memberikan tugas atau pekerjaan rumah kepada klien.

0 komentar:

Poskan Komentar