JASA ADMINISTRASI BP BK MURAH HUBUNGI KAMI DI 081222940294 DETAIL HARGA KLIK DISINI

PANDUAN PENILAIAN BIMBINGAN KONSELING

PANDUAN PENILAIAN BIMBINGAN KONSELING



JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami Disini


PANDUAN PENILAIAN BIMBINGAN DAN KONSELING A. Pengantar Semua guru yang terlibat di dalam pendidikan formal dituntut untuk mengembangkan sistem penilaian sendiri. Sistem penilaian mencakup jenis tagihan dan bentuk soal yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. (Depdiknas, 2003). Berkaitan dengan kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah, sama halnya dengan guru lain, guru bimbingan dan konselingpun dituntut mengembangkan sistem penilaian layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan kaidah-kaidah pelaksanaan bimbingan dan konseling. Karena bimbingan dan konseling bukan merupakan mata pelajaran, maka dalam pengembangan sistem penilaiannya berbeda dengan mata pelajaran. Kompetensi dan indikator yang diharapkan dari paparan mata diklat ini adalah agar peserta diklat mampu : 1. Menjelaskan pengertian, maksud dan tujuan penilaian layanan BK 2. Menjelaskan tahapan penilaian layanan BK 3. Mengidentifikasi tiga ranah penilaian dalam bimbingan dan konseling 4. Mengisi instrumen penilaian layanan BK Pendekatan yang digunakan dalam paparan mata diklat ini adalah pendekatan andragogi, dengan menggunakan berbagai metoda yang bervariasi. Mengingat peserta adalah pengawas yang kaya akan pengalaman lapangan, maka strategi yang digunakan antara lain : 1. Brainstorming 2. Diskusi 3. Presentasi 4. Penugasan 5. Praktek B. Materi Pokok Penilaian dalam Bimbingan dan Konseling Penilaian dalam bimbingan dan konseling dimaksudkan untuk mengetahui seberapa jauh kompetensi yang diharapkan dimiliki peserta didik yang telah mendapatkan layanan bimbingan dan konseling. Untuk itu setiap akhir pemberian layanan diperlukan adanya feedback untuk mengetahui keberhasilan layanan yang diberikan dengan mengetahui apakah kompetensi yang diharapkan dari materi yang diberikan sudah dimiliki oleh peserta didik. Dengan demikian maka yang perlu diketahui adalah kondisi nyata keadaaan peserta didik terkait dengan materi layanan yang diberikan. Sasaran penilaian bimbingan dan konseling berorientasi pada perubahan tingkah laku (termasuk di dalamnya pendapat, nilai, dan sikap) serta perkembangan siswa. Oleh karena itu penilaian dilakukan dalam proses pencapaian kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa tersebut. Penilaian bimbingan dan konseling ditujukan kepada penilaian dalam proses yang dapat dilakukan dengan : a. Mengamati partisipasi dan aktivitas siswa dalam kegistan layanan b. Mengungkapkan pemahaman siswa atas materi yang disajikan atau pemahaman atas masalah yang dialaminya. c. Mengungkapkan kegunaan layanan dan mengamati perkembangan siswa. d. Mengungkapkan kelancaran proses dan suasana penyelenggaraan kegiatan layanan. Sistem penilaian layanan bimbingan dan konseling adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Tahapan penilaian dalam bimbingan dan konseling dapat dipisahkan menjadi tiga tahap, yaitu penilaian segera (laiseg), penilaian jangka pendek (laijapen), dan penilaian jangka panjang (laijapan). Penilaian segera (laiseg) adalah penilaian tahap awal yang dilakukan segera setelah atau menjelang diakhirinya layanan yang dimaksud. Penilaian ini dapat diungkap dengan menanyakan kepada siswa tentang proses dan keadaan siswa terkait dengan materi layanan yang diberikan. Penilaian jangka pendek (laijapen) adalah penilaian lanjutan yang dilakukan setelah satu atau lebih jenis layanan dilaksanakan selang beberapa hari sampai paling lama satu bulan. Penilaian ini dapat dilakukan dengan mengobservasi (mengamati) ataupun mewancarai (menanyakan) dari beberapa sumber yang tahu tentang keadaan dan kondisi siswa yang diberi layanan. Penilaian jangka panjang (laijapan) adalah penilaian yang lebih menyeluruh setelah dilaksanakannya layanan dengan selang satu unit waktu tertentu, seperti satu semester. Penilaian ini biasa digunakan untuk mengukur keterlaksanaan suatu program bimbingan dan konseling secara menyeluruh baik dalam rentang satu semester, maupun selama satu tahun. Ranah di dalam penilaian terbagi ke dalam tiga ranah yaitu kemampuan berfikir, keterampilan melakukan pekerjaan, dan perilaku. Setiap peserta didik memiliki potensi pada dua ranah, yaitu kemampuan berpikir dan keterampilan, namun tingkatannya masing-masing individu dapat berbeda. Ada peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir tinggi, namun memiliki keterampilannya rendah, demikian pula sebaliknya. Ada pula peserta didik yang kemampuan berpikir dan keterampilannya biasa, tidak ada yang menonjol. Mempelajari setiap mata pelajaran memerlukan kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir termasuk ranah kognitif yang meliputi kemampuan menghafal, memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi. Kemampuan yang penting pada ranah kognitif adalah menerapkan konsep-konsep untuk memecahkan masalah yang ada di tengah masyarakat. Kemampuan ini sering disebut kemampuan mentransfer pengetahuan ke berbagai situasi sesuai dengan konteksnya. Kemampuan melakukan pekerjaan adalah psikomotor, yaitu kemampuan yang berkaitan dengan gerak, menggunakan otot. Peringkat kemampuan psikomotorik ada lima, yaitu : 1) gerak reflek, 2) gerakan dasar, 3)kemampuan perceptual, 4) kemampuan fisik, gerakan terampil, dan 5) komunikasi nondiskursip (Sax, 1980). Apabila peserta didik mempelajari suatu gerakan, maka akan tersimpan dalam sistem memori dan saraf, sehingga apabila peserta didik salah dalam mempelajari gerakan psikomotor maka sulit untuk memperbaikinya. Oleh karena itu guru harus merancang dengan baik pengembangan kemampuan psikomotor peserta didik. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau nilai. Menurut Popham (1995) ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. Orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit mencapai keberhasilan studi secara optimal. Selain itu ikatan emosional sering diperlukan untuk membangun semangat kebersamaan, persatuan, nasionalisme, rasa sosial, dan sebagainya. Beberapa kompetensi kecakapan hiduppun banyak bersentuhan dengan ranah afektif, seperti tanya jawab, kerja sama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur, menghargai pendapat orang lain, dan kemampuan mengendalikan diri. Kegiatan bimbingan dan konseling bertujuan membantu peserta didik mencapai kematangan dan kemandirian. Untuk mencapai itu perlu pengembangan secara utuh potensi peserta didik baik mencakup ketiga ranah penilian, yaitu ranah kognitif, psikomotor atau afektif. Suatu kenyataan banyak guru pembimbing yang diberi tugas untuk memberikan penilaian afektif. Hal ini dengan alasan guru pembimbing banyak bersentuan dengan ranah afektif. Walaupun sikap guru pembimbing memberikan nilai afektif itu bertentangan dengan kaidah-kaidah pelaksanaan bimbingan dan konseling. Guru pembimbing harus tahu tentang kondisi ranah afektif siswa, tetapi tidak harus menilai. Tugas menilai adalah tugas guru mata pelajaran, tetapi apabila guru pembimbing ditanyai tentang kondisi afektif siswa, guru pembimbing harus tahu betul. Untuk mengetahui kondisi tersebut guru pembimbing harus mampu mengembangkan berbagai instrumen penilaian, termasuk instrumen penilaian ranah kognitif. LKPS Format Penilaian BK RAHASIA PENILAIAN HASIL LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING LAISEG Hari, Tanggal Layanan : Jenis Layanan : Pemberi Layanan : Isilah titik-titik di bawah ini dengan singkat. 1. Topik-topik/masalah*) apakah yang telah dibahas melalui layanan tersebut? ............................................................................................................................................................................................................. 2. Hal-hal atau pemahaman baru apakah yang anda peroleh dari layanan tersebut? ....................................................................................................... ........................................................................................................ 3. Bagaimanakan perasaanmu sekarang? ........................................................................................................ ........................................................................................................ 4. Hal-hal apakah yang akan anda lakukan untuk mengembangkan diri? ............................................................................................................................................................................................................. 5. Apakah layanan yang anda ikuti berkaitan langsung dengan masalah yang anda alami? a. Apabila ya, keuntungan apa yang anda peroleh? ...................................................................................................................................................................................................... b. Apabila tidak, keuntungan apa yang anda peroleh? ................................................................................................. .................................................................................................. 6. Tanggapan, saran, pesan atau harapan apa yang ingin anda sampaikan kepada pemberi layanan? ..................................................................................................... ........................................................................................................ Tanggal mengisi : ....................... Nama pengisi : ....................... C. Contoh Kasus Kasus 1 Siswa bernama MW kelas XI-IA4 di SMA TN adalah anak pertama dari dua bersaudara. Prestasi hasil tes mid semester 1 MW memperoleh rata-rata di bawah KKM, dan harus mengulang dua mata pelajaran inti IA yaitu matematika dan fisika karena nilai yang diperoleh di bawah KKM. Diagnosis dan Pemeriksaan a. Pengunpulan data a. Studi dokumentasi · Nilai rata-rata rapor kelas X, 76,6 · IQ = 124 · Hasil tes psikologi menunjukkan: kepribadian sedang, dengan catatan belum bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan, pengendalian emosinya labil, kurang bisa bersosialisasi, aspek kecerdasan secara umum di atas rata-rata kelompoknya, daya juangnya kurang, sering ragu-ragu waktu memasuki kelompok sosial baru. b. Wawancara dengan MW · Merasa kurang bisa belajar dengan baik semenjak naik ke kelas XI · Kadang merasa terganggu dengan sikap teman · Pada tubuhnya pada perut sebelah kanan bawah terdapat warna biru tua yang dibawa sejak lahir. · Belum bisa menerima dan menyadari sikap teman terkait tanda khusus di tubuhnya. c. Wawancara dengan orangtua · MW kadang menjadi menutup diri bila tanda di tubuhnya diketahui oleh teman yang baru. · Harus diberi motivasi dan didampingi untuk menguatkan percaya dirinya. · MW sebenarnya anak yang memiliki kepedulian sosial yang tinggi, namun sering terhambat oleh tanda bawaan. · Kemampuan belajarnya tinggi, dan sering bersedia membantu temannya yang membutuhkan. d. Wawancara dengan teman satu kelas · MW anak yang rajin dan sering membantu teman-temannya · Namun MW sering menarik diri dari teman-temannya bila mulai saling kelakar dengan ungkapan-ungkapan yang berkait dengan hal-hal khusus terkait dengan diri siswa, seperti anak yang kurang rapi, suka pinjam catatan, dsb. e. Wawancara dengan teman satu graha · MW menjadi semakin menutup diri khususnya pada saat menjelang mandi. · MW sering terlihat menyendiri di kamar · MW sering terlihat tidak gairah belajar. b. Analisa data · Dari data yang ada dan diperoleh dari dokumentasi prestasi hasil tes mid semester termasuk sedang, namun rata-rata nilai di bawah KKM dan terdapat dua mata pelajaran inti IA yang harus mengulang. · Dari hasil tes psikologi, MW memiliki kecerdasan di atas rata-rata kelompoknya, tetapi memiliki hambatan di pengendalian emosi labil, kurang bisa bersosialisasi. · Dari orangtuanya diperoleh data bahwa MW sangat tergantung dari orang di lingkungannya, khususnya pada saat ada masalah terkait dengan tanda khusus di tubuhnya. · Kemauan belajar semenjak naik ke kelas XI menurun, suka menyendiri, dan menutup diri. · Untuk membantu mengatasi masalah yang dihadapi, MW berharap segera dibantu sehingga bisa berprestasi sebagaimana sebelum naik ke kelas XI. c. Kesimpulan · Dari hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa MW mengalami prestasi belajar rendah karena dipengaruhi oleh kemampuan penyesuaian diri yang kurang dan pengendalian emosi yang labil, khususnya terkait dengan tanda khusus di tubuhnya. Prognosa · Berdasar data dan analisis di atas perlu diberikan layanan konten, yaitu latihan memahami diri dan mengendalikan emosi. · Dengan mau dan mampu mengendalikan emosi dan memahami kondisi dirinya tentang sikap teman-temanya diharapkan dapat membangun motivasi belajar dan bersosialisasi. · Dengan tumbuhnya kepercayaan diri akan membangun keberanian menghadapi tantangan yang dihadapi, khususnya tantangan terkait tanda khusus di tubuhnya. Treatment/Konseling · Dilaksanakan konseling individual · Membangun/mengkondisikan lingkungan/teman-temanya, sehingga terbentuk kondisi yang mendukung proses menumbuhkan kepercayaan diri MW. Pemantauan dan pendampingan sesuai batas diperlukan oleh MW dalam proses membentuk diri MW menjadi survive di kehidupan sehari-hari, dengan menyadari apa yang ada pada dirinya bukan hal yang harus disesali. Kasus 2 1. DD adalah anak yang cukup cerdas di SMPnya dulu. Dalam kelasnya dia selalu memperoleh peringkat dan tumbuh sebagai anak yang periang dan mudah bergaul dengan teman-temannya. Berdasar dari kondisi yang seperti itu, maka oleh wali kelas tiganya dulu, dia disarankan untuk masuk ke SMA faforit di kota kabupatennya. Setelah di setujui oleh orang tuanya, maka oleh wali kelasnya dia didaftarkan pada sekolah favorit tersebut untuk mengikuti seleksi masuk SMA lewat jalur Penelurusan Bibit Unggul mewaliki sekolahnya. Dari 20 anak yang ikut seleksi, dia termasuk siswa yang kemudian dinyatakan diterima. 2. Dari data observasi : konseli kelihatan suka menyendiri, tidak suka bergaul dengan temanya. Apabila istirahat, dia lebih banyak berada di perpustakaan dari pada berada ditengah-tengah temannya. 3. Dari data absensi : konseli merupakan anak yang rajin masuk sekolah. 4. Keadaan orang tuanya secara ekonomi cukup mampu, dan bahkan untuk ukuran di desanya termasuk orang yang terpandang. Hanya saja tempat tinggalnya sangat jauh di pelosok desa. Jarak dari rumah kesekolah 50 km, sehingga dia harus indekos rumah kos sekitar 1 km dari sekolahnya. Tiap hari dia berangkat kesekolah dengan jalan kaki, dan sesekali naik sepeda onthel pemberian ayahnya. Dia tidak bisa naik sepeda motor, sehingga apabila ingin cepat atau akan bepergian agak jauh, maka dia naik sepeda. Diagnosa : 1. Akhir-akhir ini dia merasa dikucilkan dari teman-temannya. Teman-temannya sebagian besar anak kota, dengan tingkah laku dan sikap kehidupan orang kota. Melihat teman-temannya seperti itu, dia merasa minder dan menarik diri dari pergaulan. Apalagi dalam pembicaraan dengan temn-temanya sering tidak nyambung. Dia tidak punya HP, tetapi kata temannya memang dia tidak suka pada HP, sementara teman-temannya setiap hari membicarakan teknologi yang tinggi, tentang email, tentang facebook dan sebagainya. 2. Merasakan terisolir dari temannya, dia menjadi tambah menarik dir dari pergaulan. Dia merasa bahwa teman-temanya lebih hebat dari dirinya, sementara dirinya adalah sebagai anak desa. Dia merasa sangat kecil dibandingkan dengan teman-temannya. Dia merasa anak yang paling jelek di kelasnya. Dia merasa anak yang paling bodoh di lingkungannya. Dan dia suka menyalahkan dirinya sendiri. Prognosa : 1. Konseli memiliki masalah rendah diri yang cukup serius, sampai dia merasa enggan masuk sekolah dan bahkan punya rencana untuk pindah sekolah. 2. Konseli perlu dirubah cara berfikirnya dengan menggunakan pendekatan Rational Emotif, agar cara berfikirnya tidak lagi salah. Dia perlu diajak untuk berfikir rasional dan dilatih untuk mampu bergaul dengan teman sebaya. Rencana Treatment : 1. Konselor mengajak konseli, untuk berdiskusi dan melakukan konfrontasi langsung untuk menolongnya agar segera beranjak meninggalkan pola pikir yang irasional / tidak logis ke pola pikir yang rasional/logis melalui persuasif, sugestif, pemberian nasehat secara tepat. 2. Dengan pendekatan Konseling kognitif : untuk menunjukkan bahwa konseli harus membongkar pola pikir irasionalnya tentang konsep harga diri yang salah, sikap terhadap sesama teman yang salah jika ingin lebih bahagia dan sukses. 3. Klien diajak berfikir bahwa “Seseorang berharga bukan karena kekayaan atau jumlah dan status teman yang mendukung, tetapi pada kasih Allah dan perwujudan-Nya. Allah mengasihi saya, karena saya berharga di hadiratNya. Terhadap diri saya sendiri suatu saat saya senang, puas dan bangga, tetapi kadang-kadang acuh tak acuh, bahkan adakalanya saya benci, memaki-maki diri sendiri, sehingga wajar dan realistis jika sejumlah 32 orang teman satu kelas misalnya ada 40% yang baik, 50% netral, hanya 10% saja yang membenci saya. Adalah tidak mungkin menuntut semua/setiap orang setiap saat untuk baik pada saya”. Ide-ide ini terus dilatihkan dan diajarkan melalui cara-cara ilmiah. D. Latihan Buatlah Laisegnya dari dua kasus di atas dengan menggunakan LKPS Format Penilaian BK! E. Rangkuman • Penilaian layanan konseling adalah usaha untuk mengetahui bagaimana pemahaman, perasaan, dan kegiatan yang akan dilakukan klien setelah mendapat layanan konseling • Penilaian hasil kegiatan pelayanan konseling dilakukan penilaian segera (Laiseg), penilaian jangka pendek (Laijapen), dan penilaian jangka panjang (Laijapang). • Laiseg: Penilaian pada akhir kegiatan atau sebelum diakhirinya kegiatan pelayanan konseling untuk mengetahui perolehan peserta didik yang dilayani. • Fokus Laiseg: - U; diperolehnya informasi dan pemahaman baru (understanding) - C; dicapaianya keringanan beban perasaan (comfort) - A; Rencana kegiatan pasca konseling dalam rangka perwujudan upaya pengentasan masalah klien (action). • Laijapen: Penilaian dalam waktu tertentu (satu minggu sampai dengan satu bulan) setelah satu jenis layanan dan atau kegiatan pendukung konseling diselenggarakan untuk mengetahui dampak layanan/kegiatan terhadap peserta didik. • Laijapang: Penilaian dalam waktu tertentu (satu bulan sampai dengan satu semester) setelah satu atau bebe-rapa layanan dan kegiatan pendu-kung konseling diselenggarakan untuk mengetahui lebih jauh dam-pak layanan dan atau kegiatan pendukung konseling terhadap pe-serta didik F. Refleksi 1. Pemahaman apa yang bapak/ibu peroleh dari materi penilaian bimbingan dan konseling? 2. Menurut bapak/ibu bagaimanakah kedudukan penilaian BK di dalam menunjang pendidikan? 3. Langkah-langkah apa saja yang akan bapak/ibu lakukan agar penilaian BK dapat dilaksanakan? Daftar Pustaka Badrun Kartowagiran, Pedoman Khusus Pengembangan Instrumen dan Penilaian Ranah Psikomotor, Jakarta : Dikmenum, Ditjen Dikdasmen, 2004. Djemari Mardapi, Pedoman Khusus Pengembangan Instrumen dan Penilaian Ranah Afektif, Jakarta : Dikmenum, Ditjen Dikdasmen, 2004. ---------, Panduan Umum Layanan Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Puskur Balitbangdiknas, 2002. --------, Layanan Profesional Bimbingan dan Konseling, Jakarta : Puskur Balitbangdiknas, 2004


0 komentar:

Poskan Komentar