JASA ADMINISTRASI BP BK MURAH HUBUNGI KAMI DI 081222940294 DETAIL HARGA KLIK DISINI

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) SOSIOLOGI

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) SOSIOLOGI 


JASA PEMBUATAN ADMINISTRASI BP/BK DI SEKOLAH DAN PTK/BK

HUBUNGI KAMI DI 081222940294
WA: 081222940294
BBM: 5AA33306

Untuk Detail Harga Administrasi Dan Perangkat BK Klik Disini
Untuk Pilihan Judul Dan detail Harga PTK/BK Klik Disini
Atau Cek FB Kami Disini


1.1.     Latar Belakang Masalah
                        Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antar peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan.
                        Dalam pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan tingkah laku bagi peserta didik. Proses pembelajaran perlu dilakukan dengan tenang dan menyenangkan. Hal tersebut tentu saja menuntut aktifitas dan kratifitas guru dalam menciptakan lingkungan pengajaran yang kondusif dengan memanfaatkan semua potensi kelas yang ada. Untuk memenuhi tuntutan tersebut guru harus melakukan metode dan strategi belajar mengajar, diharapkan siswa dapat menguasai bahan pelajaran yang disampaikan guru.
                        Dalam kegiatan belajar mengajar akan melibatkan semua komponen pengajaran yang akan menentukan sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai. Dalam interaksi anak didik harus aktif dan kreatif, sedangkan guru hanya berperan sebagai motivator, mediator dan fasilitator. Masing-masing anak didik mempunyai karakteristik yang berbeda dari satu anak didik dengan anak didik yang lainnya. Perbedaan anak didik tersebut memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi pengajaran harus memperhatikan perbedaan anak didik.
                        Dalam pendidikan, guru akan kurang arif dan bijaksana bila menggunakan kekuasaan, karena hal tersebut dapat merugikan pertumbuhan dan perkembangan kepribadian anak didik. Pendekatan yang benar bagi guru adalah dengan melakukan pendekatan edukatif. Setiap tindakan, sikap dan perbuatan yang guru lakukan harus bernilai pendidikan dengan tujuan untuk mendidik anak didik agar menghargai norma hukum, norma susila, norma moral, norma sosial dan norma agama.
1.2.     Perumusan Masalah dan Pemecahan Masalah
1.2.1.      Perumusan Masalah
  1. Bagaimana efektivitas model pembelajaran berdasarkan masalah tentang materi pembelajaran rancangan penelitian sosial di kelas XII MA Al-Inaayah Gunung Sindur Bogor ?
  2. Apakah model pembelajaran berdasarkan masalah dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa?
  3. Faktor-faktor apakah yang mendorong  keaktifan siswa melalui model pembelajaran berdasarkan masalah tentang materi rancangan penelitian sosial di kelas XII MA Al-Inaayah Gunung Sindur Bogor ?
1.2.2.      Pemecahan Masalah

1.3.     Tujuan Penelitian
                        Adapun tujuan yang ingin di capai oleh penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Untuk mengetahui keefektifan model pembelajaran berdasarkan masalah dalam meningkatkan motivasi belajar siswa tentang materi rancangan penelitian sosial di kelas XII MA Al-Inaayah Gunung Sindur Bogor.
  2. Mengetahui kelebihan model pembelajaran berdasarkan masalah dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.
  3. Untuk mengetahui sejauhmana keaktifan siswa melalui model pembelajaran berdasarkan masalah tentang materi rancangan penelitian sosial di kelas XII MA Al-Inaayah Gunung Sindur Bogor.

1. 4.     Manfaat Penelitian
                        Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian tindakan kelas ini adalah :
  1. Siswa : Siswa mampu memecahkan masalah-masalah sosial tentang nilai dan norma sosial melalui model pembelajaran berdasarkan masalah..
  2. Guru   : Dapat menambah wawasan dalam mengembangkan model pembelajaran yang tepat untuk mengatasi berbagai permasalahan pembelajaran aktual yang dihadapi di kelas.
  3. Sekolah : Untuk meningkatkan mutu pendidikan di madrasah baik kualitas dan kuantitasnya serta mengembangkan kurikulum.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN RENCANA TINDAKAN

2.1.      Motivasi
            Konsep motivasi terinspirasi dari kesadaran para pakar ilmu, terutama pakar filsafat, bahwa tidak semua tingkah laku manusia dikendalikan oleh akal, akan tetapi tidak banyak perbuatan manusia yang dilakukan di luar kontrol manusia, sehingga lahirlah sebuah pendapat bahwa manusia di samping sebagai mahluk rasionalistik, ia juga sebagai mahluk yang mekanistik yaitu mahluk yang digerakan oleh sesuatu nalar (Chapin, 2001). Yang disebut naluri atau insting.
            Motivasi dapat didefinisikan dengan segala sesuatu yang menjadi pendorong tingkah laku yang menuntut seseorang untuk memenuhi kebutuhan. Menurut M. Utsman Najati, motivasi adalah kekuatan penggerak yang membangkitkan aktivitas mahluk hidup dan menimbulkan tingkah laku, serta mengarahkannya menuju tujuan tertentu.
            Motivasi memiliki tiga komponen yaitu : Pertama, menggerakan, dalam hal ini motivasi dapat menimbulkan kekuatan para individu, membawa seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu. Misalnya kekuatan dalam hal ingatan, respon-respon efektif dan kecenderungan mendapatkan kesengangan. Kedua, mengarahkan, motivasi mengarahkan tingkah laku. Dengan demikian ia menyediakan suatu orientasi tujuan. Ketiga, menopang artinya motivasi digunakan untuk menjaga dan menopang tingkah laku. Lingkungan sekitar harus menguatkan intensitas dan arah dorongan-dorongan dan kekuatan-kekuatan individu.
2.2.      Belajar        
            Belajar didefinisikan sebagai perubahan yang secara relatif berlangsung lama pada masa berikutnya yang diperoleh kemudian dari pengalaman-pengalaman. Di samping itu ada pula sebagian orang memandang belajar adalah semata-semata mengumpulkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau materi pelajaran, latihan membaca dan menulis. Berdasarkan persepsi semacam ini, biasanya mereka akan merasa cukup puas bila anak-anak mereka telah mampu memperlihatkan keterampilan jasmaniah, walaupun tanpa pengetahuan mengenai arti hakikat dan tujuan keterampilan tersebut.
            Jika kita renungkan sesungguhnya belajar adalah merupakan kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu sangat tergantung pada proses belajar yang dialami siswa. Baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
            Menurut ahli pendidikan adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru dari pengalaman-pengalaman dan latihan.
            Para ahli pendidik modern mendefinisikan belajar adalah merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, belajar merupakan suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman. Belajar adalah perubahan yang relatif dan mantap, belajar menyangkut aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis, seperti perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah atau berfikir, keterampilan, kecakapan, kebiasaan ataupun sikap. Belajar adalah proses memperoleh pengetahuan, belajar suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat dan belajar adalah merupakan proses yang secara umum menetap, ada kemampuan bereaksi, adanya suatu yang diperkuat dan dilakukan dalam bentuk praktek dan latihan.

2.3.      Model Pembelajaran Pemecahan Berdasakan Masalah
            Model pembelajaran zigsaw dikembangkan oleh Aronson tahun 1978. dalam metode ini siswa dibagi dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok diberi tugas yang berbeda. Siswa-siswa yang mendapat tugas yang sama berkumpul membentuk kelompok-kelompok baru dan bekerjasama menyelesaikan tugasnya, kemudian setiap siswa kembali ke kelompok semula sebagai “expert” di bidangnya masing-masing.
Langkah-langkan model pembelajaran zigsaw adalah :
1).     Siswa dibagi atas 6 kelompok (tiap kelompok anggotanya 5 orang)
2).     Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab.
3).     Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
4).     Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya.
5).     Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar teman-temannya
6).     Setelah selesai berdiskusi, guru memberikan penjelasan
7).     Guru memberikan quiz
8).     Evaluasi
9).     Penutup
            Metode pemecahan masalah merupakan metode yang menarik untuk digunakan jika materi yang akan dipelajari dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan materi tersebut tidak mengharuskan urutan penyampaian. Kelebihan metode ini adalah dapat melibatkan seluruh siswa dalam belajar sekaligus mengajarkan kepada orang lain.
            Pengetahuan yang didapat siswa semakin berkembang, setiap materi yang didapat dianalisa sesuai dengan bidang-bidang tertentu berdsasarkan pengalaman-pengalaman siswa. Dengan model pembelajaran ini motivasi siswa semakin meningkat dan hasil pembelajarannya diharapkan lebih bermakna.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1.      Setting Penelitian
                        Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dilaksanakan di kelas XII IPS MADRASAH ALIYAH Al-INAAYAH yang berlokasi di Jalan Pon-Pes Al-Inaayah Pondok Miri Rawakalong Kecamatan Gunung Sindur Bogor.
                        Jumlah siswa 30 orang dengan latar belakang sosial ekonomi, suku dan budaya yang heterogen.
3.2.      Persiapan Penelitian
                        Untuk memperlancar pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, kami telah mempersiapkan instrumen dan penilaian.
3.3.      Siklus Penelitian
            Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini menggunakan dua kali siklus, yaitu :
3.3.1.   Siklus pertama yang meliputi :
             A. Pendahuluan
                  Mempersiapkan konsep materi yang akan dijadikan bahan pembelajaran yaitu :
                  KD         : Menjelaskan proses perubahan sosial di masyarakat.
                  Indikator : Mendeskripsikan bentuk-bentuk perubahan sosial
             B. Langkah Utama
1).  Guru membagi siswa atas 6 kelompok (tiap kelompok anggotanya 5 orang).
2).  Guru memberikan materi pelajaran kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab.
3).  Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
4). Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya.
5).  Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali ke kelompoknya bertugas mengajar teman-temannya.
6).  Setelah selesai berdiskusi, guru memberikan penjelasan

C. Langkah Penutup
            Guru memberikan penilaian kepada kelompok-kelompok siswa yang kreatif dan aktif dalam diskusi.

            3.3.2.   Siklus kedua menunggu refleksi siklus ke-1

3.4.      Pembentukan Instrumen  
                        Untuk mendapatkan data yang valid dan akurat dari siswa, guru / kolaborator meneliti menggunakan instrumen berupa :
            a. Catatan yang meliputi “Persiapan, Pelaksanaan dan Penelitian”
            b. Lembar Evaluasi
            c. Lembar Observasi
            d. Angket

3.5.      Analisa dan Refleksi
            Data yang dicatat tiap langkah meliputi :
            a. Data hasil pemahaman materi belajar
b. Data hasil motivasi belajar dalam melaksanakan tugas mencari contoh kasus di masyarakat tentang perubahan sosial dan diskusi.
            Data di atas dianalisis secara berkala setiap langkah. Hal ini bertujuan untuk mengetahui hasil yang sebenarnya berdasarkan tujuan kegiatan belajar mengajar (KBM) yang hendak dicapai. Jika tujuan tersebut dapat dilaksanakan dengan baik maka kualitas dan kuantitas pendidikan di sekolah akan menjadi lebih baik.

BAB IV
HASIL PENELITIAN
            Model pembelajaran zigsaw terlihat asing bagi siswa kelas XII IPS MA AL-INAAYAH PONDOK MIRI RAWAKALONG, karena belum pernah. Tahap awal praktek peneliti agak banyak menjelaskan pada siswa tentang cara belajar di lapangan untuk memperoleh pengalaman belajar, seperti bagaimana menggunakan ala-alat, bagaimana melakukan demonstrasi, bagaimana melakukan wawancara, bagaimana mencatat hasil penelitian, membuat kesimpulan, berdiskusi dan menyampaikan hasil pembahasan (mempresentasikan). MA AL-INAAYAH PONDOK MIRI RAWAKALONG GUNUNG SINDUR BOGOR belum mempunyai laboratorium IPS, sehingga siswa tidak dapat melakukan pratikum di laboratorium tersebut. Setelah siswa dianggap cukup untuk memahami model pembelajaran zigsaw, selanjutnya pembelajaran diberikan pada pertemuan berikutnya.
            Pertemuan berikutnya (2 jam pelajaran)
1). Disajikan dan dijabarkan KD hingga siswa memahami akan apa yang akan dipelajari.
2). Menginterpretasikan materi pelajaran yang akan dijabarkan
3). Menata indikator sesuai dengan kelompok-kelompoknya
4). Membentuk kelompok
5). Memonitor seluruh tugas siswa
6). Mendiagnosa kesulitas siswa
7). Melakukan penilaian

            Angket siswa tehadap pelajaran sosiologi
a. Diberikan sebelum memulai pembelajaran
     Hasilnya : kurang termotivasi
b. Observasi aktivitas guru dalam perencanaan sangat baik, sedangkan dalam pelaksaan diperoleh hasil cukup baik.
c. Observasi motivasi siswa dalam belajar diperoleh hasil cukup baik

Refleksi I
            Dari data observasi motivasi siswa dalam belajar sosiologi diperoleh hasil cukup baik, hal ini disebabkan karena dalam membuat laporan dan mempresentasikan hasil penemuannya kurang terbiasa, siswa menemukan beberapa kesulitan dan ketika dicoba lagi akhirnya mereka mulai mengerti.
Refleksi II
            Dari data observasi motivasi siswa diperoleh hasil baik, hal ini karena siswa sudah pernah melakukan kegiatan tersebut dengan lancar dan siswa mulai senang dan semakin termotivasi, bahkan mereka ingin mencoba lagi melakukan metode pembelajaran tersebut.


BAB V
PENUTUP

5.1  Kesimpulan
               Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan di kelas XII MA. AL-INAAYAH PONDOK MIRI RAWAKALONG GUNUNG SINDUR BOGOR dengan menggunakan metode zigsaw ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Pada siklus pertama belum bisa mencapai hasil seperti yang diharapkan, karena siswa belum terbiasa. Setelah ada motivasi maka pelaksanaan siklus kedua ada perubahan yang sangat berarti ke arah yang sangat baik. Siswa sudah menunjukan peningkatan dari hasil belajar sosiologi dan siswa sangat termotivasi.
5.2   Saran
                        Sehubungan dengan penelitian yang dilakukan, maka peneliti memberikan saran yang berkaitan dengan usaha peningkatan motivasi belajar bagi siswa sebaiknya menerapkan model zigsaw. Kemajuan dalam proses belajar mengajar dapat dialami oleh peneliti sendiri sebagai guru bidang studi sosiologi. Hal tersebut untuk menghilangkan kejenuhan dalam pembejaran, dan untuk meningkatkan kreativitas dan keaktifan siswa dalam pembelajaran.
  

DAFTAR PUSTAKA
Alisuf Sabri, “Psikologi Pendidikan”, Jakarta, Logos Wacana Jaya, 1996
Burhanudin dan Soejoto, “Upaya Meningkatkan Minat Belajar Geografi Melalui Model Pembelajaran Group Investigation”, kelas XI IPS Muhamadiyah II Mojosari-Mojokerto. Jawa Timur, 2006.
Depdiknas, “Kamus Besar Bahasa Indonesia” Edisi ke-3, Jakarta, 2001
Djamarah Syaiful Bahri, “Strategi Belajar Menghajar”, Jakarta, Rineka Cipta, 2002.
H. Nasar, “Peran Motivasi dan Kemampuan Awal Belajar”, Jakarta Delia Press, 2004
KTSP SMA/MA Diknas 2006
Malau Jawane, “Model, Strategi dan Metode Pembelajaran”, Diknas. Dirjen Pendidikan dasar dan Menengah, Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan, DKI Jakarta
Rocyadi Yadi, “Model-Model Pembelajaran”, Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor
Sumadi Surya Brata, “Psikologi Pendidikan”, Jakarta, raja Grasindo Persada, 2002
Shaleh Abdul Rahman – Wahab Muhbib Abdul, “Psikologi Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam”, Jakarta, Kencana, 2004
Tim Rayon 9 Penelitian Tindakan Kelas, “Pendidikan dan Pelatihan Profesi Guru”, Jakarta, 2007
W.S. Winkel, “Psikologi Pengajaran Agama Islam”, Jakarta, Grasindo Persada, 1996



0 komentar:

Poskan Komentar